Periskop.id – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan memperpanjang jalur LRT Jakarta dari Manggarai menuju Dukuh Atas, setelah pembangunan rute Velodrome–Manggarai rampung. Proyek lanjutan itu ditargetkan selesai pada 2028 dan dipercepat karena tidak memerlukan pembebasan lahan.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo mengatakan, anggaran Rp2,1 triliun disiapkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah DKI Jakarta untuk membangun segmen Manggarai–Dukuh Atas.

“Saya tadi sudah minta kepada Ibu Asisten Keuangan untuk pembangunan dari Manggarai ke Dukuh Atas selesai di tahun 2028 dengan anggaran Rp2,1 triliun,” kata Pramono saat ditemui di Stasiun LRT Rawamangun, Selasa (14/7/2026).

Menurut Pramono, pekerjaan konstruksi dapat segera dimulai karena jalur yang dipersiapkan tidak terkendala pengadaan tanah. “Sehingga tidak ada handicap (rintangan) untuk menunggu pembebasan lahan. Langsung bisa dibangun,” jelas Pramono.

Perpanjangan tersebut akan membawa jaringan LRT Jakarta dari Pegangsaan Dua di Kelapa Gading hingga Dukuh Atas, salah satu simpul transportasi terbesar di pusat Jakarta. Dukuh Atas saat ini mempertemukan MRT Jakarta, LRT Jabodebek, KRL Commuter Line, TransJakarta, dan Kereta Bandara.

Velodrome–Manggarai Ditargetkan Beroperasi Agustus

Sebelum melanjutkan jalur ke Dukuh Atas, Pemprov DKI menargetkan LRT Jakarta Fase 1B rute Velodrome–Manggarai selesai dan diresmikan pada Agustus 2026.

Data Jakpro menunjukkan seluruh struktur jalur layang pada koridor tersebut telah tersambung setelah girder terakhir dipasang di atas jalur kereta aktif kawasan Manggarai. Hingga pekan keempat Juni 2026, progres keseluruhan proyek tercatat mencapai 94,061%.

“Girder terakhir tersebut terpasang di atas area Double Double Track (DDT) Manggarai, yang menjadi salah satu titik paling kritikal dalam keseluruhan proyek,” kata Direktur Utama Jakpro Iwan Takwin.

Proyek Fase 1B memiliki panjang sekitar 6,4 kilometer dan menambahkan lima stasiun, yakni Pemuda Rawamangun, Pramuka BPKP, Pasar Pramuka, Matraman, dan Manggarai.

Setelah tersambung dengan Fase 1A Pegangsaan Dua–Velodrome sepanjang 5,8 kilometer, total jalur operasional LRT Jakarta menjadi sekitar 12,2 kilometer dengan 11 stasiun.

Pramono berharap Presiden Prabowo Subianto dapat meresmikan jalur tersebut karena proyek dinilai menjadi salah satu tonggak perubahan sistem transportasi Jakarta.

“Kenapa kami mengusulkan untuk diresmikan oleh Bapak Presiden? Karena ini akan menjadi milestone (tonggak pencapaian) ataupun legasi yang mengubah wajah Jakarta. Karena selama ini utara ke pusat itu sering kali menghadapi handicap, kemacetan yang luar biasa,” ucap Pramono.

Perjalanan Utara–Selatan Ditargetkan di Bawah Satu Jam

Perpanjangan menuju Dukuh Atas akan memungkinkan penumpang dari Kelapa Gading dan kawasan Jakarta Timur berpindah langsung ke MRT Jakarta, KRL, LRT Jabodebek, atau Kereta Bandara.

Pramono menggambarkan, integrasi tersebut dapat memangkas perjalanan dari kawasan selatan menuju utara Jakarta menjadi sekitar satu jam.

“Kalau itu terjadi (Pegangsaan 2-Dukuh Atas), kita bisa membayangkan teman-teman yang dari Pondok Labu ingin makan di Kelapa Gading, waktunya di bawah satu jam. Karena dari Pondok Labu naik MRT kemudian ganti naik LRT, kurang lebih satu jam lah,” jelas Pramono.

Dalam keterangan berbeda, Pramono menyebut, kebutuhan anggaran Rp2,7 triliun untuk pengembangan koridor Pegangsaan Dua hingga Dukuh Atas. Sementara itu, angka Rp2,1 triliun secara khusus disebut untuk pembangunan segmen baru Manggarai–Dukuh Atas.

Pemprov DKI belum menjelaskan secara terperinci perbedaan cakupan kedua angka tersebut, termasuk apakah Rp2,7 triliun mencakup kebutuhan sarana, integrasi stasiun, atau pekerjaan pendukung lainnya.

Direktur Utama Jakpro Iwan Takwin sebelumnya mengatakan, arah pembangunan menuju Dukuh Atas telah masuk dalam rencana penguatan jaringan transportasi berbasis kawasan.

“Konsep utama dari master plan ini adalah membangun integrasi transportasi dan kawasan melalui pendekatan Transit Oriented Development (TOD). Karena itu, rute LRT Jakarta diarahkan menuju simpul-simpul strategis, seperti Manggarai dan Dukuh Atas agar masyarakat dapat berpindah moda transportasi secara cepat dan nyaman,” kata Iwan.

Penumpang Diproyeksikan Naik hingga 80 Ribu per Hari

Pengoperasian rute hingga Manggarai diproyeksikan meningkatkan jumlah pengguna LRT Jakarta secara signifikan.

Saat jaringan masih terbatas pada rute Pegangsaan Dua–Velodrome, LRT Jakarta melayani sekitar 3.500 hingga 4.000 penumpang per hari. Setelah Fase 1B beroperasi, jumlah pengguna diproyeksikan bertambah secara bertahap hingga 80.000 orang per hari.

"Secara proyeksi dengan adanya penambahan rute ini, walaupun ini masih proyeksi, jadi nanti akan ada penaikan penumpang sampai 80.000 per hari secara bertahap. Saat ini LRT Jakarta fase 1A mengangkut sekitar 3.500 sampai 4.000 penumpang per hari," kata Project Director LRT Jakarta Ramdani Akbar.

Kenaikan tersebut diperkirakan terjadi karena Stasiun Manggarai merupakan titik pertemuan berbagai rute KRL yang melayani penumpang dari Bogor, Depok, Bekasi, dan wilayah lain di Jabodetabek.

Perpanjangan hingga Dukuh Atas akan memperluas jangkauan LRT menuju pusat perkantoran, perdagangan, dan transit sehingga perjalanan tidak lagi berhenti di Manggarai.

"Harapannya, mobilitas di Jakarta ini lebih bebas hambatan dan masyarakat bisa lebih tepat waktu menuju pusat kota," kata Ramdani.

Pengamat Minta Jalur Menjangkau Permukiman

Pengamat transportasi Deddy Herlambang menilai perpanjangan LRT ke pusat aktivitas berpotensi mendorong warga meninggalkan kendaraan pribadi.

“Pasti akan efektif untuk shifting ke angkutan umum bila trase LRT Jakarta melewati tempat keramaian seperti mall atau pasar, perkantoran, sekolah atau kampus. Bila masyarakat menggunakan transportasi umum, otomatis volume kendaraan pribadi akan berkurang,” jelas Deddy.

Meski demikian, ia menilai pengembangan jaringan seharusnya juga diarahkan ke kawasan permukiman. Menurut Deddy, jalur yang mendekati tempat tinggal dapat membuat transportasi massal lebih mudah diakses dan mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi sejak awal perjalanan.

Karena itu, keberhasilan rute Manggarai–Dukuh Atas tidak hanya bergantung pada penyelesaian konstruksi. Integrasi tarif, kemudahan perpindahan antarmoda, akses pejalan kaki, ketersediaan angkutan pengumpan, serta jarak stasiun dari permukiman juga akan menentukan jumlah penggunanya.

Pramono memperkirakan jaringan LRT dari Pegangsaan Dua hingga Dukuh Atas, ditambah pengembangan MRT dari Lebak Bulus menuju Kota Tua, akan membuat konektivitas transportasi publik Jakarta semakin lengkap.

“Kalau ini sudah selesai, maka seluruh trans Jakarta akan terkoneksi di atas 95 persen lebih. Sehingga akan lebih memudahkan,” ujar Pramono.