periskop.id - Indonesia mematok target investasi Rp13.032,8 triliun dalam lima tahun ke depan, sebuah angka yang melampaui 43% dari total realisasi satu dekade terakhir yang hanya menyentuh Rp9.117,4 triliun. Target ambisius itu ditetapkan demi menopang pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani menguraikan kebutuhan tersebut di hadapan anggota dewan. Ia menyebut Presiden Prabowo Subianto secara khusus menargetkan ekonomi nasional tumbuh 8% pada 2029, sehingga kebutuhan modal masuk pun harus melonjak tajam melampaui tren historis.

Advertisement

"Ini adalah target yang diberikan, sehingga dana yang diperlukan pada tahun 2025-2029 adalah Rp13.032,8 triliun. Ini peningkatan kurang lebih 43 persen dari realisasi selama 10 tahun terakhir, memang peningkatannya cukup signifikan," kata Rosan dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR, Senin (15/6).

Untuk memahami skala tantangan tersebut, rekam jejak satu dekade ke belakang perlu dicermati. Dalam kurun 2014-2024, total investasi yang berhasil dikumpulkan Indonesia tercatat Rp9.117,4 triliun. Artinya, pemerintah kini harus menarik lebih banyak dalam waktu separuhnya.

Data yang dipaparkan Rosan memperlihatkan korelasi antara laju pertumbuhan ekonomi dan realisasi investasi. Pada 2024, dengan ekonomi tumbuh 5,03%, investasi yang masuk tercatat Rp1.714,2 triliun. Setahun kemudian, ekonomi naik tipis ke 5,11%, diiringi lonjakan investasi menjadi Rp1.931,2 triliun.

Tren tersebut menggambarkan tantangan nyata. Untuk mencapai target Rp13.032,8 triliun dalam lima tahun, rata-rata investasi tahunan harus jauh melampaui angka-angka yang pernah dibukukan sebelumnya. Rosan, yang juga menjabat Chief Executive Officer (CEO) Danantara, menegaskan investasi yang dibidik bukan sekadar soal besaran angka.

"Strategi investasi kami tidak hanya semata-mata mengejar besaran nominal, tapi juga menargetkan bagaimana investasi yang masuk ini adalah investasi yang berkualitas," ucapnya.

Rosan merinci, kualitas investasi yang dimaksud berkaitan erat dengan dampak nyata bagi perekonomian. Ia menekankan pentingnya akselerasi implementasi agar investasi yang masuk benar-benar terasa manfaatnya, bukan hanya sebatas komitmen di atas kertas.

Ia juga mengingatkan bahwa kontribusi investasi tidak boleh hanya dirasakan di pusat. Penguatan ekonomi daerah turut menjadi bagian dari target yang ingin dicapai dalam periode 2025-2029.

"Di saat bersamaan, kita juga mengejar akselerasi implementasi serta kontribusi terhadap penguatan ekonomi, baik di tingkat daerah maupun nasional," pungkas Rosan.