periskop.id - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai memetakan jaringan saluran lama berbahan armco atau Corrugated Steel Pipe (CSP) yang kondisinya rusak dan berusia puluhan tahun. Langkah ini dilakukan setelah insiden jalan amblas di Jalan Raya Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan yang dipicu kerusakan saluran bawah tanah.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengatakan. Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta sudah mulai memetakan titik-titik saluran lama yang menggunakan armco. Pemetaan ini diperlukan agar pemerintah dapat mengantisipasi potensi kerusakan serupa di lokasi lain sebelum menimbulkan gangguan lalu lintas maupun membahayakan pengguna jalan.

Advertisement

"Alhamdulillah, dari Dinas Sumber Daya Air (SDA) sudah me-mapping (memetakan), di Jakarta yang menggunakan armco itu di mana saja, sih. Mudah-mudahan, itu sudah ter-mapping," kata Rano saat meninjau lokasi perbaikan saluran di Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa (2/6).

Menurut Rano, inventarisasi saluran lama masih dilakukan bersama Dinas SDA DKI Jakarta. Pemetaan tidak hanya mencakup saluran di bawah badan jalan, tetapi juga saluran yang berada di lokasi sulit, termasuk di bawah jalur rel kereta api.

Rano menjelaskan, saluran di kawasan Lenteng Agung memiliki karakteristik khusus karena terhubung dengan aliran air dari Waduk Universitas Indonesia dan melintas di bawah rel kereta api. Kondisi itu membuat penanganannya tidak bisa dilakukan dengan metode galian biasa.

"Kalau gini, gak mungkin kita bisa ngegali, berarti harus bor, harus jacking, karena kita langsung tembus ke waduk itu," ujar Rano.

Karena itu, Rano meminta jajaran terkait menyiapkan skenario penanganan untuk titik-titik yang memiliki karakteristik serupa. Menurut dia, pemerintah harus memiliki rencana darurat apabila kerusakan saluran lama kembali memicu jalan amblas di kawasan lain.

"Tolong disiapkan dulu, kita harus bicara pahit, kalau terjadi, apa yang harus kita lakukan," tutur Rano.

Infrastruktur Tua
Insiden di Lenteng Agung sebelumnya membuat ruas jalan arah Depok terganggu dan sempat memicu pengalihan arus lalu lintas. Pemprov DKI menyatakan jalan amblas dengan lebar sekitar tiga meter diduga terjadi akibat kerusakan konstruksi saluran air lama di bawah badan jalan. Kondisi saluran diperkirakan menurun karena usia infrastruktur dan intensitas hujan. Kepala Suku Dinas SDA Jakarta Selatan, Santo, menyebut penanganan dilakukan bertahap dengan mengutamakan keselamatan pengguna jalan dan mobilitas warga.

Perbaikan saluran di Lenteng Agung kini telah diselesaikan oleh Suku Dinas SDA Jakarta Selatan sehingga arus lalu lintas kembali normal. Pekerjaan tersebut mencakup penggantian saluran armco yang rusak dengan box culvert beton yang dinilai lebih kuat dan tahan lama. Dinas SDA DKI Jakarta menyebut CSP atau armco di lokasi itu diganti dengan box culvert ukuran 2x2 meter, dengan total 16 box culvert untuk menggantikan saluran lama. 

Pemerintah Kota Jakarta Selatan mengalokasikan anggaran sekitar Rp380 juta untuk memperbaiki saluran air yang amblas di Lenteng Agung. Anggaran tersebut digunakan untuk seluruh rangkaian pekerjaan perbaikan hingga tuntas, termasuk penggantian konstruksi saluran lama.

Kepala Dinas SDA DKI Jakarta Ika Agustin sebelumnya juga menyatakan, pihaknya akan menelusuri kembali keberadaan saluran-saluran lama di Jakarta. Menurut dia, perubahan tata guna lahan selama bertahun-tahun ikut memengaruhi kondisi sistem drainase Ibu Kota. "Kami akan inventarisasi dan mendata saluran di seluruh DKI," kata Ika. 

Ia juga menambahkan, "Ini juga ada hubungannya dengan perubahan tata guna lahan yang terjadi di Jakarta, sehingga saluran-saluran lama harus ditelusuri lagi,” serunya. 

Pemetaan saluran armco menjadi penting karena infrastruktur bawah tanah yang menua dapat mengalami korosi, deformasi, atau penurunan kapasitas tampung. Jika saluran melemah dan tanah di sekitarnya tergerus aliran air, badan jalan di atasnya berpotensi kehilangan daya dukung dan akhirnya amblas.

Pemetaan Saluran Lama
Di Jakarta, risiko tersebut semakin besar karena banyak utilitas dan saluran lama berada di bawah jalan padat lalu lintas. Beban kendaraan, hujan deras, perubahan tata guna lahan, sedimentasi, serta aliran air yang tidak terkendali dapat mempercepat kerusakan saluran bawah tanah. Karena itu, pemetaan saluran lama menjadi langkah awal untuk menentukan prioritas inspeksi, perbaikan, atau penggantian konstruksi.

Selain mengganti saluran rusak dengan box culvert, Dinas SDA DKI juga memiliki opsi metode jacking untuk titik yang tidak memungkinkan dilakukan penggalian terbuka. Metode ini digunakan pada pekerjaan saluran bawah tanah tanpa harus membongkar permukaan jalan secara luas. Dinas SDA DKI sebelumnya juga pernah menggunakan pekerjaan pipa jacking dan box culvert dalam proyek saluran di Jakarta Selatan, termasuk pemasangan pipa jackingRCP dan saluran box culvert heavy duty.

Kasus Lenteng Agung menjadi pengingat, perawatan infrastruktur bawah tanah sama pentingnya dengan perbaikan permukaan jalan. Jalan yang terlihat normal belum tentu aman apabila saluran di bawahnya sudah melemah. Karena itu, Pemprov DKI perlu memperkuat inspeksi berkala, pemantauan titik rawan, dan koordinasi lintas instansi, terutama untuk saluran yang beririsan dengan rel kereta, jalan nasional, utilitas air, dan kawasan padat.

Dengan pemetaan armco dan saluran lama, Pemprov DKI berharap kejadian jalan amblas dapat dicegah lebih dini. Pemerintah juga meminta warga ikut melapor jika menemukan tanda-tanda kerusakan, seperti retakan jalan, permukaan jalan turun, genangan tidak biasa, atau lubang kecil yang terus melebar.

Pemprov DKI petakan saluran armco tua untuk cegah jalan amblas seperti di Lenteng Agung. Saluran rusak diganti box culvert, biaya Rp380 juta.