Periskop.id - Laporan bertajuk 2025 Workplace Benefits Report yang diterbitkan oleh Bank of America menyoroti tantangan besar yang kini dihadapi oleh para pekerja terkait stabilitas finansial mereka. 

Berdasarkan laporan tersebut, masalah utang pribadi kini telah menjadi beban berat yang dialami oleh mayoritas pekerja. Tercatat ada sekitar 85% karyawan yang memiliki jenis utang pribadi tertentu dalam hidup mereka.

Fenomena menarik sekaligus mengkhawatirkan terjadi ketika utang kartu kredit berhasil melampaui utang kredit pemilikan rumah (KPR) untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir. Pergeseran ini menunjukkan adanya perubahan tren dari yang semula dikategorikan sebagai utang baik menjadi utang buruk. 

Selain kartu kredit, jenis pinjaman lain yang juga menjerat para pekerja adalah utang pinjaman pendidikan yang dibawa oleh satu dari empat karyawan, serta utang medis yang dialami oleh hampir satu dari lima karyawan.

Generasi Muda dan Karyawan Pengasuh Menanggung Beban Terberat

Beban finansial ini nyatanya tidak tersebar merata karena generasi muda terbukti menanggung beban utang yang paling besar. Hampir 9 dari 10 karyawan dari Gen Z dan Milenial tercatat memiliki beberapa jenis utang, dengan 58% di antaranya mengantongi utang kartu kredit. 

Kondisi ini menjadi jauh lebih berat bagi para karyawan muda yang juga harus berperan sebagai pengasuh atau memiliki tanggung jawab merawat keluarga di rumah.

Secara umum, persentase keterikatan Gen Z dan Milenial terhadap masalah finansial ini mencakup beberapa poin berikut ini.

  • Sebanyak 88% karyawan muda secara keseluruhan berada dalam jeratan utang.
  • Angka tersebut melonjak hingga 92% bagi karyawan muda yang memikul tanggung jawab sebagai pengasuh.
  • Sementara itu, untuk kelompok karyawan muda yang bukan pengasuh, angka kepemilikan utang berada di tingkat 81%.

Kecemasan Finansial Merusak Kesehatan Mental dan Fokus Kerja

Kecemasan yang dipicu oleh masalah utang ini terbukti memberikan dampak buruk yang nyata bagi kondisi mental karyawan, baik saat mereka berada di rumah maupun di lingkungan kerja. 

Dalam survei tersebut, sebanyak 46% pekerja secara terbuka mengaku bahwa utang pribadi yang mereka miliki telah membuat mereka merasa sangat stres. Lebih lanjut, sebanyak 35% karyawan menyatakan bahwa beban pikiran tersebut mulai mengganggu fokus serta tingkat produktivitas mereka ketika sedang bekerja.

Tingkat stres yang dialami oleh para pekerja ini juga menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan jika dilihat dari segi demografis. Kelompok generasi Boomers dilaporkan merasa lebih jarang stres akibat utang jika dibandingkan dengan Gen Z, Milenial, dan Gen X. 

Selain itu, pekerja laki-laki juga menunjukkan tingkat stres yang lebih rendah daripada pekerja perempuan. Dari seluruh kategori demografis yang diteliti, kelompok perempuan secara mengejutkan menjadi kelompok yang paling stres menghadapi masalah utang ini dengan persentase mencapai 60%.

Pergeseran Strategi Pekerja dan Minimnya Dukungan dari Perusahaan

Ketika para karyawan ditanya mengenai langkah finansial apa yang sedang mereka persiapkan untuk menghadapi masa depan, fokus mereka kini mengalami pergeseran. 

Jika dibandingkan dengan kondisi pada dua tahun lalu, respons para pekerja saat ini cenderung lebih mengarah pada pengelolaan utang daripada sekadar pengelolaan pengeluaran sehari-hari.

Data perbandingan dalam laporan Bank of America memperlihatkan bahwa jumlah pekerja yang memilih untuk membatasi pengeluaran mereka mengalami penurunan dari 53% pada 2023 menjadi 47% pada 2025. 

Sebaliknya, jumlah pekerja yang aktif berupaya untuk melunasi utang mereka mengalami kenaikan dari 39% pada 2023 menjadi 45% pada 2025.