Periskop.id - Dunia ilmu pengetahuan Indonesia tengah diguncang kabar miring yang datang dari forum internasional bergengsi di Kopenhagen, Denmark.
Sebuah unggahan dari akun Instagram milik Ida Bagus Mandhara Brasika, @mandharabrasika, mengungkap adanya dugaan skandal pemalsuan yang terorganisir dalam konferensi ilmiah internasional ISPPD 2026.
Kasus ini menjadi sorotan tajam karena melibatkan praktik manipulasi identitas dan data riset yang dilakukan di hadapan ribuan ilmuwan dari seluruh penjuru dunia.
Sebagai informasi, Mandhara, sang pengunggah informasi ini adalah pendiri sekaligus CEO Griya Luhu yang dikenal sebagai bank sampah digital terbesar di Indonesia, serta seorang dosen di Universitas Udayana yang fokus pada isu lingkungan dan perubahan iklim.
Dalam kritiknya yang tajam, Mandhara menyebut bahwa insiden ini berpotensi menghancurkan kredibilitas peneliti tanah air di kancah global.
“Beberapa orang Indonesia ketahuan melakukan pemalsuan terorganisir di depan ribuan ilmuwan dunia,” tulis Mandhara dalam unggahannya.
Modus Ganti Jilbab dan Identitas Palsu
Berdasarkan keterangan Mandhara, dugaan kecurangan ini terkuak dalam forum ISPPD 2026 yang merupakan pertemuan rutin para ahli pneumonia tingkat dunia. Salah satu temuan yang paling mencengangkan adalah adanya oknum yang nekat melakukan pemalsuan identitas saat sesi presentasi berlangsung.
Pelaku diduga melakukan penyamaran dengan mengubah penampilan fisik dan identitas pada kartu pengenal agar bisa mempresentasikan beberapa riset yang berbeda.
“Salah seorang pelaku melakukan pemalsuan identitas. Modusnya pelaku berganti-ganti nama saat presentasi, bermodal ganti jilbab dan nametag,” demikian keterangan dalam unggahan tersebut.
Aksi berani ini dinilai sangat mencederai integritas akademik, mengingat konferensi internasional memiliki standar pemeriksaan identitas dan kontribusi ilmiah yang biasanya sangat ketat.
Praktik ini diduga dilakukan agar pelaku bisa mengklaim lebih banyak karya tulis ilmiah di panggung internasional secara ilegal.
Tudingan Riset Buatan AI dan Fabrikasi Data
Persoalan tidak berhenti pada identitas semata. Mandhara juga menyoroti kejanggalan pada isi penelitian yang dipresentasikan. Ia menduga kuat bahwa riset-riset tersebut tidak pernah benar-benar dilakukan di lapangan, melainkan hasil rekayasa menggunakan kecerdasan buatan atau AI serta fabrikasi data.
Fabrikasi data sendiri merupakan tindakan menciptakan data palsu yang seolah olah hasil dari eksperimen nyata untuk memanipulasi kesimpulan penelitian.
“Bukan hanya identitas, risetnya pun palsu,” tulis Mandhara.
Ia menambahkan bahwa riset tersebut sengaja dirancang sedemikian rupa agar terlihat sangat meyakinkan dan berkualitas tinggi demi mengejar pengakuan.
“Dibuat dengan AI dan/atau fabrikasi data. Risetnya dibuat terlihat sangat hebat. Padahal risetnya tidak pernah ada,” tulisnya lebih lanjut.
Kejanggalan Lokasi Riset Tanpa Etika Penelitian
Mandhara membeberkan sejumlah bukti fisik yang memperkuat dugaannya, seperti adanya poster riset yang memiliki kesimpulan identik meskipun diklaim berasal dari dua judul penelitian yang berbeda.
Selain itu, cakupan geografi riset tersebut dinilai sangat tidak masuk akal bagi sebuah tim kecil dari Indonesia. Lokasi penelitian yang tercantum meliputi wilayah-wilayah ekstrem dan beragam seperti Pegunungan Andes di Peru, dataran tinggi Ethiopia, Guatemala, Lebanon, Yordania, Bangladesh, Sudan Selatan, Filipina, Kenya, Nepal, Malawi, hingga India Utara.
Kecurigaan semakin menguat karena tidak ada satupun nama kolaborator dari negara setempat yang dicantumkan dalam poster tersebut. Padahal, riset lintas negara wajib menyertakan persetujuan etik serta kerja sama dengan instansi lokal.
“Tapi perisetnya semua Indonesia, tanpa kolaborator setempat, tanpa keterangan persetujuan etik,” tulis Mandhara menekankan keanehan prosedur tersebut.
Bahkan, afiliasi organisasi yang digunakan oleh para pelaku seperti AI-BioMedicine Research Group dan MCDS-BioMed Research Foundation yang diklaim berbasis di Jakarta, tidak ditemukan keberadaannya dalam catatan resmi maupun mesin pencarian digital.
Kejar Travel Grant dengan Merusak Nama Baik Negara
Motivasi di balik dugaan pemalsuan ini diduga kuat berkaitan dengan perburuan dana perjalanan atau travel grant.
Dengan memiliki banyak abstrak riset yang terlihat hebat, pelaku bisa mendapatkan bantuan dana secara gratis untuk bepergian ke luar negeri guna menghadiri konferensi. Mandhara menegaskan bahwa perjalanan "gratis" tersebut sebenarnya dibayar mahal oleh rusaknya reputasi ilmuwan Indonesia lainnya.
“Dengan cara ini, pelaku mendapatkan dana travel grant yang membuat mereka bisa keluar negeri ‘gratis’,” tulisnya.
Ia kemudian menambahkan dengan nada miris.
“Gratis, karena yang ‘bayar’ mahal adalah Indonesia yang nama baiknya rusak di mata ilmuwan dunia,” ucapnya dengan geram.
Berdasarkan penelusuran lebih lanjut, oknum-oknum ini diduga pernah mendapatkan penghargaan serupa pada ajang internasional lainnya seperti 2025 APASL STC Oncology dan iCRS 2025 Awards. Hal ini mengindikasikan bahwa praktik tersebut mungkin telah dilakukan secara berulang.
Ancaman Daftar Hitam bagi Peneliti Indonesia
Dampak dari skandal ini diperkirakan akan sangat fatal bagi komunitas peneliti Indonesia secara keseluruhan.
Mandhara mengkhawatirkan munculnya stigma negatif atau bahkan pemblokiran bagi peneliti asal Indonesia di forum-forum internasional di masa depan. Kredibilitas yang selama ini dibangun susah payah oleh para ilmuwan jujur kini dipertanyakan akibat ulah segelintir oknum.
“Pemalsuan ini akhirnya terungkap. Dampaknya fatal. Bukan hanya ke pelaku, tapi semua peneliti dari Indonesia kena getahnya,” tulis Mandhara.
Ia menutup unggahan tersebut dengan sebuah refleksi mendalam mengenai moralitas akademik di Indonesia.
“Pertanyaannya, apakah memang ini kualitas ilmuwan Indonesia? Apakah praktik seperti ini normal/dinormalisasi?” tulis Mandhara sebagai penutup.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar