Periskop.id - Sedikitnya empat kapal tanker minyak dan gas alam cair (LNG) memilih berbalik arah di Selat Hormuz pada Selasa (8/7) dan Rabu (9/7). Pembalikan rute itu terjadi menyusul laporan Iran menembakkan rudal ke arah kapal-kapal di jalur pelayaran strategis tersebut, hingga otoritas maritim menaikkan tingkat ancaman ke level "severe".
Tiga di antara kapal yang berbalik adalah armada LNG milik QatarEnergy, yakni Al Ghariya, Duhail, dan Al Ruwais. Data pelacakan kapal menunjukkan ketiganya membatalkan pelayaran menuju Selat Hormuz pada Selasa malam.
Ketiga kapal dalam kondisi kosong itu semula bertolak menuju fasilitas ekspor Ras Laffan, Qatar, untuk memuat kargo LNG. Namun rencana itu dibatalkan setelah situasi keamanan di jalur tersebut dinilai memburuk.
Satu kapal tanker minyak berukuran sangat besar (very large crude carrier/VLCC) berbendera India, Lila Vadinar, juga berbalik di lepas pantai Oman pada Rabu (9/7). Kapal itu mengangkut sekitar 2 juta barel minyak mentah Kuwait yang dimuat pada pekan sebelumnya.
Pembalikan arus pelayaran ini dipicu insiden sehari sebelumnya, ketika sebuah kapal LNG asal Qatar dan satu kapal tanker berbendera Arab Saudi dilaporkan mengalami kerusakan di sekitar Selat Hormuz. Insiden itulah yang mendorong otoritas maritim menaikkan status ancaman bagi kapal yang melintas.
Meski situasi menegang, sejumlah kapal masih berhasil melewati selat tersebut. Kapal Mercury Hope, yang membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah Uni Emirat Arab, keluar dari selat pada Rabu. Sementara itu, Tenjun yang mengangkut 2 juta barel minyak Qatar berhasil melintas pada Selasa malam.
Kapal Pertamina Pride yang dikelola Pertamina juga tercatat keluar dari Selat Hormuz pada Selasa, dengan transponder dalam kondisi tidak aktif. Kapal tersebut membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah Arab Saudi yang dimuat pada awal Maret.
Analis Vortexa mencatat lebih dari 50 kapal kosong yang dikendalikan QatarEnergy dan Abu Dhabi National Oil Co. (ADNOC) masih tersebar di kawasan Teluk Timur Tengah, India, hingga Selat Malaka. Sebagian kapal bahkan mematikan sistem identifikasi otomatis (AIS) selama lebih dari 10 hari demi alasan keamanan.
Antrean kapal kosong yang menunggu giliran memuat LNG di Ras Laffan pun terus memanjang hingga lebih dari 10 kapal pada awal Juli.
Sejak konflik meningkat pada akhir Februari, setidaknya 16 kargo LNG dari Ras Laffan dan 10 kargo dari terminal Das Island milik ADNOC berhasil keluar dari selat. Namun volume itu masih jauh di bawah rata-rata gabungan sekitar 7 juta metrik ton LNG per bulan dari kedua terminal ekspor tersebut.
Dampak ketegangan juga mulai dirasakan oleh para pembeli minyak. Sumber industri menyebut Mangalore Refinery and Petrochemicals Ltd (MRPL) asal India membatalkan kontrak penyewaan kapal yang sebelumnya disiapkan untuk mengangkut minyak mentah dari Irak. Langkah itu mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pelaku industri terhadap risiko pelayaran di salah satu jalur distribusi energi terpenting dunia.
Tinggalkan Komentar
Komentar