Periskop.id - Harga minyak dunia ditutup melemah lebih dari 2% pada perdagangan Kamis (9/7/2026). Kekhawatiran inflasi yang masih tinggi dan perlambatan ekonomi dinilai lebih menekan pasar dibandingkan risiko gangguan pasokan akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Berdasarkan data yang dilansir Reuters, minyak mentah Brent terkoreksi US$1,92 atau 2,5% ke level US$76,10 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah US$1,61 atau 2,2% ke posisi US$71,91 per barel.
"Kami memperkirakan ketegangan baru di Timur Tengah antara AS dan Iran akan relatif singkat karena kedua negara sama-sama dibatasi oleh realitas ekonomi dan politik," ujar Global Energy Strategist Macquarie Group Vikas Dwivedi, dikutip Reuters, Kamis (9/7).
Pelemahan ini terjadi meski ketegangan geopolitik kembali memanas. Militer Iran melancarkan serangan terhadap fasilitas militer AS di sejumlah negara Teluk pada Kamis (9/7), sebagai balasan atas serangan udara AS ke wilayah pesisir selatan dan provinsi timur Iran sehari sebelumnya.
Serangan itu sekaligus memperburuk gencatan senjata yang telah berlangsung selama tiga pekan. Insiden tersebut bertepatan dengan pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di Mashhad, yang dilaporkan tewas pada hari pertama perang yang dimulai 28 Februari lalu.
Di sisi pasokan, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Iran menyatakan serangan AS serta intervensi terhadap lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz telah menghambat proses pembukaan kembali jalur strategis tersebut. Sebelum perang pecah, sekitar 20% pasokan minyak global melintas melalui selat itu.
Analis Goldman Sachs memperkirakan arus pengiriman minyak dari Teluk Persia sempat pulih hingga lebih dari 80% dibandingkan kondisi sebelum perang dalam 10 hari pertama sejak Selat Hormuz kembali dibuka. Namun, setelah serangkaian serangan terbaru terhadap kapal tanker, arus tersebut kembali turun ke kisaran lebih dari 70% dari kondisi normal.
Dari sisi permintaan, risalah rapat Federal Reserve pada 16-17 Juni mengungkap para pejabat bank sentral semakin mencemaskan tekanan inflasi. Mereka secara umum memproyeksikan pasar tenaga kerja tetap stabil dalam waktu dekat, dengan tingkat pengangguran yang tidak jauh berbeda dari posisi saat ini.
Presiden Federal Reserve New York John Williams menyampaikan dirinya tidak memperkirakan kenaikan harga energi akan bertahan lama meski konflik di Timur Tengah kembali memanas. Namun, ia belum memberikan sinyal mengenai arah suku bunga pada pertemuan The Fed akhir bulan ini.
Tekanan juga datang dari Asia. Inflasi harga produsen China pada Juni melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir, yang semakin menekan margin keuntungan sektor manufaktur di tengah lemahnya permintaan domestik. China dan Taiwan juga tengah bersiap menghadapi Topan Bavi dengan kecepatan angin hingga hampir 200 kilometer per jam.
Di Eropa, militer Ukraina menyerang belasan kapal tanker Rusia di Laut Azov pada hari yang sama. Serangan itu merupakan bagian dari upaya mengganggu pasokan bahan bakar bagi pasukan Rusia dan mengisolasi Krimea yang dikuasai Moskow.
Pasar juga mencermati prospek berakhirnya perang Ukraina. Jika sebagian sanksi terhadap Rusia dicabut, Moskow berpotensi menggenjot ekspor minyaknya ke pasar global. Rusia tercatat sebagai produsen minyak mentah terbesar ketiga di dunia setelah AS dan Arab Saudi pada 2025.
Adapun dari Eropa, Komisi Eropa tengah menyiapkan serangkaian kebijakan dan skema pendanaan untuk mempercepat transisi penggunaan listrik menggantikan minyak dan gas di kawasan Uni Eropa. Jika berhasil diterapkan, langkah tersebut berpotensi menekan permintaan minyak di Eropa dalam jangka panjang.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar