Periskop.id - Indonesia kembali mencatat penemuan penting di bidang keanekaragaman hayati. Tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mengidentifikasi spesies baru, terong berduri dari genus Solanum yang berasal dari Kalimantan dan belum pernah terdokumentasi secara ilmiah sebelumnya.
Spesies baru tersebut diberi nama Solanum kalimantanense T.Djarwaningsih, E.L.Agustiani & M.R.Hariri. Penamaan itu merujuk pada para peneliti BRIN yang terlibat dalam riset, yakni Tutie Djarwaningsih, Esthi L. Agustiani, dan Muhammad Rifqi Hariri.
Peneliti BRIN Muhammad Rifqi Hariri mengatakan, spesies ini memiliki karakter morfologi yang berbeda dibanding kerabat terdekatnya. Termasuk ukuran daun yang cenderung hampir sama panjang dan lebarnya, lekukan daun yang dangkal, hingga buah matang yang berbulu halus dengan ukuran lebih besar dibanding spesies Solanum lasiocarpum.
"Temuan ini menunjukkan Indonesia masih memiliki potensi biodiversitas yang sangat besar dan belum seluruhnya terdokumentasi secara ilmiah, termasuk dari kelompok tumbuhan yang telah dikenal dan dimanfaatkan masyarakat,"kata Rifqi dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (24/5).
Tak hanya dari sisi bentuk fisik, tim peneliti juga menemukan perbedaan genetik yang cukup signifikan melalui analisis DNA menggunakan penanda Internal Transcribed Spacer (ITS). Pendekatan itu membantu memastikan bahwa tanaman tersebut memang merupakan spesies baru.
Peneliti BRIN Esthi L. Agustiani menjelaskan, identifikasi dilakukan melalui kombinasi pengamatan morfologi dan teknologi DNA barcoding untuk membedakan spesies tersebut dari tanaman terong liar lainnya yang masih berkerabat dekat.
"Pendekatan integratif melalui pengamatan morfologi dan DNA barcoding membantu kami membedakan spesies ini dari kerabat dekatnya secara lebih akurat," ujar Esthi.
Menariknya, tanaman ini ternyata sudah lama dikenal masyarakat lokal di Kalimantan dengan nama terong asam atau terong Dayak. Peneliti BRIN Tutie Djarwaningsih mengatakan buah tanaman tersebut banyak dijumpai di pasar tradisional, termasuk pasar terapung di Banjarmasin, dan umum dimanfaatkan sebagai bahan pangan.
Obat Tradisional
Selain dikonsumsi, masyarakat adat di Kecamatan Kenohan, Kalimantan Timur, juga menggunakan daun dan kuncup buah tanaman ini sebagai obat tradisional yang dikenal dengan istilah wikat untuk pengobatan kanker.
"Buahnya banyak dijumpai di pasar terapung Banjarmasin dan umum diolah sebagai sayuran," kata Tutie.
Berdasarkan hasil penelitian, Solanum kalimantanense ditemukan tumbuh di berbagai jenis tanah, mulai dari tanah lempung berpasir hingga tanah hitam asam. Tanaman ini hidup pada rentang ketinggian 9 hingga 1.700 meter di atas permukaan laut dan tersebar di sejumlah wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.
Namun demikian, BRIN menilai populasi spesies ini masih terbatas sehingga berpotensi masuk kategori rentan (vulnerable) menurut kriteria International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Penemuan spesies baru ini memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu negara megabiodiversitas terbesar di dunia. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia menyimpan sekitar 10% spesies tumbuhan berbunga dunia dan menjadi rumah bagi ribuan flora endemik yang belum seluruhnya teridentifikasi.
Dalam beberapa tahun terakhir, peneliti Indonesia juga menemukan sejumlah spesies baru dari Kalimantan, Papua, dan Sulawesi, mulai dari anggrek liar, kantong semar, hingga spesies reptil dan serangga endemik. Temuan-temuan tersebut dinilai penting tidak hanya untuk ilmu pengetahuan, tetapi juga pengembangan pangan, obat-obatan, hingga konservasi lingkungan.
Hasil penelitian BRIN terkait Solanum kalimantanense telah dipublikasikan dalam jurnal internasional TaprobanicaVolume 15 Nomor 1 Tahun 2026.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar