Periskop.id - Iran memakamkan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei di kompleks Makam Imam Reza, Mashhad, pada Kamis (9/7). Prosesi itu berlangsung usai sepekan rangkaian upacara duka yang menyebar di sejumlah kota di Iran dan Irak.
Ribuan warga memadati jalanan Mashhad sejak pagi hari, mengibarkan bendera Iran dan mengangkat foto sang mendiang sembari menunggu iring-iringan jenazah melintas menuju lokasi pemakaman.
"Saya bersumpah demi darah Pemimpin Tertinggi, Trump, kami akan membunuhmu!" teriak massa secara serempak dalam prosesi pemakaman di Mashhad, Kamis (9/7).
Sejumlah perempuan juga terlihat membawa poster bertuliskan "Bunuh Trump". Para pemimpin ulama Republik Islam Iran sebelumnya mendorong masyarakat untuk hadir dalam prosesi tersebut sebagai simbol kekuatan dan semangat ideologi negara.
Di tengah itu, sorotan publik turut tertuju pada Mojtaba Khamenei, putra Ali Khamenei yang ditetapkan sebagai Pemimpin Tertinggi baru oleh Majelis Ulama sekitar sepekan setelah sang ayah wafat. Ia belum sekalipun muncul di hadapan publik sejak perang dimulai dengan serangan yang menewaskan Ali Khamenei pada 28 Februari lalu.
Selama ini, Mojtaba hanya mengeluarkan pernyataan tertulis tanpa disertai foto, rekaman video, maupun suara. Menurut sejumlah sumber senior di Teheran yang dikutip Reuters, ia mengalami luka serius dalam serangan yang sama yang merenggut nyawa ayahnya.
Wajah Mojtaba disebut mengalami cedera berat dan beberapa anggota tubuhnya turut terluka parah. Kondisinya diklaim terus membaik, namun belum pulih cukup untuk tampil di depan umum.
Aparat keamanan Iran juga disebut membatasi kemunculan Mojtaba sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan serangan lanjutan dari Amerika Serikat. Ketegangan antara kedua negara disebut kembali memanas setelah masa gencatan senjata berakhir beberapa pekan sebelumnya.
Sebelum dimakamkan di Mashhad, jenazah Ali Khamenei bersama empat anggota keluarganya yang turut tewas dalam serangan tersebut diarak melewati Teheran, kota suci Qom, serta dua kota suci Syiah di Irak, yakni Najaf dan Karbala. Di tiap lokasi, ribuan pelayat memadati jalanan sambil melantunkan ratapan khas Syiah dan meneriakkan slogan revolusi.
Kematian Khamenei di tangan serangan asing dinilai memperkuat narasi keagamaan Syiah soal konsep syahid. Narasi itu sudah lama menjadi bagian dari identitas politik dan ideologi Republik Islam Iran.
Pemakaman ini terjadi di tengah masa transisi penting bagi Iran setelah hampir empat dekade kepemimpinan Khamenei. Beberapa bulan sebelumnya, gelombang demonstrasi nasional mengguncang Iran, dipicu kondisi ekonomi yang merosot akibat tekanan sanksi internasional, dan ditumpas aparat keamanan dengan ribuan demonstran dilaporkan tewas.
Sejumlah analis menilai Iran keluar dari konflik terbaru dengan posisi strategis yang tetap kuat karena masih menguasai Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling vital di dunia. Namun, kerusakan luas akibat perang disebut terus memperburuk kondisi ekonomi negara.
Ali Khamenei menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran sejak 1989, usai Revolusi Islam, dan selama 37 tahun memperkuat kendali atas kekuasaan politik, ekonomi, serta militer negaranya. Mojtaba, yang disebut mendapat dukungan dari Korps Garda Revolusi Islam Iran, kini mewarisi kepemimpinan sebuah negara yang tengah bergulat dengan dampak perang sekaligus tekanan ekonomi berkepanjangan.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar