Periskop.id - Tempat kerja sering dianggap sebagai ruang profesional. Di sana orang datang untuk menyelesaikan pekerjaan, mengejar target, ikut rapat, bertemu klien, dan membangun karier.
Namun, di balik rutinitas itu, kantor juga bisa menjadi tempat munculnya kedekatan emosional yang tidak selalu disadari sejak awal.
Perselingkuhan di tempat kerja menjadi topik yang semakin banyak dibicarakan karena hubungan antarrekan kerja sering terbangun dari interaksi harian yang intens. Mulai dari bekerja dalam satu tim, lembur bersama, saling curhat soal tekanan kerja, sampai terbiasa bertukar pesan di luar jam kantor.
Bagi sebagian orang, kedekatan seperti ini mungkin terasa biasa saja. Namun, jika batas personal mulai kabur, relasi kerja bisa berubah menjadi hubungan emosional yang lebih dalam.
Di titik inilah risiko perselingkuhan mulai muncul, terutama jika salah satu atau kedua pihak sudah memiliki pasangan.
Salah satu alasan perselingkuhan di tempat kerja bisa terjadi adalah karena intensitas pertemuan. Rekan kerja bisa menghabiskan waktu berjam-jam dalam satu ruangan, menghadapi tekanan yang sama, dan saling memahami masalah pekerjaan yang mungkin tidak selalu dipahami pasangan di rumah.
Kedekatan ini bisa menciptakan rasa nyaman. Awalnya mungkin hanya saling membantu menyelesaikan tugas, lalu berubah menjadi sering bercerita, saling memberi perhatian, dan merasa lebih dimengerti oleh rekan kerja dibanding pasangan sendiri.
Survei Rant Casino di Inggris yang dikutip IOL menemukan bahwa 85% perselingkuhan disebut dimulai di tempat kerja. Survei yang sama juga mencatat satu dari lima pekerja mengaku pernah tidak setia dengan rekan kerja.
Awalnya Sering Terlihat Sepele
Perselingkuhan di tempat kerja jarang langsung dimulai dari hal besar. Sering kali, awalnya tampak sangat halus dan terasa tidak berbahaya.
Misalnya, seseorang mulai lebih sering bercerita kepada rekan kerja dibanding pasangannya. Pesan yang semula soal pekerjaan berubah menjadi obrolan personal.
Candaan mulai terasa terlalu intim hingga perhatian kecil mulai dinanti. Lalu perlahan, ada rasa ingin selalu terhubung dengan orang tersebut.
Bagi perempuan, fase ini sering terasa membingungkan. Di satu sisi, kedekatan emosional bisa terasa hangat dan menenangkan. Di sisi lain, ada rasa bersalah karena sadar bahwa hubungan itu mulai melewati batas.
Batas yang sehat biasanya mulai terganggu ketika seseorang menyembunyikan komunikasi dari pasangan, merasa perlu menghapus chat, menunggu perhatian dari rekan kerja secara berlebihan, atau mulai membandingkan pasangan dengan orang di kantor.
Faktor Kesempatan dan Kedekatan Emosional
Studi Masanori Kuroki yang terbit di Economics Letters pada 2013 meneliti hubungan antara komposisi rekan kerja lawan jenis dan perselingkuhan dalam pernikahan.
Studi tersebut menemukan bahwa pada laki-laki, peluang pernah tidak setia meningkat ketika proporsi rekan kerja lawan jenis lebih besar.
Temuan ini tidak berarti semua orang yang bekerja dengan lawan jenis akan berselingkuh. Namun, studi tersebut menunjukkan bahwa lingkungan kerja dapat menciptakan peluang dan kedekatan yang berpengaruh pada perilaku relasi.
Dalam banyak kasus, perselingkuhan bukan hanya soal ketertarikan fisik. Kedekatan emosional justru sering menjadi pintu masuk yang lebih kuat.
Ketika seseorang merasa didengar, dipahami, dan dihargai oleh rekan kerja, sementara hubungan di rumah sedang terasa dingin atau penuh konflik, risiko keterikatan emosional bisa meningkat.
Peran Chat dan Komunikasi Digital
Dulu, kedekatan di kantor mungkin terbatas pada ruang kerja. Sekarang, hubungan bisa berlanjut lewat chat, pesan pribadi, media sosial, dan aplikasi kerja.
Hubungan romantis di tempat kerja dapat berkembang melalui berbagai bentuk komunikasi, termasuk pertemuan langsung, telepon, pesan langsung, dan acara kerja seperti happy hour atau pesta kantor.
Komunikasi digital membuat batas menjadi lebih mudah kabur. Pesan yang dikirim malam hari, curhat personal yang terus berulang, atau candaan yang semakin intim bisa membuat hubungan terasa lebih dekat dari seharusnya.
Masalahnya, banyak orang tidak langsung menyadari bahwa komunikasi tersebut sudah masuk ke area emosional yang sensitif. Mereka mungkin merasa tidak melakukan apa-apa karena belum ada hubungan fisik. Padahal, bagi banyak pasangan, perselingkuhan emosional juga dapat melukai kepercayaan.
Dampaknya Bisa Lebih Luas dari Hubungan Pribadi
Perselingkuhan di tempat kerja tidak hanya menyakiti pasangan. Dampaknya juga bisa terasa di lingkungan kerja.
Jika hubungan tersebut terbongkar, suasana tim bisa berubah. Rekan kerja lain mungkin merasa tidak nyaman, muncul gosip, kepercayaan menurun, dan profesionalitas ikut dipertanyakan. Jika melibatkan atasan dan bawahan, risikonya bisa lebih serius karena ada potensi konflik kepentingan atau dugaan perlakuan istimewa.
Riset dari Society for Human Resource Management (SHRM) pada 2023 juga menyoroti bahwa workplace romance merupakan isu yang kompleks bagi organisasi. Riset tersebut melibatkan pekerja dan profesional HR untuk melihat bagaimana hubungan romantis di tempat kerja terjadi dan bagaimana perusahaan meresponsnya.
Karena itu, banyak perusahaan memiliki aturan terkait hubungan antarkaryawan. Tujuannya bukan untuk mengatur kehidupan pribadi secara berlebihan, tetapi untuk mencegah konflik kepentingan, menjaga keamanan kerja, dan melindungi karyawan dari relasi yang tidak sehat.
Apa yang Bisa Dilakukan agar Tidak Terbawa Perasaan?
Bagi perempuan yang bekerja di lingkungan intens, penting untuk mengenali batas sejak awal. Punya teman dekat di kantor tentu boleh. Namun, tetap perlu ada kesadaran tentang hal-hal yang sebaiknya tidak melewati batas.
Jika kamu sudah punya pasangan, coba tanyakan pada diri sendiri apakah obrolan dengan rekan kerja itu akan tetap nyaman jika pasanganmu membacanya. Jika jawabannya tidak, mungkin ada batas yang mulai bergeser.
Jaga komunikasi tetap proporsional. Tidak semua masalah hubungan perlu diceritakan ke rekan kerja yang membuatmu merasa nyaman. Curhat soal pasangan kepada orang yang diam-diam kamu sukai bisa membuka ruang keterikatan emosional yang sulit dikendalikan.
Kalau mulai merasa terlalu menunggu perhatian dari rekan kerja, coba ambil jarak sebentar. Bukan berarti harus bersikap dingin, tetapi memberi ruang agar hubungan kembali pada konteks profesional.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar