Periskop.id - Pengamat transportasi Deddy Herlambang menilai keputusan Pemprov DKI Jakarta memperpanjang rute LRT hingga Dukuh Atas memang dapat memperkuat integrasi antarmoda transportasi di ibu kota. Namun, menurut dia, jalur menuju kawasan hunian masyarakat justru lebih mendesak untuk dikembangkan.
“Ini yang saya sayangkan, karena malah dipilih dari Manggarai ke Dukuh Atas, sudah ada moda KRL, jadi LRT bisa transit,” kata Deddy di Jakarta, Senin (25/5) seperti dilansir Antara.
Menurut dia, kawasan Dukuh Atas saat ini sudah dipenuhi berbagai moda transportasi seperti KRL Commuter Line, MRT Jakarta, TransJakarta, hingga kereta bandara. Karena itu, pembangunan stasiun LRT baru di wilayah tersebut dinilai berpotensi menghadapi kendala keterbatasan lahan dan kepadatan kawasan.
Deddy mengatakan, pembangunan LRT menuju kawasan permukiman akan lebih berdampak terhadap perubahan pola mobilitas masyarakat, karena warga dapat langsung mengakses transportasi publik dari dekat tempat tinggal mereka.
Selain itu, dia menilai trase LRT yang melewati pusat aktivitas masyarakat seperti kawasan perkantoran, pusat belanja, sekolah, hingga kampus juga berpotensi meningkatkan jumlah pengguna angkutan umum secara signifikan.
“Pasti akan efektif untuk shifting ke angkutan umum bila trase LRT Jakarta melewati tempat keramaian, seperti mall atau pasar, perkantoran, sekolah atau kampus. Bila masyarakat menggunakan transportasi umum, otomatis volume kendaraan pribadi akan berkurang,” tuturnya.
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memutuskan proyek LRT Jakarta akan diperpanjang dari Velodrome menuju Manggarai hingga Dukuh Atas dengan total panjang jalur mencapai 14,2 kilometer. Panjang trase tersebut bertambah sekitar dua kilometer dari rencana awal sepanjang 12,2 kilometer.
“Kemarin, saya sudah memutuskan dalam rapat, setelah mendapatkan masukan, saran, pertimbangan, dan juga kemampuan fiskal Pemerintah DKI Jakarta. Untuk LRT, yang diputuskan adalah extension dari Manggarai sampai dengan Dukuh Atas untuk menuntaskan satu jalur mulai dari Velodrome sampai dengan Dukuh Atas,” jelas Pramono.
Investasi Meningkat
Pramono menyebut, nilai investasi proyek tersebut meningkat menjadi sekitar Rp2,7 triliun. Pemprov DKI memilih menuntaskan satu koridor penuh terlebih dahulu sebelum melanjutkan pembangunan jalur berikutnya.
Setelah jalur Velodrome-Dukuh Atas rampung, pemerintah berencana memperluas jaringan LRT menuju Jakarta International Stadium (JIS), Ancol, Pantai Indah Kapuk (PIK) 2 hingga Bandara Soekarno-Hatta.
“Sedangkan dari Velodrome, JIS, Ancol, kemudian nanti akan diteruskan sampai PIK 2 dan sampai dengan Soekarno-Hatta. Rutenya diselesaikan kemudian. Sekarang, baru selesai sampai dengan Ancol,” ungkap Pramono.
Pemprov DKI Jakarta juga menargetkan pembangunan jalur LRT Velodrome-Manggarai dapat selesai dan mulai beroperasi pada Agustus 2026. Jalur tersebut diharapkan menjadi salah satu penghubung utama kawasan timur dan pusat Jakarta.
Berdasarkan data TomTom Traffic Index 2025, Jakarta masih menjadi salah satu kota termacet di Asia Tenggara dengan tingkat kepadatan lalu lintas tinggi pada jam sibuk. Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah kendaraan bermotor di DKI Jakarta terus meningkat setiap tahun, terutama kendaraan roda dua dan mobil pribadi.
Karena itu, pengembangan transportasi massal berbasis rel dinilai menjadi salah satu solusi utama untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi sekaligus menekan polusi udara di perkotaan.
Sejumlah proyek transportasi serupa sebelumnya juga dikembangkan Pemprov DKI Jakarta, seperti integrasi MRT Jakarta, LRT Jabodebek, dan TransJakarta melalui konsep transit oriented development (TOD). Pemerintah berharap konektivitas antarmoda tersebut dapat mendorong masyarakat beralih ke transportasi umum secara bertahap
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar