periskop.id - Badan Gizi Nasional (BGN) berencana menata ulang daftar penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sekolah-sekolah dari kelompok mampu disebut berpotensi dicoret dari skema distribusi program tersebut.
Kepala BGN Nanik S. Deyang menyampaikan, kebijakan itu merupakan bagian dari proses refocusing penerima manfaat yang tengah disiapkan pimpinan baru lembaga tersebut. Wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) akan menjadi prioritas utama ke depan.
"Nah, lalu refocusing. Misalnya nanti akan kita juga kalau ada sekolah-sekolah yang mahal gitu kan kita tanya apakah masih perlu MBG? Nah ini yang kita alihkan ke 3T," ujar Nanik dalam konferensi pers di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Kamis (4/6).
Penataan ulang ini dilakukan agar MBG benar-benar menyentuh kelompok yang paling membutuhkan, menurut Nanik. BGN, ia tegaskan, akan mengutamakan daerah 3T yang selama ini belum terlayani secara optimal.
"Jadi bisa aja sebetulnya penerima manfaatnya bertambah, tapi tambahannya ini sebetulnya mengurangi dari yang tidak fokus mungkin selama ini," tuturnya.
Nanik menegaskan, target pemerintah bukan sekadar memperbanyak jumlah penerima. Tak kalah penting, ia melanjutkan, memastikan kelompok rentan dan daerah sulit terjangkau benar-benar mendapat akses program ini.
BGN juga menyoroti kelompok 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, sebagai sasaran prioritas. Kelompok ini dinilai Nanik sangat krusial karena periode awal kehidupan merupakan jendela emas intervensi gizi.
"Setelah kita diskusi dengan para pakar, dokter anak, lalu ahli gizi, mereka mengatakan bahwa intervensi gizi itu paling bagus adalah saat mulai kandungan bulan pertama sampai usia 9 tahun atau sampai SD. Nah, kita yang kejar ke sana," katanya.
Refocusing penerima manfaat hanyalah satu dari empat langkah yang tengah disiapkan BGN. Tiga langkah lainnya mencakup moratorium sementara pembangunan dapur baru, perbaikan dapur yang sudah beroperasi, serta perluasan program di wilayah 3T lewat skema yang lebih efisien.
Kondisi lapangan saat ini, menurut Nanik, menunjukkan ketimpangan distribusi yang cukup mencolok. Sebagian besar dapur MBG terkonsentrasi di kawasan perkotaan dan aglomerasi, sementara banyak daerah 3T justru belum tersentuh program ini sama sekali.
"Jujur sekarang yang numpuk ini di aglomerasi, yang 3T belum kesentuh. Jadi Pak Presiden pesannya kami harus ke 3T dulu," pungkasnya.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar