periskop.id - Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026. Mata uang Garuda berpotensi ditutup melemah dengan tekanan eksternal yang masih kuat.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi melihat pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi sentimen global. Penguatan dolar AS diperkirakan tetap berlanjut dalam jangka pendek.

Advertisement

“Untuk perdagangan besok, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di kisaran Rp17.840 hingga Rp17.900 per dolar AS,” ujar Ibrahim, Rabu (3/6).

Rentang tersebut menunjukkan ruang pelemahan rupiah masih terbuka. Namun volatilitas diperkirakan tetap tinggi mengikuti dinamika pasar global.

Dari sisi eksternal, perhatian pasar masih tertuju pada negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Perkembangan ini dinilai akan sangat menentukan arah sentimen global.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga masih menjadi faktor risiko utama. Gangguan terhadap distribusi energi global berpotensi mempertahankan tekanan terhadap mata uang emerging market.

Selain itu, kebijakan tarif terbaru dari pemerintah AS turut menopang penguatan dolar. Langkah ini diproyeksikan mendorong aktivitas industri domestik AS.

Penguatan indeks dolar AS membuat arus modal global cenderung kembali ke aset berbasis dolar. Hal ini memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.

Dari dalam negeri, inflasi yang terkendali menjadi faktor penopang stabilitas. Inflasi tahunan tercatat 3,08% dengan kenaikan harga yang relatif moderat.

Aktivitas manufaktur yang kembali ke zona ekspansi juga memberikan sentimen positif. PMI di level 50,0 mencerminkan stabilitas operasional sektor industri.

Surplus neraca perdagangan yang berkelanjutan turut menjaga fundamental eksternal Indonesia. Kinerja ekspor nonmigas menjadi penopang utama surplus tersebut.

Meski demikian, tekanan eksternal yang kuat membuat ruang penguatan rupiah terbatas. Pasar masih akan mencermati respons kebijakan otoritas moneter ke depan.