Periskop.id – Indonesia dinobatkan sebagai negara paling kreatif dalam pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) visual di Asia Tenggara. Dalam laporan terbaru Google bertajuk Gemini Report: Southeast Asia 2026, pengguna di Indonesia tercatat menghasilkan hampir 9 juta gambar berbasis AI setiap hari, tertinggi di kawasan.

Temuan ini memperlihatkan, bukan hanya tingginya adopsi teknologi AI, tetapi juga karakter unik pengguna Indonesia yang menjadikan AI sebagai alat ekspresi kreatif, bukan sekadar alat bantu produktivitas.

"Di Indonesia, satu dari setiap tiga prompt (perintah) bersifat murni kreatif. Masyarakat Indonesia menghasilkan sembilan juta gambar kustom setiap hari untuk mewujudkan ide-ide mereka, jumlah terbanyak di kawasan ini," ujar Vice President Southeast Asia and South Asia Frontier Google Sapna Chadha.

Mobile Jadi Kunci Kreativitas AI Indonesia

Salah satu faktor utama tingginya kreativitas AI di Indonesia adalah dominasi penggunaan perangkat seluler. Google mencatat 82% interaksi dengan Gemini di Indonesia dilakukan melalui ponsel, jauh di atas banyak negara lain di kawasan.

"Hal unik lainnya dari Indonesia adalah cara mereka memberikan prompt. Sebanyak 82 persen prompt Gemini di Indonesia berasal dari perangkat seluler. Selain itu, hampir separuhnya menggunakan input suara atau gambar untuk menuangkan ide saat sedang bepergian," kata Sapna.

Artinya, masyarakat tidak lagi bergantung pada teks semata. Penggunaan AI kini semakin multimodal—menggabungkan suara, gambar, hingga video—yang membuat proses kreatif menjadi lebih cepat dan intuitif.

Laporan Google juga mencatat sekitar 32% interaksi Gemini di Indonesia bersifat kreatif, sementara 84% sudah menggunakan bahasa lokal. Hal ini menunjukkan AI semakin terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari pengguna.

Asia Tenggara Jadi Pusat Pertumbuhan AI Kreatif

Secara regional, Asia Tenggara mengalami lonjakan besar dalam penggunaan AI generatif. Sekitar 40 persen kueri pengguna Gemini di kawasan bertujuan menciptakan karya baru, mulai dari gambar, musik, video, hingga dokumen.

Dalam setahun terakhir saja, pengguna di Asia Tenggara telah menghasilkan lebih dari 5 miliar gambar melalui model Nano Banana. Selain itu, hampir 1 juta lagu diciptakan menggunakan model AI Lyria 3.

Pertumbuhan ini juga terlihat dari jumlah pengguna. Google mencatat pengguna aktif Gemini di Asia Tenggara melonjak lebih dari dua kali lipat dalam setahun. Secara global, jumlah pengguna bulanan bahkan telah melampaui 900 juta orang pada April 2026, naik dari sekitar 750 juta pada akhir 2025.

Kenaikan tersebut didorong oleh populasi muda yang melek teknologi, penetrasi internet mobile yang tinggi, serta kemampuan AI memahami berbagai bahasa lokal di kawasan.

Indonesia Punya Karakter AI yang Berbeda

Berbeda dengan negara lain yang lebih fokus pada produktivitas atau pekerjaan, pengguna Indonesia cenderung menggunakan AI untuk mengekspresikan ide kreatif—mulai dari ilustrasi, desain konten, hingga eksperimen visual.

Kondisi ini juga didukung oleh penetrasi internet yang tinggi. Data APJII menunjukkan lebih dari 78% penduduk Indonesia telah terhubung ke internet, dengan mayoritas mengakses melalui perangkat mobile. 

Selain itu, laporan Google e-Conomy SEA 2025 menyebut Indonesia menjadi salah satu pasar dengan pertumbuhan aplikasi AI tercepat di dunia, dengan peningkatan pendapatan sektor AI mencapai lebih dari 120% secara tahunan.

Peluang Ekonomi dan Tantangan

Di balik peluang besar, penggunaan AI yang masif juga menimbulkan tantangan, terutama terkait etika, kualitas konten, dan kesiapan talenta digital.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya sebelumnya mengingatkan pentingnya pemanfaatan AI secara bijak.

“Dengan kemajuan teknologi AI yang begitu pesat, masyarakat perlu dibekali literasi digital agar dapat memanfaatkannya secara bijak dan produktif,” ujarnya dalam keterangan ANTARA.

Ia menilai AI dapat menjadi alat penting untuk meningkatkan daya saing industri kreatif Indonesia, tetapi harus diimbangi dengan penguatan keterampilan sumber daya manusia.

AI Visual Jadi Mesin Baru Ekonomi Kreatif

Besarnya produksi konten visual berbasis AI membuka peluang baru bagi sektor kreatif—mulai dari desain grafis, animasi, periklanan, hingga industri gim dan konten digital.

Dengan jutaan gambar dihasilkan setiap hari, Indonesia berpotensi menjadi salah satu pusat produksi konten visual berbasis AI terbesar di dunia, bukan hanya di Asia Tenggara.

Namun, untuk memaksimalkan potensi tersebut, dibutuhkan dukungan ekosistem yang lebih luas, termasuk regulasi, perlindungan hak cipta, hingga pengembangan talenta kreatif berbasis teknologi.

Singkatnya, Laporan Google menempatkan Indonesia bukan hanya sebagai pengguna AI terbesar, tetapi juga paling kreatif di Asia Tenggara. Produksi hampir 9 juta gambar per hari menunjukkan AI telah menjadi bagian dari ekspresi masyarakat.

Dominasi penggunaan mobile, tingginya adopsi multimodal, serta karakter kreatif pengguna menjadi pembeda utama Indonesia dibanding negara lain. Ke depan, tantangan terbesar bukan lagi adopsi teknologi, melainkan bagaimana memastikan AI digunakan secara produktif, etis, dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif nasional.