Periskop.id — Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) optimistis Indonesia memiliki modal kuat untuk menjadi pusat furnitur dan kerajinan global. Keyakinan ini menurut Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur, di Jakarta, Jumat (29/5/), didukung kekayaan sumber daya alam, tradisi kerajinan yang panjang, keragaman budaya, serta besarnya pasar domestik.
“Sektor ini memiliki efek berganda yang besar terhadap ekonomi nasional karena menghubungkan kehutanan, perkebunan, industri pengolahan, perdagangan, pariwisata, ekonomi kreatif, dan jasa,” ujar Abdul Sobur.
Ia menekankan, industri mebel dan kerajinan merupakan sektor bernilai tambah tinggi karena produk yang dihasilkan melalui proses desain, produksi, dan kreativitas sebelum dipasarkan secara global.
Selain nilai ekonomi, sektor ini juga padat karya, menyerap tenaga kerja dari berbagai lapisan, mulai petani kayu, pengrajin, operator mesin, desainer, tenaga finishing, hingga sektor logistik dan pemasaran. Produk furnitur dan kerajinan Indonesia pun menjadi representasi identitas bangsa di kancah internasional.
“Yang hadir adalah identitas bangsa. Produk furnitur dan kerajinan membawa cerita tentang bahan baku Indonesia, keterampilan masyarakat Indonesia, budaya Indonesia, dan kemampuan industri Indonesia,” tambahnya.
Abdul Sobur menekankan, penguatan ekosistem industri menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing nasional. Pengembangan industri tidak cukup hanya dilakukan oleh dunia usaha atau pemerintah, melainkan juga memerlukan kolaborasi perguruan tinggi, lembaga riset, lembaga pembiayaan, asosiasi industri, dan pelaku pasar.
Tren Persaingan Global
HIMKI juga mencatat tren persaingan global saat ini, berdasarkan pengalaman mereka di Annual General Meeting World Furniture Confederation (WFC) 2026 di Nankang, Jiangxi, China. “Persaingan global hari ini bukan lagi antar perusahaan. Bahkan bukan lagi antar negara semata. Persaingan global kini adalah antar ekosistem industri,” jelas Abdul Sobur.
Nankang disebutnya sebagai contoh keberhasilan ekosistem industri furnitur terintegrasi, di mana ribuan perusahaan terhubung mulai dari bahan baku, mesin, logistik, desain, pendidikan vokasi, pembiayaan, perdagangan digital, hingga dukungan pemerintah.
Sejalan dengan hal tersebut, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan, Indonesia menjadi hub manufaktur furnitur global melalui penguatan hilirisasi kayu berkelanjutan dan peningkatan daya saing industri. Sektor ini menyerap ratusan ribu tenaga kerja dan terhubung langsung dengan pasar global senilai lebih dari US$736,21 miliar.
Dalam lima tahun ke depan, Indonesia diproyeksikan tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga memimpin dalam desain dan keberlanjutan produk furnitur internasional. Sebelumnya dikabarkann, sejumlah provinsi penghasil furnitur, seperti Jepara dan Bandung, telah aktif membangun klaster industri yang terintegrasi untuk mendukung ekspor, sekaligus meningkatkan kualitas desain dan inovasi produk agar bersaing di pasar dunia.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar