Humaniora

Hidup dari Gaji ke Gaji Bikin Gen Z Tunda Nikah hingga Beli Rumah

Laporan Survei Deloitte 2026 mengungkap 47% Gen Z hidup pas-pasan dari gaji ke gaji, memicu penundaan keputusan besar mulai dari menikah hingga karier.

1 bulan yang lalu · 2 mnt baca
Hidup dari Gaji ke Gaji Bikin Gen Z Tunda Nikah hingga Beli Rumah
Laporan Survei Deloitte 2026 mengungkap 47% Gen Z hidup pas-pasan dari gaji ke gaji, memicu penundaan keputusan besar mulai dari menikah hingga karier.
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Biaya hidup masih menjadi tekanan terbesar bagi Gen Z dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi finansial yang ketat tidak hanya memengaruhi cara mereka mengatur pengeluaran harian, tetapi juga berdampak pada rencana jangka panjang, termasuk membeli rumah, memilih pekerjaan, menikah, membangun keluarga, hingga melanjutkan pendidikan.

Menurut temuan Deloitte dalam laporan bertajuk “2026 Gen Z and Millennial Survey” menunjukkan tingginya persentase anak muda yang belum memiliki bantalan keuangan yang aman.

Deloitte mencatat bahwa hampir separuh dari total responden, atau sebanyak 47% Gen Z, melaporkan bahwa saat ini mereka terpaksa hidup pas-pasan dari gaji ke gaji. 

Kondisi ini membuat mereka tidak memiliki ruang fiskal pribadi yang cukup untuk menabung secara agresif ataupun melakukan investasi jangka panjang.

Keterbatasan finansial bulanan tersebut secara otomatis memicu efek domino, salah satunya adalah pudarnya impian untuk memiliki aset pribadi berupa properti. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa sebanyak 51% Gen Z secara terbuka mengakui bahwa mereka tidak mampu membeli rumah sendiri. 

Kesulitan dalam memperoleh hunian yang layak dan terjangkau ternyata tidak berhenti pada masalah tempat tinggal saja, melainkan ikut berdampak langsung pada peta karier mereka.

Mayoritas dari responden, yakni mencapai 69% Gen Z, menyatakan bahwa ketersediaan serta tingkat keterjangkauan harga hunian berdampak langsung pada keputusan karier yang mereka ambil. 

Faktor-faktor tersebut ikut menentukan perusahaan mana yang akan mereka pilih dan lokasi geografis di mana mereka akhirnya dapat menerima tawaran untuk bekerja. Akibatnya, banyak talenta muda yang terpaksa membatasi pilihan karier mereka hanya karena biaya tempat tinggal di kota besar sudah tidak lagi masuk akal bagi kantong mereka.

Dampak yang paling mendalam dari fenomena gaji yang pas-pasan ini adalah munculnya tren penundaan berbagai fase penting dalam siklus kehidupan seorang manusia dewasa.

Deloitte mengungkapkan bahwa lebih dari separuh Gen Z, yaitu sebesar 55%, menyatakan bahwa mereka memilih untuk menunda keputusan-keputusan besar dalam hidup mereka.

Temuan ini merefleksikan betapa dalamnya pengaruh tekanan ekonomi dalam membentuk ulang struktur sosial dan masa depan generasi penerus bangsa.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Gen Z, dan keuangan genz dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.