Periskop.id - PT Platinum Wahab Nusantara Tbk (TGUK) membukukan lonjakan penjualan signifikan berkat bisnis daging beku yang baru dijalankan sejak awal 2026. Penjualan perseroan pada kuartal I-2026 melompat dari Rp726 juta menjadi Rp200,7 miliar.

Direktur Utama Platinum Wahab Nusantara Agus Suhada memaparkan, lonjakan tersebut sejalan dengan mulai berjalannya segmen perdagangan daging beku sebagai bagian dari diversifikasi usaha perseroan. Menurutnya, kenaikan omzet dalam jumlah besar itu terjadi hanya dalam waktu tiga bulan.

"Peningkatanya penjualan pada periode Januari sampai dengan Maret 2026 terutama disebabkan oleh meningkatnya permintaan daging selama bulan suci Ramadan dan Hari Raya Idulfitri," kata Agus dalam surat jawaban kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (14/7).

Ia menerangkan, periode Januari hingga Maret merupakan musim puncak bagi industri daging. Kebutuhan masyarakat maupun pelaku usaha di masa itu meningkat jauh dibanding periode normal, menurut Agus.

Untuk menopang lonjakan permintaan tersebut, TGUK memanfaatkan jaringan investor strategis yang sudah lama berkecimpung di industri daging. Perseroan menjalankan model bisnis trading, yakni membeli daging dari sejumlah perusahaan lalu menjualnya kembali ke agen dan distributor lewat skema business-to-business (B2B).

Perseroan saat ini masih fokus menyasar general trade dan belum merambah modern trade. Alasannya, penjualan ke modern trade membutuhkan listing fee serta tempo pembayaran yang lebih panjang, sehingga berpotensi mengganggu arus kas perusahaan.

Agus menjelaskan, mayoritas transaksi penjualan memakai sistem Purchase Order (PO) dengan kesepakatan harga yang ditentukan saat transaksi berlangsung. Skema ini dipilih karena harga daging cenderung fluktuatif, sehingga kontrak jangka panjang dinilai kurang cocok diterapkan.

Model bisnis trading itu membuat margin yang dikantongi perseroan cukup tipis. Dari omzet Rp200,7 miliar, beban pokok penjualan tercatat sekitar Rp191,3 miliar.

Alhasil, laba kotor TGUK hanya sebesar Rp9,4 miliar dengan margin 4,7%. Penjualan daging beku juga sebagian besar berbentuk piutang dengan tempo antara 30 hingga 90 hari.

Piutang usaha perseroan tercatat mencapai Rp198,3 miliar, atau setara 98,8% dari total nilai penjualan. Agus menuturkan, banyak transaksi terjadi pada akhir Maret 2026 sehingga sebagian besar piutang belum jatuh tempo, meski hingga 9 Juli sekitar Rp134,6 miliar di antaranya sudah berhasil ditagih.

"Perseroan secara berkala melakukan pemantauan atas umur piutang (aging receivable) serta evaluasi terhadap kolektibilitas piutang guna memastikan piutang usaha tetap dapat tertagih sesuai dengan syarat pembayaran yang telah disepakati," ujar Agus.

Dalam menjalankan bisnis daging beku ini, TGUK mengandalkan gudang pendingin (cold storage) yang berlokasi di Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat. Gudang berkapasitas 1.000 ton dengan luas 300 m2 tersebut disewa perseroan untuk jangka waktu 10 tahun.