Periskop.id - Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Bobby Rasyidin memastikan seluruh perjalanan KRL lintasan Bogor-Jakarta Kota akan beralih ke formasi 12 rangkaian (SF12) mulai pekan depan. Langkah ini diambil untuk menekan kepadatan penumpang di lintasan tersibuk di jaringan KRL.

Saat ini, Bogor Line masih mengandalkan campuran formasi delapan rangkaian (SF8) dan 10 rangkaian (SF10). Bobby memaparkan, kepadatan perlu segera diatasi mengingat rute Bogor-Jakarta Kota merupakan simpul dengan volume pergerakan penumpang terbesar di seluruh jaringan KRL.

"Jadi Bogor semuanya SF12, tidak ada lagi SF8 dan SF10. Mulai minggu depan," ujarnya, dikutip Kamis (9/7).

Transisi ke SF12 secara penuh memerlukan kesiapan infrastruktur di Stasiun Bogor. Stasiun ini memiliki delapan peron, namun sebelumnya hanya peron 2, 3, 4, dan 5 yang mampu melayani rangkaian SF12. Peron 6, 7, dan 8 selama ini hanya bisa menampung SF8.

KAI telah menggarap pengembangan ketiga peron tersebut sejak 15 April 2026. Pekerjaan itu kini memasuki tahap finishing dan berjalan paralel dengan uji operasional, dengan target penyelesaian penuh pada 15 Juli 2026.

Cakupan pengerjaannya meliputi struktur dan arsitektur, mechanical, electrical, and plumbing (MEP), pekerjaan jalan rel, serta listrik aliran atas (LAA). KAI turut memasang kanopi di area peron guna meningkatkan kenyamanan penumpang saat menunggu, baik ketika cuaca panas maupun hujan.

Sebelum dioperasikan penuh, KAI telah menjalankan uji beban menggunakan lokomotif pada 29 Juni 2026 dan dilanjutkan dengan uji coba operasional KRL pada 1 Juli 2026. Tahapan tersebut dimaksudkan untuk memverifikasi keselamatan, keandalan prasarana, dan kelancaran operasional.

Sejalan dengan transisi SF12, rute Nambo juga mengalami perubahan. Layanan yang sebelumnya melayani Nambo-Jakarta Kota akan dialihkan menjadi Nambo-Bogor, sehingga penumpang yang hendak menuju Nambo dari arah Jakarta dapat transit di Stasiun Citayam.

Bogor Line tercatat sebagai lintasan KRL dengan jumlah penumpang terbesar. Sepanjang Januari-Juni 2026, lintasan ini melayani 78,07 juta penumpang, mencerminkan tingginya ketergantungan warga Bogor, Depok, dan kawasan penyangga pada transportasi berbasis rel.

Tren penumpang Bogor Line terus menanjak dari tahun ke tahun. Dari 102,05 juta pada 2022, angka itu tumbuh ke 133,04 juta pada 2023, kemudian 145,92 juta pada 2024, dan mencapai 155 juta pada 2025.

Di lintasan ini, Stasiun Bogor menjadi simpul tersibuk dengan rata-rata 101.942 pergerakan penumpang per hari. Sepanjang Januari-Juni 2026, tercatat 9,37 juta penumpang masuk (gate in) dan 9.080.405 penumpang keluar (gate out) di stasiun tersebut.