Periskop.id - International Monetary Fund (IMF) mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di angka 5,0% untuk tahun 2026. Lembaga keuangan internasional itu sekaligus memperkirakan produk domestik bruto (PDB) Indonesia bakal tumbuh 5,1% pada 2027.

Proyeksi tersebut tercantum dalam laporan World Economic Outlook (WEO) Update edisi Juli 2026, bertajuk Global Economy in Crosscurrents of War and Technology. Angkanya tidak berubah dari estimasi yang diterbitkan IMF dalam laporan WEO edisi April 2026.

Dalam laporan yang sama, IMF menguraikan dua kekuatan besar yang saling berlawanan dan tengah membentuk arah perekonomian global saat ini. "Pertama adalah guncangan pasokan negatif yang disebabkan oleh perang di Timur Tengah. Kedua adalah guncangan teknologi positif yang terus berlanjut, yang bermanifestasi dalam percepatan momentum siklus teknologi global, yang sebagian besar didorong oleh kemajuan dan penyebaran alat akal imitasi," tulis IMF dalam laporan World Economic Outlook Update edisi Juli 2026, Kamis (9/7).

Di tengah dinamika global itu, posisi Indonesia dinilai cukup kuat secara regional. Proyeksi 5% untuk RI berada di atas rata-rata kelompok negara berkembang Asia (Emerging and Developing Asia), yang diperkirakan hanya tumbuh 4,8% pada 2026.

Proyeksi itu juga melampaui rata-rata kawasan ASEAN-5, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand, yang diestimasikan hanya menyentuh 4,3% pada tahun ini.

Meski begitu, angka 5% dari IMF masih berada di bawah target yang dipatok pemerintah. Dalam APBN 2026, pemerintah bersama DPR menetapkan sasaran pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4%.

Pada level global, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia melambat ke 3,0% pada 2026, sebelum diperkirakan pulih perlahan ke 3,4% pada 2027.

IMF mengingatkan, meski perekonomian dunia sejauh ini mampu bertahan lebih baik dari perkiraan di tengah berbagai guncangan, keseimbangan risiko terhadap prospek ke depan masih condong ke bawah (tilted to the downside).

Risiko utama yang disorot IMF bersumber dari kemungkinan memanasnya kembali konflik di Asia Barat. Skenario itu berpotensi memperpanjang volatilitas harga komoditas, mengganggu rantai pasok, mendorong inflasi, serta membebani kondisi keuangan global.

Laporan IMF edisi Juli 2026 ini menjadi salah satu referensi penting dalam memotret posisi Indonesia di antara negara-negara berkembang, terutama ketika tekanan eksternal dari konflik geopolitik dan percepatan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) terus bergerak dalam dua arah yang berbeda.