periskop.id - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan adopsi kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) di sektor keuangan menunjukkan hasil yang terukur. Ia menyebut pemanfaatan AI mulai mengubah cara kerja fungsi keuangan di perusahaan.

Berdasarkan laporan Stanford AI Index 2025, adopsi AI di dunia bisnis global meningkat signifikan, dengan 78 persen organisasi telah memanfaatkan AI dari sebelumnya hanya 55%. 

Dampaknya pun terlihat nyata, dalam studi terhadap 500 perusahaan pengadopsi AI dalam proses piutang, terdapat peningkatan produktivitas hingga 82% serta efisiensi operasional yang dapat mencapai 60%.

“Teknologi dan digitalisasi kini menjadi prioritas utama para CFO dalam menghadapi tahun ini. Mereka memandang AI bukan sekadar alat otomasi, tetapi sebagai motor untuk merespon perubahan pasar dan dinamika pelanggan secara lebih cepat dan presisi,” kata Nezar dalam keterangannya, Rabu (15/4).

Nezar menekankan bahwa tantangan utama transformasi digital di sektor keuangan ini bukan hanya terletak pada teknologinya saja, tetapi juga dari sisi kepemimpinan dan budaya organisasi di sebuah perusahaan.

Ia menggarisbawahi tiga tantangan strategis yang perlu diatasi oleh para pemimpin keuangan. Pertama, jebakan pilot project, di mana banyak organisasi terjebak pada proyek percontohan AI yang tidak berkembang menjadi implementasi skala penuh dan tidak menghasilkan nilai tambah signifikan.

Kedua mengenai kualitas dan tata kelola data karena AI sangat bergantung pada data yang bersih, terintegrasi, dan aman. Tanpa fondasi data yang kuat, inisiatif AI berisiko gagal atau menghasilkan analisis yang menyesatkan.

“Kita tahu bahwa AI secara apapun akan gagal jika tidak didukung oleh kualitas data yang baik. Mari perhatikan arsitektur data yang bersih, terintegrasi dan aman sebagai landasan seluruh inisiatif dari project-project AI yang Anda buat,” tuturnya.

Ketiga, Nezar menekankan soal kesiapan sumber daya manusia lewat pentingnya pendekatan human in the loop dalam pengembangan AI. Menurutnya, nilai sejati AI justru muncul ketika teknologi berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas manusia.

Sebagai langkah strategis, pihaknya tengah menyiapkan peta jalan nasional pengembangan AI yang akan menjadi dasar kebijakan untuk memastikan pemanfaatan AI berjalan secara etis, aman, dan inklusif.

"Komdigi sudah menyelesaikan Peta Jalan AI Nasional untuk pengembangan AI dan akan disahkan sebagai peraturan presiden nantinya bersama dengan satu dokumen yang lain soal etika AI. Mudah-mudahan dalam 1-2 bulan ke depan presiden bisa menandatangani dokumen Peta Jalan Pengembangan Artificial Intelligence Nasional," tutupnya.