periskop.id - Universitas Gadjah Mada (UGM) meresmikan transformasi besar dalam arah pergerakan mahasiswanya. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di kampus ini secara mutlak berganti nama menjadi Serikat Mahasiswa (SEMA) UGM.

Ketua SEMA UGM Sheron Adam Funay menjelaskan transisi ini bukan sekadar pergantian identitas semata. Langkah tersebut dinilainya sebagai orientasi baru untuk menyembuhkan penyakit fragmentasi dan elitisme di internal gerakan.

Advertisement

“Kami percaya dari Serikat Mahasiswa UGM, fragmentasi gerakan dan elitisme itu bisa diobati. SEMA bukan badan eksekutif yang hierarkis, melainkan organisasi setara fakultas dengan tujuan menyatukan gerakan mahasiswa,” ujarnya seperti dilansir situs resmi UGM, Selasa (2/6).

Selain perombakan visi, ia menyebut SEMA UGM turut membawa perubahan struktur kelembagaan yang sangat mendasar. Salah satu langkah paling krusial disebutnya adalah penghapusan sistem Pemilihan Umum Mahasiswa (Pemilwa) secara total.

Menurut mahasiswa Hubungan Internasional ini, sistem kontestasi politik terbuka tersebut sangat rentan terjebak dalam pusaran perebutan kekuasaan. Praktik tersebut dinilai kerap mengaburkan tujuan utama mahasiswa karena condong pada popularitas.

“Kami menjunjung tinggi meritokrasi dan kerja keras sehingga mereka mendapat posisi strategis karena kemampuan, bukan karena kemenangan politik,” tegasnya.

Transformasi kelembagaan ini turut mendapat dukungan penuh dari Ketua BEM UGM periode 2025, Tiyo Ardianto. Momentum perombakan ini dinilainya sangat krusial untuk membangkitkan kembali mesin demokrasi kampus yang mulai redup.

Model representasi total dari BEM selama ini disebut tidak lagi sejalan dengan realitas mahasiswa yang semakin apatis. Tiyo memandang pergerakan mahasiswa kini menuntut strategi baru yang sepenuhnya meninggalkan sifat elitisme.

Sebagai informasi, deklarasi transformasi kelembagaan ini diselenggarakan bertepatan dengan momen peringatan Hari Lahir Pancasila. Perubahan bersejarah ini diresmikan langsung oleh elemen mahasiswa pada Senin (1/6) di kawasan Bundaran Boulevard UGM.

“Kita harus hargai apa yang dilakukan Sheron dan kawan-kawan sebagai upaya merespons zaman. Sekarang saatnya lah gerakan mahasiswa perlu bertransformasi,” pungkasnya.