periskop.id – Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Aviliani menilai program hilirisasi perlu diarahkan lebih jauh ke industri turunannya agar nilai tambah komoditas Indonesia lebih besar lagi.

 

Advertisement

"Nilai tambah terbesar bukan di tambang, tetapi di industri turunannya," kata Aviliani dikutip dari Antara, Selasa (26/5).

 

Aviliani mengungkapkan hilirisasi perlu masuk ke rantai nilai yang lebih dalam. Sektor tersebut meliputi manufaktur lanjutan, petrokimia, industri hijau, baterai, industri turunan mineral, hingga ekosistem industri hilir.

 

Langkah ini didasarkan pada data produk olahan mineral yang memiliki nilai tambah 10 sampai 20 kali lebih tinggi dibandingkan bahan mentah. Indonesia dinilai memiliki momentum besar untuk memperkuat hilirisasi karena menguasai sekitar 60 persen produksi nikel dunia.

 

Pemerintah sendiri menargetkan investasi hilirisasi mencapai Rp3.800 triliun untuk komoditas prioritas.

 

Komoditas tersebut antara lain nikel, tembaga, bauksit, dan timah.

Namun, Aviliani mengingatkan hilirisasi perlu didukung kesiapan infrastruktur, energi, teknologi, sumber daya manusia, dan kepastian pasar.

 

"Berilah iklim yang kondusif kepada swasta karena itu akan mendukung pertumbuhan ekonomi dari sisi investasi," ujarnya.

 

Tanpa dukungan tersebut, hilirisasi berisiko berhenti pada tahap pemurnian atau refining saja. Kondisi ini belum menghasilkan nilai tambah optimal bagi perekonomian nasional.

 

Risiko yang perlu dihindari adalah terjebak pada resource nationalism tanpa industrial deepening. Penguatan nilai tambah tidak cukup hanya dilakukan dengan mengolah bahan mentah.

 

Pemerintah harus membangun industri lanjutan yang mampu menyerap teknologi dan menciptakan pekerjaan berkualitas. Langkah ini juga penting untuk memperkuat daya saing nasional.

 

Aviliani menilai tujuan akhir hilirisasi harus diarahkan untuk membangun basis manufaktur. Ekosistem ini akan meningkatkan transfer teknologi, memperkuat ekspor bernilai tambah, serta menciptakan lapangan kerja berkualitas.

 

Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat industri pengolahan tumbuh 5,04 persen secara tahunan pada triwulan I. Pada periode yang sama, subsektor industri mesin dan perlengkapan tumbuh 21,93 persen.

 

Sementara itu, industri komputer, barang elektronik, dan optik tumbuh 10,35 persen. Data tersebut menunjukkan ruang penguatan industri turunan masih terbuka apabila hilirisasi diarahkan untuk memperdalam struktur manufaktur nasional.

 

Menurut Aviliani, momentum ketidakpastian global dapat dimanfaatkan untuk memperkuat struktur industri domestik. Manfaat lebih besar akan diperoleh Indonesia ketika tekanan eksternal mereda.

 

"Momentum ini sebenarnya adalah momentum membereskan domestik. Nanti ketika perang (global) itu sudah selesai, kita akan mendapatkan manfaat itu," ungkap dia.

 

Hilirisasi yang naik kelas dapat menjadi salah satu jalan untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi. Upaya ini juga meningkatkan ekspor bernilai tambah dan mengurangi ketergantungan pada komoditas mentah.

 

Pemerintah terus mendorong percepatan hilirisasi sebagai strategi meningkatkan nilai tambah sumber daya alam. Strategi ini juga ditujukan untuk memperkuat struktur industri nasional.

 

Kementerian Investasi dan Hilirisasi sebelumnya menargetkan investasi lebih dari Rp3.800 triliun hingga 2030 untuk pengembangan industri hilir dari 15 komoditas prioritas. Komoditas tersebut antara lain nikel, tembaga, bauksit, dan baja.

 

Pemerintah juga mendorong hilirisasi mineral kritis. Kebijakan ini diambil untuk mendukung transisi energi dan penguatan rantai pasok industri global.

 

Melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), pemerintah mulai mempercepat sejumlah proyek hilirisasi strategis. Proyek tersebut mencakup pengembangan hilirisasi nikel, dimethyl ether (DME), dan kilang gasoline.

 

Akselerasi ini juga menyasar industri pengolahan sawit dan kelapa di berbagai daerah. Langkah tersebut dilakukan guna memperkuat ekosistem industri nasional dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri.