periskop.id - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menegaskan kesepakatan perdagangan resiprokal (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat murni berlandaskan politik luar negeri bebas aktif demi kepentingan nasional. 

Juru Bicara Kemlu RI Yvonne Mewengkang memastikan kerja sama bilateral tersebut sama sekali tidak bermaksud mengancam atau menargetkan negara pihak ketiga.

"Hal itu juga tidak berarti kita punya keberpihakan strategis terhadap blok tertentu yang membuat negara lain bisa melihat ‘kamu dengan negara ini, saya terancam’ atau ‘kamu dengan pihak A atau B maka saya terancam’," katanya dalam taklimat media pada taklimat rutin di Jakarta, Jumat (27/2). 

Pernyataan ini muncul merespons tanggapan kritis pemerintah China terkait perjanjian dagang RI-AS. Beijing sebelumnya menyoroti kemungkinan pembatasan impor dari Indonesia seperti kebijakan ekonomi Amerika Serikat terhadap mitra dagang lain.

Yvonne menjamin Indonesia selalu berupaya memperluas kemitraan strategis secara merata. Hubungan baik tetap terjaga erat bersama Amerika Serikat, China, maupun negara mitra lainnya.

Kesepakatan ART sepatutnya tidak dipandang sebagai manuver mengusik kepentingan ekonomi bangsa lain. Kerja sama tersebut murni terjalin secara khusus dalam konteks penguatan hubungan bilateral kedua negara.

“ART tidak akan mengubah prinsip politik kita. Bebas-aktif tetap dan akan terus menjadi kompas kita,” tegasnya.

Kerja sama ekonomi tingkat tinggi ini justru berfungsi sebagai instrumen pencapaian target kemakmuran bangsa. Kepentingan nasional Indonesia selalu menjadi prioritas utama penandatanganan berbagai pakta perdagangan internasional.

Juru Bicara II Kemlu RI Vahd Nabyl A. Mulachela turut memberikan pandangannya melengkapi penjelasan tersebut. Indonesia senantiasa mencari titik temu kepentingan bersama seluruh negara mitra.

“Sehingga dengan China maupun AS, kita memiliki kesamaan kepentingan yang kita coba bangun demi membentuk kerja sama bilateral,” tuturnya.

Komentar pihak Kementerian Luar Negeri China sebelumnya tersampaikan secara terbuka melalui Juru Bicara Mao Ning. Sang juru bicara merespons langsung pertanyaan wartawan terkait kesepakatan ART pada konferensi pers di Beijing, Selasa (24/2) lalu.

"China selalu mengatakan kerja sama perdagangan ekonomi yang bersifat saling menguntungkan antara semua negara maupun kerja sama terkait bidang lain tidak boleh menargetkan pihak ketiga mana pun atau merugikan kepentingan negara lain mana pun," ungkapnya.