Periskop.id - Masalah kesetiaan selalu menjadi topik yang hangat sekaligus sensitif dalam sebuah hubungan asmara. Banyak orang sering bertanya-tanya apakah ada cara untuk membaca tanda-tanda atau memprediksi apakah pasangan mereka akan berselingkuh atau tidak di masa depan.
Sebuah studi yang dipublikasikan pada 2021 di The Journal of Sex Research mencoba menjawab rasa penasaran tersebut melalui pendekatan teknologi mutakhir.
Lewat artikel ilmiah berjudul “Is Infidelity Predictable? Using Explainable Machine Learning to Identify the Most Important Predictors of Infidelity”, para peneliti memanfaatkan kecerdasan buatan untuk membongkar misteri di balik runtuhnya komitmen cinta.
Dalam dunia psikologi, perselingkuhan diakui sebagai salah satu peristiwa yang paling merusak kebahagiaan batin dan keharmonisan pasangan.
Dampak buruknya tidak hanya dirasakan oleh dua orang yang menjalin hubungan, melainkan bisa meluas hingga memengaruhi kondisi psikologis anak-anak, keluarga besar, bahkan lingkaran pertemanan terdekat.
Melalui bantuan teknologi, para ilmuwan berharap bisa menemukan rambu-rambu peringatan dini agar keretakan hubungan bisa diantisipasi sebelum terlambat.
Ketika Kecerdasan Buatan Turun Tangan Meramal Kesetiaan
Selama ini, penelitian tentang perselingkuhan dinilai kurang akurat karena hanya mengandalkan metode statistik tradisional yang kaku atau model linear.
Model linear sendiri adalah metode hitungan matematika sederhana yang berasumsi bahwa hubungan sebab-akibat selalu berjalan searah dan lurus. Kelemahan metode lama ini adalah ketidakmampuannya dalam membaca pola interaksi manusia yang sangat rumit dan penuh dengan variabel yang saling tumpang-tindih.
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, studi mutakhir ini melibatkan 1.295 responden dan menerapkan algoritma pembelajaran mesin (machine learning) yang disebut random forest.
Secara sederhana, random forest adalah sistem kecerdasan buatan yang bekerja seperti gabungan ratusan pohon keputusan yang saling memeriksa data secara bercabang untuk menghasilkan prediksi yang jauh lebih akurat.
Hebatnya, para peneliti juga memadukannya dengan teknik Shapley Values, sebuah metode kalkulasi yang diadopsi dari teori permainan untuk mengukur seberapa besar bobot pengaruh atau kontribusi nyata dari setiap faktor yang memicu perselingkuhan.
Dari hasil olah data teknologi tersebut, para ilmuwan menyimpulkan bahwa perselingkuhan ternyata agak bisa diprediksi.
Meskipun kecerdasan buatan tidak bisa memberikan tebakan yang 100% mutlak karena masih banyak faktor misterius lainnya dalam dinamika manusia, performa prediksi dari sistem ini tercatat berada di atas tingkat kebetulan dengan hasil akurasi yang menjanjikan.
Kunci Utama Prediksi Ada di Dalam Hubungan, Bukan Faktor Luar
Menariknya, kecerdasan buatan ini menemukan bahwa faktor penentu terbesar dari perselingkuhan, baik yang dilakukan secara langsung bertatap muka maupun yang terjadi secara daring lewat internet, bersumber dari dalam hubungan itu sendiri.
Variabel seperti tingkat kepuasan hubungan, rasa cinta romantis, besarnya hasrat seksual terhadap pasangan, dan durasi atau lamanya hubungan berjalan menjadi deretan faktor yang paling konsisten dalam mendeteksi potensi ketidaksetiaan.
Temuan ini mematahkan anggapan lama yang sering kali menuding faktor luar atau latar belakang individu sebagai biang keladi utama.
Berbagai hal yang selama ini dianggap sangat berpengaruh seperti tingkat pendidikan seseorang, status hubungan, gaya kelekatan emosional, hingga faktor gender atau jenis kelamin ternyata tidak masuk dalam daftar prediktor terpenting dalam studi ini.
Hal ini sekaligus memperkuat bukti bahwa kesenjangan perilaku selingkuh antara pria dan wanita di era modern ini sudah semakin menipis.
Kesimpulan besar dari riset berbasis teknologi ini memberikan pesan penting bagi kita semua bahwa benteng pertahanan terbaik melawan perselingkuhan adalah dengan merawat kualitas hubungan itu sendiri.
Menjaga komunikasi, menyelesaikan konflik sekecil apa pun sejak dini, serta memastikan kepuasan emosional dan seksual pasangan tetap terpenuhi merupakan langkah preventif terbaik.
Sebab, ketika sebuah hubungan sudah dipenuhi rasa tidak puas, celah bagi hadirnya orang ketiga akan terbuka lebar, tidak peduli seberapa baik latar belakang pendidikan atau status sosial seseorang.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar