Periskop.id – Komisi I DPR mendukung pembelian 12 pesawat latih tempur M-346F Block 20 dari Italia sebagai bagian dari modernisasi TNI Angkatan Udara. Namun, kerja sama tersebut didorong tidak berhenti pada pengadaan pesawat, melainkan turut memperkuat kemampuan perawatan, sumber daya manusia, dan industri pertahanan Indonesia.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono mengatakan, pesawat latih tempur memiliki posisi penting dalam pembangunan kekuatan udara. Kehadirannya diperlukan untuk menyiapkan penerbang sebelum beralih mengoperasikan pesawat tempur dengan teknologi lebih modern.

"Penguatan pertahanan tidak hanya dilakukan melalui penambahan alutsista, tetapi juga dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia yang akan mengoperasikannya," kata Dave di Jakarta, Jumat (24/7).

Indonesia sebelumnya menandatangani kontrak dengan Leonardo dan PT ESystem Solutions Indonesia untuk pengadaan 12 unit M-346F Block 20. Kontrak tersebut merupakan kelanjutan dari Letter of Intent yang diumumkan pada Februari 2026, sedangkan pengiriman pesawat dijadwalkan mulai 2030. Nilai kontraknya belum diumumkan kepada publik.

Pengadaan Harus Beri Manfaat Lebih Luas

Dave menilai pembelian alutsista harus ditempatkan sebagai bagian dari perencanaan pertahanan jangka panjang. Pertimbangannya tidak hanya jumlah pesawat, tetapi juga kesesuaian dengan kebutuhan operasi, kesiapan personel, dukungan logistik, dan kesinambungan sistem persenjataan.

Ia mendorong pemerintah memastikan kerja sama dengan produsen luar negeri memberikan manfaat nyata bagi industri nasional. Ruang transfer teknologi, peningkatan kompetensi teknisi, kemampuan pemeliharaan di dalam negeri, dan keterlibatan perusahaan pertahanan lokal perlu menjadi bagian dari pelaksanaan kontrak.

"Setiap kerja sama pertahanan diharapkan tidak hanya meningkatkan kesiapan operasional TNI, tetapi juga memperkuat kapasitas industri pertahanan nasional sebagai bagian dari kepentingan strategis Indonesia," tuturnya. 

Sikap tersebut sejalan dengan pandangan Komisi I sebelumnya bahwa modernisasi alutsista perlu dibarengi transfer teknologi, riset, pengembangan, dan peningkatan kandungan dalam negeri. DPR juga memiliki fungsi pengawasan untuk memastikan pengadaan berjalan sesuai regulasi dan mendukung kemandirian industri pertahanan.

Leonardo menyatakan kontrak M-346F mencakup lokalisasi sejumlah kemampuan pendukung, pemeliharaan, perbaikan besar, pelatihan, dan pengembangan sumber daya manusia. Namun, perusahaan belum memerinci fasilitas yang akan dibangun di Indonesia, perusahaan lokal yang dilibatkan, maupun target tingkat komponen dalam negeri.

 

Indonesia Siapkan Akuisisi 36 Jet Tempur Ringan M-346F untuk TNI AU
Jet tempur ringan M-346F buatan Italia. dok. European Defence Review

 

M-346F Bisa Digunakan untuk Latihan dan Misi Tempur

M-346F Block 20 tidak hanya dirancang sebagai pesawat latih lanjut. Varian tersebut merupakan jet tempur ringan multiperan yang dapat digunakan untuk latihan penerbang serta menjalankan misi udara ke udara dan udara ke permukaan.

Pesawat akan dilengkapi kokpit dengan Large Area Display, radar berteknologi Active Electronically Scanned Arrayatau AESA, jaringan data Link 16, sistem penanggulangan elektronik, dan integrasi persenjataan baru. Kemampuan pengisian bahan bakar di udara juga menjadi bagian dari konfigurasinya.

Sistem latih M-346 menggabungkan penerbangan nyata, simulator, dan ancaman buatan komputer melalui konsep Live, Virtual and Constructive. Melalui sistem tersebut, pilot dapat menjalani simulasi penggunaan sensor, persenjataan, dan skenario pertempuran tanpa seluruh unsur harus benar-benar dikerahkan dalam latihan.

Leonardo mencatat keluarga M-346 telah membukukan lebih dari 170 ribu jam terbang dengan lebih dari 170 pesawat dipesan. Indonesia akan menjadi pengguna ke-23 sekaligus negara pertama di Asia yang memperoleh standar terbaru Block 20.

 

deretan pesawat tempur Rafale di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta
Penerbang TNI AU memfoto deretan pesawat tempur Rafale di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (18/5/2026). Antara Foto/ Galih Pradipta

 

Kemhan: Sesuai Kebutuhan TNI AU

Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait mengatakan M-346F dipilih untuk memenuhi kebutuhan pendidikan penerbang sekaligus mendukung operasi TNI AU.

"Salah satu pertimbangannya adalah memenuhi kebutuhan pelatihan pilot TNI Angkatan Udara sekaligus mendukung kesiapan operasional," kata Rico.

Menurut Kemhan, spesifikasi dan kemampuan pesawat dinilai sesuai dengan doktrin pertahanan udara Indonesia. Kontrak pembelian telah berlaku efektif dan pengiriman seluruh 12 unit direncanakan dimulai pada 2030 apabila proses produksi berjalan sesuai jadwal.

Pengadaan itu akan menambah sistem pendidikan penerbang tempur yang saat ini antara lain ditopang T-50i Golden Eagle. TNI AU memiliki 22 unit T-50i yang ditempatkan di Skadron Udara 15 Lanud Iswahjudi, Jawa Timur.

TNI AU menempatkan pendidikan transisi menggunakan T-50i sebagai tahapan penting untuk membiasakan pilot muda menghadapi pesawat dengan kecepatan, respons, dan kemampuan manuver lebih tinggi dibandingkan pesawat latih sebelumnya.

M-346F nantinya berpotensi memperluas kapasitas tersebut dengan sistem simulasi dan avionik lebih modern, sekaligus menyediakan kemampuan tempur ringan. Namun, TNI AU dan Kemhan belum mengumumkan pembagian tugas antara armada baru dan T-50i, lokasi penempatan M-346F, maupun kebutuhan infrastruktur pangkalannya.

Menjelang kedatangan pesawat pada 2030, pemerintah perlu menyiapkan pilot, instruktur, teknisi, fasilitas simulator, hanggar, persediaan suku cadang, dan sistem pemeliharaan. Kesiapan seluruh unsur tersebut akan menentukan seberapa cepat 12 M-346F dapat mencapai status operasional.