banner-sheroes-yoga
Politik

BRIN Usulkan Pilkada Asimetris Perkuat Demokrasi Lokal yang Adaptif dan Efisien

Peneliti BRIN Siti Zuhro mengusulkan pilkada asimetris agar lebih efisien dan adaptif, menyesuaikan karakteristik daerah serta memperkuat demokrasi lokal.

BRIN Usulkan Pilkada Asimetris Perkuat Demokrasi Lokal yang Adaptif dan Efisien
Peneliti politik BRIN Siti Zuhro saat berdiskusi bersama Komisi II DPR RI di kompleks parlemen, Jakarta, Selasa (2/6/2026). ANTARA/HO-DPR RI
Ukuran teks
Sedang

periskop.id - Peneliti politik dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Siti Zuhro, menilai bahwa pemilihan kepala daerah (pilkada) di Indonesia sebaiknya tidak dilakukan dengan pola seragam. 

Ia mengusulkan model pilkada asimetris, yakni mekanisme pemilihan yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing daerah. Menurut Siti, gagasan ini berangkat dari realitas ketimpangan kapasitas fiskal, kondisi sosial, dan dinamika politik lokal. 

“Desain pilkada yang seragam justru berpotensi tidak efisien, mahal, dan melemahkan pemerintahan lokal,” ujarnya dalam rapat bersama Komisi II DPR RI di Jakarta, Selasa (2/6).

Ia menjelaskan bahwa pilkada asimetris memungkinkan variasi mekanisme, mulai dari pemilihan langsung oleh rakyat, pemilihan tidak langsung melalui DPRD, hingga penetapan atau pengangkatan sesuai kebutuhan daerah. Model ini, kata Siti, bukanlah pengecualian, melainkan bentuk demokrasi adaptif yang dapat menjamin efektivitas pemerintahan daerah sekaligus memperkuat kualitas demokrasi lokal.

Usulan tersebut sejalan dengan Pasal 18 Ayat 4 UUD 1945 yang menegaskan bahwa kepala daerah, baik bupati, wali kota, maupun gubernur, dipilih secara demokratis. Namun, demokratisasi tidak harus berarti seragam, melainkan bisa menyesuaikan dengan konteks daerah.

Di sisi lain, Siti menekankan perlunya perbaikan sistem pemilu secara menyeluruh, termasuk pembenahan partai politik. Ia menyoroti praktik kompetisi internal partai yang cenderung transaksional. 

“Dalam praktiknya di Indonesia justru memicu kompetisi intra-partai yang mahal dan transaksional. Kondisi ini melemahkan peran partai politik sebagai institusi dan menggeser fokus dari program ke popularitas individual,” katanya.

Riset BRIN sebelumnya juga menunjukkan bahwa biaya politik di Indonesia termasuk tinggi di kawasan Asia Tenggara. Laporan International IDEA (2024) mencatat bahwa ongkos politik di tingkat lokal sering kali menjadi beban besar bagi calon kepala daerah, sehingga mendorong praktik politik uang. 

Dengan model pilkada asimetris, diharapkan beban biaya dapat ditekan dan kualitas demokrasi lokal lebih terjaga.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai pilkada, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.