Periskop.id — Perairan Banyuwangi kembali menunjukkan kekayaan hayati yang belum sepenuhnya terungkap. Tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional menetapkan ikan gobi udang bernama Tomiyamichthys oriens sebagai spesies baru setelah menemukan perbedaan fisik dan genetik yang konsisten dari kerabat terdekatnya.

Ikan berukuran sekitar 3,5 sentimeter itu memiliki lima bercak jingga terang pada tubuh, bintik kuning di kepala, serta dua filamen memanjang pada sirip punggung pertama ikan jantan. Sejauh ini, keberadaannya baru diketahui dari pesisir Banyuwangi, Jawa Timur.

Penetapan spesies tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional ZooKeys Volume 1283 pada 24 Juni 2026. Artikel itu disusun oleh Kunto Wibowo, Hilda M. Pratiwi, Anik B. Dharmayanthi, Djohan Tjiptadi, Wiwi Tarmini, Agus Priyadi, dan Ruby V. Kusumah.

Tidak Hanya Dilihat dari Warna Tubuh

Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN Kunto Wibowo menjelaskan bahwa penetapan spesies baru tidak dilakukan hanya dengan melihat warna atau bentuk tubuhnya.

“Kami mengombinasikan karakter morfologi dengan analisis DNA untuk memperoleh bukti yang lebih komprehensif. Hasilnya menunjukkan T. oriens memiliki karakter yang konsisten dan berbeda dari spesies terdekatnya sehingga layak ditetapkan sebagai spesies baru,” katanya.

Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan taksonomi integratif. Para peneliti membandingkan jumlah menggunakan pendekatan taksonomi integratif. Para jari-jari sirip, sisik, tapis insang, pola warna, dan struktur tubuh, kemudian memeriksanya melalui analisis gen mitokondria cytochrome c oxidase subunit I atau COI.

Hasilnya menunjukkan T. oriens memiliki perbedaan genetik sekitar 3,1 persen dari Tomiyamichthys hyacinthinus, spesies terdekat yang baru dideskripsikan dari wilayah selatan Jepang pada 2025. Kedua spesies sama-sama memiliki sembilan jari-jari lunak pada sirip punggung dan sirip anal, serta dua filamen panjang pada sirip punggung pertama ikan jantan. Namun, keduanya berbeda dalam jumlah jari-jari sirip dada dan ekor, sisik loa tubuh. 

Analisis DNA menjadi penting karena sejumlah ikan gobi memiliki bentuk yang sangat mirip. Perbedaan warna saja dapat dipengaruhi jenis kelamin, usia, kondisi lingkungan, atau proses pengawetan. Karena itu, bukti morfologi perlu diperkuat dengan data genetik sebelum organisme dapat ditetapkan sebagai spesies baru.

Hanya Dikenal dari Dua Spesimen

Deskripsi ilmiah Tomiyamichthys oriens disusun berdasarkan dua spesimen dari perairan Banyuwangi. Spesimen utama atau holotipe merupakan ikan jantan dengan panjang standar 35,6 milimeter, sedangkan paratipenya adalah ikan betina sepanjang 35,5 milimeter.

Kedua spesimen tersebut tercatat dengan nomor koleksi MZB 28902 dan MZB 28903 di Museum Zoologicum Bogoriense BRIN. Penyimpanan spesimen penting agar peneliti lain dapat melakukan pemeriksaan ulang dan membandinserupa pada masa mendatang. 

Ciri paling mudah dikenali terdapat pada pola warnanya. Tubuh ikan dihiasi lima bercak jingga besar, sementara bagian kepala memiliki sejumlah bercak kuning kecil. Ikan jantan mempunyai filamen yang terbentuk dari duri kedua dan ketiga pada sirip punggung pertamanya.

Jumlah spesimen yang masih terbatas membuat informasi mengenai populasi, wilayah persebaran, musim reproduksi, makanan, dan status konservasinya belum dapat ditentukan. Temuan ini menunjukkan bahwa status “spesies baru” berarti baru bagi ilmu pengetahuan, bukan berarti ikan tersebut baru muncul di alam.

Nama Terinspirasi Sunrise of Java

Nama oriens berasal dari bahasa Latin yang berarti timur, terbit, atau matahari terbit. Nama tersebut merujuk pada bercak jingga terang di tubuh ikan sekaligus identitas Banyuwangi sebagai The Sunrise of Java.

“Penamaan spesies ini juga menjadi bentuk pengakuan terhadap lokasi penemuannya. Kami berharap temuan ini dapat menjadi pemicu penelitian lanjutan untuk mengungkap kekayaan biodiversitas laut Indonesia yang masih sangat besar,” ujar Kunto.

Dalam tata nama zoologi, nama ilmiah membantu menghubungkan suatu organisme dengan karakter, lokasi, tokoh, atau konteks penemuannya. Nama oriens sekaligus mengabadikan Banyuwangi sebagai lokasi tipe, yakni wilayah asal spesimen yang menjadi dasar deskripsi ilmiah.

Hubungannya dengan Udang Masih Misterius

Kelompok ini disebut ikan gobi udang karena banyak anggotanya hidup bersama udang pistol dari genus Alpheus. Dalam hubungan tersebut, udang menggali dan merawat liang di dasar laut, sementara ikan gobi berjaga di pintu masuk ketika melihat ancaman. 

Namun, hubungan serupa belum terbukti pada T. oriens. Informasi dari nelayan setempat menunjukkan ikan tersebut hidup di perairan dangkal dengan dasar berpasir. Peneliti masih perlu melakukan pengamatan langsung untuk memastikan jenis udang pasangannya, kedalaman habitat, dan kondisi lingkungan yang dibutuhkan.

Keterbatasan data juga membuat peneliti belum dapat memastikan apakah ikan itu hanya hidup di Banyuwangi atau sebenarnya tersebar di kawasan lain tetapi belum pernah dikoleksi dan diidentifikasi.

Spesies kerabatnya memperlihatkan pola persebaran yang beragam. T. hyacinthinus, misalnya, baru diketahui dari selatan Jepang dan hidup bersama udang pistol Alpheus randalli pada dasar berpasir di kedalaman sekitar 18 meter. 

Pesisir Indonesia Masih Menyimpan Banyak Spesies

Penemuan tersebut menambah daftar organisme yang berhasil dideskripsikan peneliti Indonesia. Sepanjang 2025, peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN mengungkap 51 spesies baru. Sebanyak 49 di antaranya berasal dari Indonesia, sedangkadari wilayah luar negeri. 

Angka itu menggambarkan bahwa inventarisasi keanekaragaman hayati Indonesia masih jauh dari selesai. Organisme berukuran kecil, hidup di dasar laut, berada di habitat terbatas, atau memiliki bentuk serupa dengan spesies lain lebih mudah luput dari pencatatan.

Penemuan spesies juga memiliki arti lebih luas daripada sekadar menambah nama dalam katalog ilmiah. Data taksonomi menjadi dasar untuk memetakan persebaran, menilai status keterancaman, merancang kawasan konservasi, dan mendeteksi dampak perubahan habitat.

Untuk T. oriens, pekerjaan berikutnya justru baru dimulai. Peneliti perlu mencari populasi tambahan, mendokumentasikan habitatnya, mengidentifikasi hubungan dengan udang, dan menilai ancaman di kawasan pesisir Banyuwangi.

Tanpa data tersebut, spesies kecil dengan warna menyerupai matahari terbit itu telah dikenal ilmu pengetahuan, tetapi kehidupan alaminya masih menyimpan banyak pertanyaan.