Periskop.id - Harga minyak dunia menguat sekitar 1% pada Kamis (9/7) pagi setelah Amerika Serikat kembali menggempur Iran secara militer. Eskalasi itu membuka kembali kekhawatiran atas gangguan pelayaran di Selat Hormuz, jalur yang sebelum konflik ini dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Berdasarkan data yang dilansir Reuters, harga minyak mentah Brent naik 78 sen atau 1% ke level US$78,80 per barel pada pukul 00.54 GMT. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turut menguat 74 sen atau 1,01% menjadi US$74,26 per barel.

Kedua kontrak acuan itu sebenarnya sudah melonjak lebih dari US$1 per barel pada sesi setelah penutupan pasar Rabu (8/7), bertepatan dengan pengumuman dimulainya gelombang serangan terbaru militer AS. Sehari sebelum itu pun, Brent dan WTI sudah ditutup di level tertinggi dalam lebih dari dua pekan, dipicu ancaman Presiden AS Donald Trump yang menyatakan bakal menggempur Iran mulai Rabu malam.

Militer AS menyatakan operasi tersebut dilakukan untuk memastikan Selat Hormuz tetap terbuka bagi pelayaran internasional. Serangan itu dilancarkan hanya beberapa jam setelah Trump menyatakan kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang dengan Iran telah "berakhir".

Pemerintah AS menyebut gelombang serangan ini merupakan respons atas insiden Selasa (7/7), ketika tiga kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz diserang. Aksi militer tersebut dilaporkan mengguncang sejumlah kota di pesisir selatan Iran dan menyebabkan pemadaman listrik di beberapa wilayah.

Iran tidak tinggal diam. Pada Rabu (8/7), Teheran mengklaim telah menyerang fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait sebagai balasan atas serangan AS terhadap infrastruktur Iran sebelumnya.

Ketegangan yang terus meningkat ini mendapat sorotan dari Analis IG Tony Sycamore. Menurutnya, lonjakan volume pengiriman minyak melalui Selat Hormuz dalam beberapa pekan terakhir diperkirakan tidak akan berlanjut. Para pemilik kapal, ia nilai, kini akan mengambil posisi yang jauh lebih waspada.

Industri pelayaran pun mulai merespons. Sejumlah perusahaan asuransi risiko perang menyarankan kliennya untuk menunda rute melalui Selat Hormuz, sementara perusahaan asuransi lainnya tengah mengkaji ulang ketentuan polis mereka pascaserangan terbaru di kawasan itu.

Selat Hormuz memang bukan sekadar jalur biasa. Sebelum konflik ini pecah, sekitar seperlima dari total pasokan minyak dunia melintas melalui jalur tersebut setiap harinya, menjadikannya salah satu titik strategis paling krusial bagi pasar energi global.

Harapan atas berakhirnya konflik AS-Iran pun kian meredup. Sebelum serangkaian eskalasi terakhir ini, pasar sempat menantikan sinyal gencatan senjata yang bisa meredakan tekanan pada jalur pelayaran vital tersebut.