Periskop.id — Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan ambisinya melihat Tim Nasional Indonesia tampil di Piala Dunia. Di tengah peluncuran Program Mandatori Biodiesel B50 di Rest Area KM 57, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7), Prabowo secara terbuka meminta Menteri Pemuda dan Olahraga sekaligus Ketua Umum PSSI Erick Thohir mencari cara agar Indonesia bisa menembus turnamen sepak bola terbesar dunia.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo dengan nada santai dan diselingi tawa. Namun, pesan yang dibawanya cukup serius. Bagi Prabowo, keberhasilan Indonesia masuk Piala Dunia bukan semata urusan olahraga, melainkan menyangkut harga diri dan kehormatan bangsa.
"Bagaimana caranya masuk Piala Dunia? Saudara-saudara, jangan anggap enteng. Sepak bola itu kehormatan, kehormatan. Siapa yang bertanggung jawab? Mana? Erick Thohir mana Erick Thohir?" kata Prabowo seraya tertawa.
Dalam momen tersebut, Prabowo kemudian memanggil pengusaha Garibaldi Thohir atau Boy Thohir, kakak kandung Erick Thohir. Ia menitipkan pesan agar Boy menyampaikan dorongan itu kepada Erick.
"Boy kasih tahu adikmu itu," kata Prabowo kembali tertawa.
Meski disampaikan dengan gaya ringan, pernyataan itu memperlihatkan, sepak bola tetap menjadi perhatian politik tingkat tinggi. Prabowo bahkan mengaku belum sepenuhnya puas meski Indonesia telah mampu meluncurkan program biodiesel B50. Menurut dia, masih ada satu keresahan yang belum terjawab, yakni Timnas Indonesia belum berhasil tampil di Piala Dunia.
Dalam kesempatan yang sama, Prabowo juga bertanya kepada Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengenai dukungan yang dibutuhkan agar target tersebut bisa dicapai.
"Mana Menteri Keuangan? Apa yang diperlukan supaya kita bisa masuk Piala Dunia?" tanya Prabowo.
Pernyataan itu memperkuat sinyal, target menuju Piala Dunia tidak hanya dibebankan kepada PSSI, tetapi juga membutuhkan dukungan lintas sektor. Sepak bola modern tidak cukup hanya mengandalkan pemain dan pelatih. Dibutuhkan pembinaan usia muda, kompetisi domestik yang sehat, infrastruktur, sport science, pendanaan, pengelolaan klub, hingga tata kelola federasi yang konsisten.
Kejar Target Piala Dunia
Ambisi Prabowo bukan muncul tiba-tiba. Pada pertengahan Juni 2026, Presiden sudah memanggil Erick Thohir dan pelatih Timnas Indonesia John Herdman ke Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Bogor. Pertemuan itu membahas perkembangan olahraga nasional, termasuk langkah penguatan sepak bola Indonesia untuk mengejar target Piala Dunia.
Kala itu, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut pertemuan tersebut kemungkinan membahas rencana penguatan Timnas Indonesia, termasuk proses naturalisasi pemain, persiapan agenda internasional, dan perbaikan kompetisi domestik. Prasetyo menilai pembenahan kompetisi nasional menjadi salah satu kunci untuk melahirkan pemain berkualitas bagi skuad Garuda.
"Pertemuan tersebut kemungkinan membahas langkah-langkah penguatan tim nasional ke depan, termasuk tindak lanjut proses naturalisasi pemain yang baru saja memperoleh persetujuan," ujar Pras.
Dalam konteks target Piala Dunia, Prasetyo juga menegaskan perlunya persiapan yang lebih matang. "Kemungkinan pasti seperti itu dan termasuk rencana-rencana ke depan ya. Tentunya kan kalau kita memiliki keinginan lolos ke Piala Dunia tentunya kita harus mempersiapkan diri dengan jauh lebih matang," kata Prasetyo.
Setelah pertemuan di Hambalang, Erick Thohir menyampaikan, Prabowo memberikan dukungan penuh terhadap program PSSI, terutama untuk persiapan menuju Piala Dunia 2030. Menurut Erick, babak kualifikasi untuk edisi tersebut akan dimulai pada 2027, sehingga persiapan harus dilakukan sejak dini.
"Bapak Presiden bilang, 'Pokoknya semua program dari PSSI untuk pengembangan tim nasional, apalagi untuk persiapan 2030 yang sudah akan dimulai babak kualifikasinya tahun depan bulan September, ini harus benar-benar kita jaga, kita persiapkan'," kata Erick.
Erick juga menyebut Prabowo siap memberi dukungan terhadap program pengembangan sepak bola nasional. "Tadi Bapak Presiden juga sampaikan, 'Pokoknya saya sebagai pimpinan negara, apa pun yang kita bisa support buat sepak bola, saya akan lakukan,'" ujar Erick.
Dukungan itu menjadi penting karena posisi Indonesia di peta sepak bola dunia masih harus diperkuat. Berdasarkan pembaruan resmi FIFA per 11 Juni 2026, Indonesia berada di peringkat 118 dunia. FIFA juga mencatat Indonesia termasuk salah satu negara dengan lonjakan peringkat terbesar pada periode tersebut, naik empat posisi bersama Pakistan, Sri Lanka, dan Yaman.
Peringkat tersebut menunjukkan ada kemajuan, tetapi jarak menuju level Piala Dunia masih panjang. Indonesia perlu konsisten menembus 100 besar dunia, memperbaiki kualitas lawan uji coba, menjaga performa di turnamen regional dan Asia, serta memperkuat kompetisi domestik agar pasokan pemain tidak hanya bergantung pada naturalisasi.
Obsesi Besar Skuad Garuda
Pelatih Timnas Indonesia John Herdman juga sudah menempatkan target Piala Dunia 2030 sebagai obsesi besar skuad Garuda. Setelah bertemu Prabowo di Hambalang, Herdman mengatakan seluruh tim harus bangun setiap hari dengan fokus pada target kualifikasi. Ia menilai lolos ke Piala Dunia akan mengubah sejarah sepak bola Indonesia.
"Beliau adalah salah satu dari 280 juta orang yang ingin kita lolos ke Piala Dunia tahun 2030. Semua yang kita lakukan, setiap hari kita bangun, kita terobsesi dengan kualifikasi itu, karena itu akan mengubah segalanya di negara kita selamanya," tutur Herdman.
Herdman bukan nama asing dalam proyek besar menuju Piala Dunia. Dalam pertemuan di Hambalang, Erick menyampaikan kepada Prabowo bahwa Herdman pernah membantu tim nasional putri Kanada tampil di Piala Dunia.
Rekam jejak itu menjadi salah satu alasan mengapa pemerintah dan PSSI berharap ia mampu membangun arah baru bagi Timnas Indonesia. "Dan juga membantu tim nasional putri Kanada ke Piala Dunia," kata Erick.
Dalam jangka pendek, Herdman menyebut Timnas Indonesia akan menghadapi dua agenda penting, yakni Piala AFF dan FIFA ASEAN. Menurut dia, dua turnamen itu menjadi kesempatan untuk menguji pemain lokal, mengukur kualitas tim, dan membangun mental juara sebelum menatap target yang lebih besar.
"FIFA ASEAN adalah turnamen yang harus kita menangkan untuk menunjukkan bahwa kita berada di puncak di Asia Tenggara. Dan ini adalah langkah penting yang perlu kita ambil, dan untuk membawa pulang trofi sekarang," ucapnya.
Pernyataan Herdman itu sejalan dengan pesan Prabowo soal sepak bola sebagai kehormatan. Indonesia tidak bisa langsung berbicara Piala Dunia jika belum benar-benar dominan di Asia Tenggara dan kompetitif di level Asia. Karena itu, turnamen regional dapat menjadi batu loncatan untuk membangun standar permainan, mental bertanding, dan kedalaman skuad.
Namun, tantangan terbesar tetap berada pada fondasi sepak bola nasional. Prabowo sebelumnya meminta Erick memperbaiki iklim kompetisi domestik agar mampu menghasilkan pemain berkualitas. Pembenahan liga menjadi penting karena tim nasional yang kuat umumnya lahir dari kompetisi yang teratur, profesional, dan memberi menit bermain cukup bagi pemain muda.
Naturalisasi pemain memang dapat membantu menaikkan level tim dalam jangka pendek. Tetapi, target masuk Piala Dunia membutuhkan sistem yang jauh lebih besar. PSSI perlu memastikan klub punya akademi yang berjalan, kompetisi usia muda terhubung dengan liga profesional, pelatih lokal mendapat peningkatan kualitas, dan pemain muda Indonesia mendapatkan pengalaman internasional secara rutin.
Dari sisi pemerintah, dukungan anggaran dan kebijakan juga perlu diarahkan dengan hati-hati. Sepak bola membutuhkan investasi, tetapi bukan sekadar belanja besar. Dana harus masuk ke program yang terukur, seperti pemusatan latihan, sport science, pembinaan pelatih, lapangan latihan, kompetisi usia muda, penguatan liga putri, dan pengembangan data performa pemain.
Dengan format Piala Dunia modern yang lebih luas, peluang negara Asia memang lebih terbuka dibandingkan era sebelumnya. Pada kualifikasi Piala Dunia 2026, Asia mendapat delapan tiket langsung dan satu tempat playoff antarkonfederasi.
Namun, peluang yang lebih besar tetap tidak otomatis membuat jalan Indonesia mudah. Persaingan dengan Jepang, Korea Selatan, Australia, Iran, Arab Saudi, Qatar, Uzbekistan, Irak, dan negara Asia lain tetap sangat berat.
Karena itu, pesan Prabowo kepada Erick dapat dibaca sebagai tekanan sekaligus mandat politik. Pemerintah ingin sepak bola Indonesia naik kelas, bukan hanya ramai oleh dukungan publik, tetapi benar-benar mampu bersaing di jalur kualifikasi.
Bagi publik, pernyataan Prabowo juga memperlihatkan bagaimana sepak bola telah menjadi simbol harapan nasional. Ketika Presiden menyebut sepak bola sebagai kehormatan, target Piala Dunia tidak lagi hanya menjadi urusan federasi, pelatih, atau pemain, tetapi juga menjadi proyek kebanggaan bersama.
Tantangannya kini ada pada konsistensi. Indonesia perlu mengubah euforia menjadi program jangka panjang. Dukungan presiden, kerja PSSI, kualitas pelatih, pembenahan liga, dan pembinaan pemain muda harus berjalan satu arah. Tanpa itu, target Piala Dunia hanya akan menjadi slogan yang berulang setiap generasi.
Namun, jika momentum ini dikelola serius, dorongan Prabowo bisa menjadi titik tekan baru bagi transformasi sepak bola nasional. Dari Karawang, pesan Presiden jelas: Indonesia sudah bisa bicara kemandirian energi lewat B50, tetapi di lapangan hijau, pekerjaan besar masih menunggu. Garuda harus menemukan jalan menuju Piala Dunia.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar