Periskop.id — Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI menggelar program Kurban Berkah Berdayakan Desa 2026 secara serentak di 104 titik penyaluran di berbagai daerah Indonesia saat momentum Iduladha 1447 Hijriah. Program ini tidak hanya difokuskan pada distribusi daging kurban, tetapi juga diarahkan sebagai strategi pemberdayaan ekonomi peternak desa dan penguatan ketahanan pangan masyarakat.
Pelaksanaan program dilakukan melalui jaringan balai ternak Baznas yang tersebar di 15 provinsi, dengan melibatkan ribuan peternak binaan dan komoditas ternak lokal. Baznas menilai kurban memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak ekonomi umat, jika dikelola secara terintegrasi dan berkelanjutan.
Ketua Baznas RI Sodik Mudjahid mengatakan, program Kurban Berkah Berdayakan Desa menjadi bagian dari upaya menjadikan ibadah kurban tidak sekadar ritual tahunan, tetapi juga instrumen pembangunan ekonomi masyarakat.
"Intinya, semua program Baznas bertujuan memberdayakan masyarakat. Kita ini umat Islam mayoritas di Indonesia, tetapi kontribusi ekonomi kita masih perlu diperkuat," kata Sodik Mudjahid, Kamis (28/5).
Dalam pelaksanaan tahun ini, Baznas melibatkan sebanyak 3.359 ekor ternak bakalan jantan komoditas lokal yang dikelola oleh 2.089 peternak binaan di berbagai wilayah Indonesia. Program tersebut sekaligus menjadi upaya memperkuat rantai ekonomi peternakan rakyat di daerah.
Baznas juga menekankan, distribusi kurban tahun ini diarahkan untuk membantu pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat rentan, terutama keluarga prasejahtera, ibu hamil, dan anak-anak. Langkah ini dinilai penting di tengah tantangan ketahanan pangan dan kebutuhan peningkatan kualitas konsumsi protein masyarakat.
Peternak Mandiri
Selain memperluas distribusi manfaat kurban, program ini juga dirancang untuk mendorong lahirnya peternak mandiri berbasis komunitas desa. "Kami berharap program pemberdayaan berbasis peternakan ini dapat melahirkan mustahik yang mandiri serta mampu meningkatkan taraf kesejahteraannya," ujar Sodik.
Program kurban berbasis pemberdayaan desa tersebut mendapat apresiasi dari sejumlah pemerintah daerah. Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar menilai pendekatan Baznas relevan dengan kebutuhan daerah yang masih menghadapi persoalan kemiskinan dan pengangguran.
Menurut Dian, pengelolaan kurban secara profesional dapat menghadirkan dampak ekonomi yang lebih luas dibanding sekadar distribusi daging saat Idul Adha.
"Saya kira program ini (Kurban Berkah Berdayakan Desa) menjadi salah satu bentuk nyata bagaimana ibadah kurban bisa berdampak sosial dan berdampak ekonomi. Ini saya optimistis melalui pengolahan kurban yang profesional yang selama ditunjukkan oleh Baznas, Insyaa Allah ya, Kuningan semakin sejahtera," ucap Yanuar.
Baznas sebelumnya juga aktif mengembangkan model balai ternak berbasis komunitas di sejumlah daerah. Program tersebut mencakup pendampingan peternak, penguatan pakan ternak, pelatihan manajemen usaha, hingga akses pemasaran hasil ternak.
Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor peternakan masih menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat desa, khususnya di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, NTB, dan sebagian Sumatera. Di sisi lain, kebutuhan protein hewani nasional juga terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan perbaikan pola konsumsi masyarakat.
Dalam beberapa tahun terakhir, tren kurban digital dan distribusi kurban berbasis pemberdayaan memang terus berkembang. Sejumlah lembaga filantropi dan zakat nasional mulai mengarahkan pengelolaan kurban agar tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga mampu menciptakan dampak ekonomi jangka panjang bagi masyarakat desa.
Baznas menilai penguatan ekosistem peternakan umat menjadi salah satu langkah penting untuk memperbesar kontribusi ekonomi umat Islam di Indonesia, sekaligus memperluas manfaat sosial dari ibadah kurban.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar