periskop.id - Perubahan pola kerja global semakin menegaskan bahwa fleksibilitas kini menjadi faktor utama dalam perekrutan tenaga kerja digital. Model kerja hybrid atau fleksibel dinilai lebih menarik dibandingkan sekadar penawaran gaji tinggi, terutama bagi talenta di bidang kecerdasan buatan (AI), analisis data, dan pemrograman.
Riset terbaru International Workplace Group (IWG) menunjukkan bahwa 37% perusahaan menjadikan sistem kerja hybrid sebagai strategi utama untuk merekrut talenta teknologi terbaik. Angka ini melampaui penawaran gaji kompetitif yang hanya berada di 35%.
“Perusahaan yang tidak mengintegrasikan kerja hybrid ke dalam budaya mereka berisiko tertinggal dalam persaingan merekrut talenta teknologi dan mengakses keterampilan yang mereka butuhkan untuk tetap kompetitif,” ujar Founder dan CEO IWG, Mark Dixon dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (26/5).
Penelitian tersebut juga mengungkap bahwa 78% pemimpin bisnis menilai perusahaan dengan sistem kerja hybrid memiliki keunggulan lebih besar dalam perekrutan dibandingkan perusahaan yang masih menerapkan pola kerja konvensional penuh di kantor. Selain itu, 72% pemimpin bisnis menyebut fleksibilitas kerja menjadi faktor penting dalam menarik talenta teknologi, terutama dari kalangan generasi muda.
Lebih dari dua pertiga responden, atau 68%, menilai gaji tinggi saja tidak lagi cukup untuk mempertahankan talenta digital terbaik. Tren ini sejalan dengan preferensi profesional teknologi berusia di bawah 30 tahun, yang lebih mengutamakan keseimbangan kehidupan dan pekerjaan serta fleksibilitas kerja sebagai budaya perusahaan ideal. Persentasenya mencapai 42%, jauh lebih tinggi dibanding kompensasi finansial yang hanya 30%.
IWG juga mencatat bahwa persaingan mendapatkan talenta teknologi semakin ketat seiring meningkatnya kebutuhan perusahaan terhadap keterampilan digital tingkat lanjut. Sebanyak 83% pemimpin bisnis menyebut kemampuan teknologi seperti AI, analisis data, dan pemrograman menjadi faktor penting dalam promosi ke posisi kepemimpinan.
Bahkan, satu dari lima pemimpin bisnis menilai keterampilan teknologi kini lebih penting dibanding gelar sarjana konvensional dalam menentukan kualitas kandidat tenaga kerja.
Fenomena ini juga mendorong perubahan siklus karier. Hampir seperempat perusahaan mulai menempatkan profesional teknologi berusia di bawah 30 tahun ke posisi kepemimpinan lebih awal dari pola tradisional. Data dari World Economic Forum 2025 mendukung tren ini, dengan catatan bahwa lebih dari 60% perusahaan global kini menilai keterampilan digital sebagai indikator utama dalam menentukan jenjang karier.
“Tren tersebut menunjukkan perubahan pola kerja global yang semakin menempatkan fleksibilitas dan keterampilan teknologi sebagai faktor utama dalam membangun daya saing perusahaan di masa depan,” tegas Dixon.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar