Periskop.id - Pemerintah Indonesia dijadwalkan meresmikan peletakan batu pertama atau groundbreaking proyek gas abadi Blok Masela di Laut Arafuru, Maluku, pada Kamis, 16 Juli 2026. Presiden Prabowo Subianto akan hadir langsung dalam acara tersebut.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyebutkan, persiapan menjelang acara terus dimatangkan. Ia menjelaskan, koordinasi dilakukan dengan berbagai pihak, termasuk Panitia Groundbreaking yang dipimpin Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) Pattimura.
"Saat ini kami sedang koordinasi dengan Ketua Panitia acara Groundbreaking Proyek Masela Bapak Pangdam Patimura di Bandara Soekarno-Hatta. Saat ini logistik dari Bandara Soekarno-Hatta dalam proses pengiriman ke lokasi Saumlaki Maluku," ujar Djoko dalam keterangan tertulis, dikutip Rabu (15/7).
Total logistik yang dikirim mencapai sekitar 93 ton, terdiri dari tenda, karpet, genset, AC, dan berbagai perlengkapan pendukung lainnya. Sebagian barang tersebut diangkut melalui jalur laut menuju lokasi acara.
Persiapan di lapangan turut disesuaikan dengan desain acara mengingat kehadiran orang nomor satu di Indonesia itu. Djoko berharap dukungan publik agar rangkaian groundbreaking berjalan lancar.
Blok Masela sendiri dikuasai Inpex Masela Ltd sebagai pemegang hak partisipasi terbesar, yakni 65%. Sebelumnya, Shell Upstream Overseas Services memegang 35% saham, namun perusahaan asal Belanda-Inggris itu memutuskan hengkang dari proyek tersebut.
Saham Shell itu kemudian diambil alih PT Pertamina Hulu Energi melalui anak usahanya, PT Pertamina Hulu Energi Masela, sebesar 20%, dan Petronas sebesar 15%. Perjanjian jual beli hak partisipasi ini diteken pada 25 Juli 2023, sementara persetujuan Menteri ESDM atas pengalihan tersebut terbit 4 Oktober 2023.
Lapangan Abadi di Blok Masela merupakan lapangan gas laut dalam dengan cadangan terbesar di Indonesia. Lokasinya berada sekitar 160 kilometer dari lepas pantai Pulau Yamdena di Laut Arafura, dengan kedalaman laut mencapai 400-800 meter dan potensi gas diperkirakan 6,97 triliun kaki kubik.
Kontrak bagi hasil proyek ini diteken pada 1998. Inpex kemudian menemukan cadangan gas jumbo di Blok Masela pada 2000, namun Pemerintah baru menyetujui Rencana Pengembangan pertama pada 19 tahun berikutnya, untuk memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun, 150 juta standar kaki kubik gas pipa per hari, serta 35.000 barel kondensat per hari.
Konsep pengembangan lapangan baru dengan kompleksitas tinggi ini mencakup pengeboran laut dalam, fasilitas subsea, floating production storage and offloading, hingga kilang LNG di darat. Proyek ini diperkirakan bakal menyerap hingga 10.000 tenaga kerja.
Blok Masela juga direncanakan menerapkan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon untuk mendukung program pemerintah menekan emisi. Teknologi ini disetujui Pemerintah pada 28 November 2023, dan proses tendernya berlanjut hingga Inpex meluncurkan front end engineering design proyek tersebut pada 9 April 2025.
"Persiapan di lapangan kami lakukan dengan desain kehadiran Bapak Presiden. Mohon doa dan dukungan Bapak Ibu, Insya Allah groundbreaking akan dilaksanakan pertengahan bulan Juli 2026," tutup Djoko.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar