Periskop.id - Spanyol akhirnya menutup Piala Dunia FIFA 2026 sebagai juara setelah mengalahkan Argentina 1-0 dalam final yang berjalan selama 120 menit di New York New Jersey Stadium, Minggu, 19 Juli 2026 waktu setempat.

Gol Ferran Torres pada menit ke-106 menjadi pembeda. Namun, sebelum bola tendangannya mengoyak gawang Emiliano Martinez, pertandingan telah lebih dahulu dibentuk oleh serangkaian keputusan penting wasit asal Slovenia, Slavko Vinčić. Mulai dari kartu merah Enzo Fernandez, gol Nico Williams yang dianulir, hingga batas toleransi pelanggaran yang beberapa kali terasa begitu lebar.

Membiarkan Pertandingan Bernapas

Vinčić memasuki final dengan pendekatan yang cukup permisif. Alexis Mac Allister lolos dari kartu setelah menerjang Dani Olmo pada menit ke-14. Sepuluh menit kemudian, Rodri juga tidak dihukum kartu ketika menarik Lionel Messi yang telah melewatinya.

Kartu kuning pertama baru keluar pada menit ke-41. Lisandro Martinez dihukum setelah menghentikan Mikel Oyarzabal secara sengaja ketika Spanyol mencoba melancarkan serangan balik. Pendekatan ini membuat laga tidak terlalu sering terputus, tetapi sekaligus membentuk standar tinggi tentang pelanggaran seperti apa yang layak diganjar kartu.

Standar itu kembali terlihat pada babak kedua. Leandro Paredes memperoleh kartu kuning pada menit ke-52 setelah insiden tanpa bola dengan Rodri yang disusul keributan kecil antarpemain.

Masalahnya, setelah mengantongi kartu, Paredes masih melakukan pelanggaran terhadap Pedro Porro pada menit ke-60 dan menjatuhkan Ferran Torres di depan kotak penalti pada masa tambahan waktu. Vinčić tetap mempertahankannya di lapangan. Pilihan tersebut memperlihatkan bahwa sang wasit benar-benar enggan mengeluarkan kartu kedua kecuali pelanggarannya tidak lagi bisa ditoleransi.

Protes Enzo Berujung Petaka

Titik balik final datang dari Enzo Fernandez. Gelandang Argentina tersebut mendapat kartu kuning pada menit ke-82 karena memprotes keputusan wasit, kemudian meresponsnya dengan tepuk tangan bernada sinis. Tiga menit berselang, Enzo menghalangi Spanyol mengambil tendangan bebas cepat. Vinčić kembali menahan kartunya.

Kesempatan itu tidak dimanfaatkan Enzo untuk menurunkan agresivitas. Pada menit ke-90+3, ia terlambat menghantam Pau Cubarsi hingga bek muda Spanyol tersebut terpelanting. Vinčić langsung mengeluarkan kartu kuning kedua dan disusul kartu merah.

Keputusan itu menjadi salah satu putusan terkuatnya sepanjang laga. AP menggambarkan tekel tersebut sebagai tindakan ceroboh, sedangkan Reuters memastikan Argentina harus memasuki perpanjangan waktu dengan sepuluh pemain. Enzo sempat melakukan protes sebelum akhirnya meninggalkan lapangan.

Dalam protokol IFAB 2026, VAR dapat meninjau kartu merah yang lahir dari kartu kuning kedua apabila keputusan itu terbukti jelas keliru. Tidak ada koreksi terhadap keputusan Vinčić, sehingga pengusiran Enzo tetap berlaku. VAR juga tidak diperbolehkan turun tangan hanya karena wasit melewatkan potensi kartu kuning kedua pada kejadian lain.

Peluit Dini yang Menghapus Gol Nico Williams

Keputusan paling kontroversial terjadi pada menit ke-96.

Nico Williams menyambar bola liar dan memasukkannya ke gawang Argentina. Akan tetapi, sebelum bola melewati garis, Vinčić telah meniup peluit karena menilai Mikel Merino menginjak kaki Nicolas Otamendi dalam proses serangan.

Kontaknya terlihat ringan, tetapi peluit telah lebih dahulu menghentikan permainan. Artinya, VAR tidak dapat menghidupkan kembali rangkaian serangan tersebut dan mengesahkan gol. Teknologi video hanya dapat memeriksa keputusan dalam permainan yang masih berlangsung, bukan menciptakan gol dari situasi yang telah dinyatakan mati oleh wasit.

Inilah kelemahan terbesar Vinčić dalam final. Ia memang melihat kontak, tetapi keputusannya meniup peluit terlalu cepat menutup kesempatan VAR melakukan pemeriksaan secara utuh. Dalam situasi pertandingan sebesar final Piala Dunia, menunggu beberapa detik sebelum menghentikan serangan bisa menjadi pilihan yang jauh lebih aman.

Offside Ferran dan Tidak Ada Drama Penalti

Spanyol kembali melihat golnya dianulir pada menit ke-114 ketika Ferran Torres lolos sendirian dan menaklukkan Martinez. Berbeda dengan insiden Williams, keputusan kali ini relatif bersih. Teknologi offside semiotomatis segera memastikan Torres berada sedikit di depan pemain terakhir Argentina.

Vinčić juga tidak memberikan penalti sepanjang pertandingan. Salah satu seruan penting muncul pada menit ke-90+2 ketika Messi bertabrakan dengan Aymeric Laporte. Pemain Argentina meminta hukuman lebih berat, tetapi Vinčić hanya memberikan tendangan bebas dan tidak diarahkan oleh VAR untuk melihat monitor.

Tetap Mengendalikan Suhu Final

Ketegangan tidak berhenti setelah kartu merah Enzo. Lionel Scaloni mendapat kartu kuning pada menit ke-105 setelah keributan di area teknis, sedangkan Mac Allister menyusul masuk buku catatan wasit pada menit ke-111.

Vinčić tidak sepenuhnya konsisten dalam menentukan batas kartu, terutama ketika pemain yang telah mendapat peringatan kembali melakukan pelanggaran. Namun, ia berhasil mencegah final berubah menjadi konfrontasi massal. Tidak ada insiden besar yang lepas dari kendali, tidak ada penalti kontroversial, dan kartu merah paling menentukan diberikan dengan cepat serta dapat dipertanggungjawabkan.

Pada akhirnya, performa Vinčić bukan pertunjukan tanpa cela. Peluit dini sebelum gol Nico Williams menjadi noda terbesar, sementara toleransinya terhadap sejumlah pelanggaran dapat diperdebatkan.

Namun, dalam tiga keputusan yang paling menentukan, kartu merah Enzo, pembatalan gol Williams, dan offside Ferran Torres, Vinčić memiliki dasar keputusan yang dapat dijelaskan. Ia tidak menjadi tokoh utama final, tetapi keputusannya ikut membuka jalan bagi Spanyol untuk mengubah dominasi panjang menjadi gol juara pada menit ke-106.