Periskop.id - Banyak individu kerap merasakan kondisi psikologis yang berada di area abu-abu. Kondisi ini ditandai dengan tidak adanya rasa sedih atau tertekan yang mendalam, namun di sisi lain, individu tersebut juga tidak dapat dikatakan sedang berkembang atau baik-baik saja. Mereka cenderung merasakan kekosongan yang membingungkan atau merasa hambar dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Mengutip Psych Central, situasi ketika seseorang sulit menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan mereka, namun menyadari ada sesuatu yang salah, merupakan indikasi dari fenomena languishing.

Istilah ini menjadi perhatian penting dalam psikologi modern untuk menjelaskan ruang di antara kesehatan mental yang optimal dan gangguan klinis.

Secara etimologis, kata languishing berasal dari akar bahasa Latin awal languere, yang memiliki arti merasa lemah atau tidak sehat. Namun, dalam studi psikologi modern, konsep ini diposisikan sebagai kebalikan dari flourishing.

Pada 2002, psikolog dan sosiolog Corey Keyes menjadi ilmuwan pertama yang menggambarkan kedua konsep tersebut sebagai aspek yang saling berkaitan dengan kesehatan mental manusia. 

Dalam psikologi positif, yang berfokus pada pengalaman yang berkontribusi terhadap kesejahteraan, flourishing dianggap sebagai kondisi ketika seseorang memiliki emosi positif terhadap kehidupan secara umum. Kondisi ini memungkinkan seseorang berfungsi secara optimal secara mental, emosional, dan sosial.

Sebaliknya, konsep languishing berfokus pada ketiadaan kesejahteraan mental tersebut. Artinya, seseorang tidak memiliki emosi positif terhadap kehidupan, yang pada akhirnya dapat memicu munculnya tantangan mental, emosional, dan relasional.

Kondisi languishing dicirikan oleh kurangnya semangat atau perasaan terputus dari lingkungan, tanpa adanya tekanan emosional yang berat. Kondisi ini sangat berbeda dengan flourishing yang memberikan rasa terhubung dan tujuan hidup yang jelas.

Penting untuk dipahami bahwa languishing tidak sama dengan depresi, meskipun keduanya berkaitan dengan tekanan emosional. 

Languishing bertindak sebagai titik tengah dalam spektrum kesehatan mental, yang membentang dari kesehatan dan kesejahteraan mental hingga kondisi gangguan kesehatan mental yang terdiagnosis. 

Dengan kata lain, seseorang mungkin merasa berada di titik rendah (down), tetapi tidak mengalami emosi negatif yang ekstrem. Meskipun languishing bukan merupakan diagnosis resmi kesehatan mental, emosi yang dirasakan oleh individu tersebut tetap valid dan nyata.

Tanda dan Gejala Languishing yang Perlu Dikenali

Setiap individu yang mengalami languishing tidak selalu merasakannya dengan cara atau intensitas yang sama. Secara umum, kondisi ini akan memengaruhi sebagian keputusan, perilaku, dan emosi seseorang terhadap diri sendiri, orang lain, serta dunia luar.

Sebagai contoh, tindakan menolak ajakan untuk melakukan aktivitas yang biasanya dinikmati dapat menjadi salah satu indikasi nyata dari languishing

Seseorang mungkin tidak merasa terlalu berat untuk menolak pergi, tetapi mereka juga tidak melihat alasan mengapa pergi akan membuat perasaan mereka menjadi lebih baik daripada sekadar berdiam diri di rumah. 

Bagi sebagian orang lain, languishing bisa berarti tetap menghadiri suatu acara, tetapi memilih untuk pulang lebih awal karena aktivitas tersebut tidak lagi memberikan rasa senang.

Beberapa tanda umum lain dari fenomena languishing meliputi:

  • Suasana hati yang cenderung datar, di mana individu tidak merasa bahagia tetapi juga tidak dapat dinyatakan sedang sedih.
  • Merasa lebih sering kehilangan motivasi dari biasanya dalam menjalankan rutinitas.
  • Timbulnya rasa gelisah, namun tidak berada pada tahapan sangat cemas.
  • Kesulitan untuk fokus pada tugas-tugas tertentu, terutama pada hari-hari tertentu dibanding hari lainnya.
  • Perasaan terlepas dari kehidupan, tugas, atau orang lain, tanpa adanya emosi negatif terhadap mereka.
  • Munculnya sikap apatis terhadap hidup dan sulit merasa antusias terhadap apa pun.
  • Mengalami kelelahan fisik maupun mental serta kejenuhan ekstrem (burnout).
  • Kehilangan minat pada hal-hal yang semula menjadi passion dan hobi.
  • Perasaan bahwa kehidupan sedang berjalan di tempat atau stagnan.
  • Merasa terputus dari visi dan tujuan hidup yang semula dimiliki.

Perbedaan Antara Depresi, Kecemasan, dan Languishing

Para pakar menegaskan bahwa languishing tidak sama dengan depresi atau gangguan kecemasan. Depresi dan kecemasan adalah kondisi gangguan kesehatan mental resmi yang dapat didiagnosis serta ditangani oleh tenaga kesehatan profesional.

Ketika seseorang mengalami depresi, mereka kemungkinan besar akan merasakan kesedihan atau keputusasaan yang sangat kuat. Penderita depresi juga sering kali memikirkan tindakan untuk menyakiti diri sendiri atau menjadi sangat kritis terhadap diri mereka sendiri. 

Selain itu, beberapa fungsi kognitif, seperti daya ingat atau ingatan, juga dapat mengalami gangguan saat seseorang berada dalam kondisi depresi.

Karakteristik tersebut sangat berbeda dengan languishing yang bukan merupakan bentuk kesedihan. Meskipun seseorang mungkin merasa berada di titik rendah, mereka tidak benar-benar sedih. 

Kondisi ini lebih tepat digambarkan sebagai momen merasa hambar, yaitu ketika seseorang tidak bahagia, tidak juga sedih, melainkan hanya merasa tidak seperti diri mereka yang biasanya.

Demikian pula halnya dengan gangguan kecemasan yang sering kali disertai oleh pikiran-pikiran mengganggu berisi kekhawatiran atau ketakutan. Kondisi ini membuat penderitanya merasa gelisah atau tegang secara konstan.

Dalam kondisi languishing, momen cemas atau khawatir memang bisa terjadi, namun hal itu umumnya merupakan respons alami tubuh terhadap stres sehari-hari. Perasaan cemas tersebut tidak menetap dan bukan merupakan kondisi pikiran yang bersifat permanen.

Memahami batasan emosi ini sangat penting agar masyarakat tidak salah dalam melakukan penilaian mandiri. Namun, jika gejala yang dirasakan terpantau menetap dan dirasa lebih berat dari sekadar languishing, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental guna mendapatkan penanganan yang tepat.