Periskop.id – Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah secara nonstop di pasar global, meski pasar domestik libur, merespons pelemahan rupiah yang mencapai Rp17.800 per dolar AS.

Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyatakan, intervensi bank sentral berlangsung 24 jam, termasuk transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder secara konsisten.

Advertisement

“Sebagaimana disampaikan Gubernur BI sebelumnya, Bank Indonesia terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah, around the world, around the clock,” ujar Ramdan di Jakarta, Jumat (29/5).

Pelemahan rupiah dipicu oleh ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah serta meningkatnya kebutuhan valas secara musiman, misalnya untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi dividen. Di tengah arus masuk dolar yang terbatas, BI memperkuat daya tarik instrumen keuangan domestik melalui penguatan struktur suku bunga.

BI juga menyiapkan langkah kebijakan tambahan, seperti menetapkan threshold tunai beli valas terhadap rupiah tanpa underlying sebesar US$25.000  per pelaku per bulan mulai Juni 2026, serta memperkuat koordinasi dengan otoritas terkait untuk mengawasi aktivitas pembelian valas besar oleh bank dan korporasi.

“Bank Indonesia terus memantau pasar global dan domestik serta hadir di pasar dengan langkah-langkah terukur untuk menjaga stabilitas rupiah dan mendukung ketahanan eksternal perekonomian Indonesia,” kata Ramdan.

Pada penutupan perdagangan Jumat, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) mencatat rupiah berada di level Rp17.883 per dolar AS.

Himpitan Ganda
Sementara itu, Guru Besar Ekonomi Universitas Airlangga (Unair) Rahma Gafmi menilai, pelemahan nilai tukar yang terus mencetak rekor menjadi sinyal, ekonomi Indonesia tengah menghadapi himpitan ganda, yakni tekanan moneter global dan tantangan struktural domestik.

Ia mengingatkan, nilai tukar yang kini menembus level psikologis baru di kisaran Rp17.700-Rp17.800 per dolar AS, terjadi di tengah suku bunga acuan (BI-Rate) telah dinaikkan 50 basis poin (bps) ke level 5,25% demi memperkuat stabilisasi rupiah.

“Pelemahan ini bukan sekadar masalah angka, melainkan sinyal bahwa ekonomi Indonesia sedang berada dalam himpitan ganda yaitu tekanan moneter global yang tak kunjung reda dan tantangan struktural domestik yaitu energi dan fiskal yang mulai diuji oleh pasar,” katanya saat dihubungi di Jakarta, Jumat.

Menurut Rahma, pelemahan rupiah ini membawa sinyal dan makna yang lebih dalam dari sekadar fluktuasi angka yaitu sinyal dominasi higher for much longer yang persisten.