periskop.id - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memburu keberadaan Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Silmy Karim. Langkah agresif ini berkaitan erat dengan operasi tangkap tangan di Kantor Imigrasi Jakarta Barat.
Juru Bicara KPK Budi Prasetyo mengungkapkan, tim penyidik mendeteksi posisi target berada di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Otoritas antirasuah mendesak sang pejabat segera bersikap kooperatif memenuhi panggilan hukum.
"Oleh karena itu, kami juga mengimbau agar yang bersangkutan juga bisa kooperatif ya, barangkali bisa menyerahkan diri ke KPK sehingga bisa membantu proses penanganan perkara ini," tutur Budi saat merilis perkembangan operasi tangkap tangan di Gedung KPK, Jakarta Selatan, Rabu (3/6).
Budi menyebutkan, peran aktif Silmy dalam pusaran kasus dugaan suap tersebut masih didalami secara intensif. Keterangan dari sang wamen dinilai krusial untuk melengkapi berkas penyidikan tim lapangan.
Menurutnya, operasi tangkap tangan berskala besar ini dilancarkan secara simultan di berbagai daerah strategis. Wilayah perburuan dilaporkan mencakup area Jakarta Barat, Jawa Barat, hingga Bali.
Ia memaparkan, petugas di lapangan berhasil mengamankan belasan orang dalam rangkaian operasi senyap tersebut. Kepala Kantor Imigrasi Jakarta Barat disebut ikut terseret dalam daftar pihak yang ditangkap.
Aset bernilai ekonomis tinggi ikut disita petugas dari lokasi sebagai komoditas barang bukti, lanjut Budi. Barang yang diamankan berupa unit mobil, sepeda motor, tumpukan uang tunai mata uang asing, hingga logam mulia berupa emas.
Budi menambahkan, skandal pidana ini berakar dari dugaan suap pengurusan izin tinggal warga negara asing di Indonesia. Konstruksi perkara secara detail dijanjikan bakal dibuka gamblang saat konferensi pers mendatang.
Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto menyatakan, kementeriannya sudah memantau pergerakan hukum yang menjerat anak buahnya. Pihak internal instansi dipastikan bakal menghormati penuh seluruh hak penegakan hukum di KPK.
"Kita hormati proses hukum yang berjalan, arahan kita jelas," pungkas Agus.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar