periskop.id – Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Aviliani menjelaskan stabilitas makroekonomi Indonesia perlu diikuti penguatan kepercayaan pasar atau market confidence. Langkah ini krusial agar arus modal, nilai tukar rupiah, dan investasi dapat lebih terjaga.

 

Advertisement

“Antara stabilitas dengan market confidence ini yang perlu diperhatikan. Pemerintah mencoba menjaga dengan data-data makro yang sudah sangat baik, tetapi masalahnya confidence,” kata Aviliani dikutip dari Antara, Selasa (26/5).

 

Ketahanan indikator makro Indonesia saat ini sebenarnya masih menunjukkan kinerja positif. Namun, persepsi pasar tetap harus dikawal ketat karena berdampak langsung terhadap arus modal keluar, fluktuasi rupiah, dan keputusan investasi pelaku usaha.

 

Aliran modal asing yang keluar dari pasar keuangan domestik ditengarai menjadi pemicu utama tekanan terhadap mata uang garuda.

 

“Kalau kita lihat kenapa terjadi pelemahan, satu adalah capital outflow cukup banyak,” ujarnya.

 

Secara year to date, pelemahan rupiah terhadap dolar AS tercatat mencapai 6,18 persen. Angka depresiasi ini terhitung lebih dalam jika bersanding dengan mata uang utama beberapa negara ASEAN lain.

 

Perdagangan Selasa sore ditutup dengan pelemahan rupiah sebesar 52 poin atau 0,29 persen. Nilai tukar kini bertengger pada level Rp17.796 per dolar AS, turun dari posisi sebelumnya Rp17.744 per dolar AS.

 

Bank Indonesia (BI) terpantau sudah menjalankan sejumlah langkah taktis stabilisasi pasar keuangan. Otoritas moneter memanfaatkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), intervensi pasar, hingga operasi moneter.

 

Meski begitu, kebijakan moneter tidak bisa berjalan sendiri tanpa sokongan instrumen lain. Kebijakan fiskal dan sektor keuangan wajib konsisten berjalan seiringan demi membangun persepsi positif bagi para investor.

 

“Ketiga-tiga ini harus bersama-sama untuk memberikan persepsi yang positif ke depannya,” ucapnya.

 

Potensi ekonomi Indonesia secara umum diprediksi tetap cerah. Faktor pendorongnya adalah konsumsi rumah tangga yang tetap tumbuh serta aktivitas investasi yang terus berjalan.

 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) merekam ekonomi domestik tumbuh 5,61 persen secara tahunan pada Triwulan I-2026. Capaian tersebut ditopang konsumsi rumah tangga yang melaju 5,52 persen, investasi melonjak 5,96 persen, serta percepatan belanja pemerintah.

 

Pemerintah juga telah menetapkan target dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027. Pertumbuhan ekonomi dibidik pada kisaran 5,8 hingga 6,5 persen, inflasi 1,5 sampai 3,5 persen, serta tingkat pengangguran terbuka 4,30 hingga 4,87 persen.

 

Realisasi target ambisius tersebut memerlukan dukungan konkret berupa iklim usaha yang kondusif. Keputusan investasi yang bersifat jangka panjang sangat bergantung pada kepastian regulasi dari pemerintah.

 

Pemerintah disarankan mengintensifkan dialog bersama para pelaku ekonomi, mulai dari sektor swasta, BUMN, hingga UMKM. Komunikasi berkala ini penting dilakukan agar kebijakan baru tidak memicu ketidakpastian di pasar.

 

“Harus banyak komunikasi dengan pelaku ekonomi, karena pelaku ekonomi adalah swasta, BUMN dan juga mungkin UMKM. Nah di sini kalau saya lihat ini gap-nya terjadi,” ungkapnya.