Periskop.id — Unai Simon menutup Piala Dunia 2026 dengan catatan yang belum pernah dibuat penjaga gawang lain. Kiper Spanyol itu meraih adidas Golden Glove setelah mencatatkan tujuh nirbobol dalam delapan pertandingan dan hanya kemasukan satu gol sepanjang turnamen.

Nirbobol terakhir dibukukan ketika Spanyol menundukkan Argentina 1-0 melalui perpanjangan waktu pada final di New York New Jersey Stadium, Minggu (19/7) waktu setempat atau Senin (20/7) pagi WIB. Gol Ferran Torres pada menit ke-106 memastikan La Roja meraih gelar dunia kedua setelah sebelumnya menjadi juara pada 2010.

Sebelum final, Simon sudah mencatatkan enam nirbobol dalam tujuh pertandingan, yang saat itu juga menjadi rekor baru dalam satu edisi Piala Dunia. Keberhasilannya kembali menjaga gawang pada laga penentu membuat catatan tersebut bertambah menjadi tujuh.

Hanya Belgia yang Mampu Menjebol Gawang Simon

Satu-satunya gol yang bersarang di gawang Simon sepanjang turnamen dicetak Charles De Ketelaere ketika Spanyol mengalahkan Belgia 2-1 pada perempat final. Gol pada menit ke-41 tersebut sekaligus menghentikan rangkaian sekitar 650 menit tanpa kebobolan yang dicatat Simon dalam dua edisi Piala Dunia.

Setelah itu, Simon kembali menjaga gawangnya ketika Spanyol menundukkan Prancis 2-0 pada semifinal. Ia kemudian menutup turnamen dengan nirbobol menghadapi Argentina, meskipun pertandingan final berlangsung hingga 120 menit.

Catatan tujuh nirbobol melampaui rekor lama lima pertandingan yang sebelumnya pernah dibuat Jan Jongbloed, Walter Zenga, Taffarel, Fabien Barthez, Oliver Kahn, Gianluigi Buffon, dan Iker Casillas.

Luis de la Fuente sebelumnya menyampaikan kebanggaannya ketika Simon memecahkan rekor menit tanpa kebobolan pada fase gugur.

“Saya bangga kepadanya. Saya merasa dia seperti anggota keluarga saya. Saya sangat bahagia untuknya,” kata De la Fuente, dalam terjemahan.

Lebih dari Sekadar Penjaga Garis Gawang

Keberhasilan Simon tidak hanya lahir dari kemampuan menghentikan tembakan. Penjaga gawang Athletic Bilbao itu menjadi bagian penting dari pola permainan Spanyol yang membangun serangan sejak area pertahanan.

Ia dituntut tenang ketika menerima bola di bawah tekanan, berani keluar dari kotak penalti, serta cepat membaca umpan yang diarahkan ke belakang garis pertahanan. FIFA sebelumnya menggambarkan Simon sebagai kiper yang cocok dengan karakter permainan Spanyol karena aktif dalam distribusi bola dan tetap tenang dalam situasi sulit.

Peran tersebut terlihat pada awal final. Simon berlari jauh keluar dari gawang untuk memotong umpan terobosan Argentina sebelum bola mencapai Lionel Messi dan Julian Alvarez. Keberaniannya meninggalkan area penalti membantu Spanyol mempertahankan garis pertahanan tinggi tanpa memberi ruang serangan balik kepada lawan.

Namun, penghargaan individu tersebut juga tidak bisa dipisahkan dari kekuatan kolektif pertahanan Spanyol. Aymeric Laporte dan Pau Cubarsi tampil stabil sebagai pasangan bek tengah, sementara Pedro Porro dan Marc Cucurella membantu menutup ruang dari kedua sisi.

“Simon memainkan peran sangat besar dalam kemenangan, tetapi ini bukan hanya tentang individu. Ini tentang seluruh kelompok yang bersatu dalam upaya bertahan tersebut,” kata De la Fuente, dalam terjemahan.

Argentina hampir tidak mampu menciptakan ancaman berarti dalam final. Spanyol menguasai pertandingan dan baru kebobolan peluang berbahaya menjelang akhir perpanjangan waktu, ketika tendangan Giuliano Simeone melambung dari jarak dekat.

Sempat Diperdebatkan Sebelum Turnamen

Posisi penjaga gawang utama Spanyol sempat menjadi bahan perdebatan menjelang Piala Dunia. David Raya datang setelah tampil kuat bersama Arsenal, sedangkan Joan Garcia menjalani musim yang menonjol bersama Barcelona.

Meski menjadi pesaing, Raya justru memberikan dukungan terbuka kepada Simon sebelum pertandingan pertama Spanyol.

“Spanyol berada di tangan yang sangat baik siapa pun yang bermain. Saya pikir Unai Simón, sejak debutnya, telah meningkatkan level posisi penjaga gawang. Kami memenangi Nations League dan Kejuaraan Eropa bersamanya. Saya pikir dia adalah penjaga gawang hebat yang telah membantu kami meraih gelar-gelar tersebut sebagai pemain utama,” kata Raya, dalam terjemahan.

De la Fuente akhirnya tetap mempercayakan posisi utama kepada Simon. Keputusan tersebut dibayar dengan tujuh nirbobol, rekor Piala Dunia, gelar juara, dan penghargaan untuk penjaga gawang terbaik turnamen.

Ikuti Jejak Iker Casillas

Simon menjadi kiper Spanyol kedua yang memperoleh penghargaan penjaga gawang terbaik Piala Dunia. Sebelumnya, Iker Casillas meraih Golden Glove ketika membawa La Roja menjuarai Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

Penghargaan tersebut pertama kali diberikan pada 1994 dengan nama Lev Yashin Award, sebelum kemudian dikenal sebagai adidas Golden Glove. Michel Preud’homme menjadi penerima perdana, disusul Barthez, Kahn, Buffon, Casillas, Manuel Neuer, Thibaut Courtois, dan Emiliano Martinez.

Simon kini masuk dalam daftar tersebut dengan pencapaian yang berbeda. Ia bukan hanya menjadi kiper terbaik turnamen, tetapi juga menetapkan standar baru jumlah nirbobol dalam satu edisi Piala Dunia.

Di tengah sorotan terhadap Rodri, Lamine Yamal, dan Ferran Torres, Simon menjalankan tugas yang sering kali baru terlihat ketika terjadi kesalahan. Selama delapan pertandingan, kesalahan itu nyaris tidak pernah datang. Tujuh kali gawangnya tidak tersentuh gol dan Spanyol pulang dengan bintang kedua di atas lambang negaranya.