Periskop.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan fundamental perekonomian Indonesia masih berada dalam kondisi yang kuat meski nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menyentuh level Rp18.000 per dolar AS.
Airlangga mengatakan ketahanan ekonomi nasional tercermin dari sejumlah indikator makro yang masih menunjukkan kinerja positif. Salah satunya adalah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih mencapai 5,61%.
"Ya, pertama kalau kita lihat pertumbuhan ekonomi kemarin kan masih baik di 5,61. Kemudian kalau kita lihat neraca perdagangan year to date juga masih positif," kata Airlangga kepada media, Jakarta, Jumat (10/7).
Ia mengakui neraca perdagangan sempat mencatat defisit dalam satu bulan terakhir. Namun, kondisi tersebut lebih disebabkan lonjakan harga impor bahan bakar minyak (BBM), bukan karena melemahnya daya saing ekspor Indonesia.
Menurutnya, nilai ekspor komoditas utama seperti kelapa sawit, batu bara, dan ferro alloy masih relatif stabil sehingga pemerintah optimistis kinerja perdagangan tetap terjaga dalam beberapa bulan mendatang.
"Kemarin satu bulan memang negatif karena memang dari segi impor BBM itu memang harganya spike, harganya naik.
Sedangkan ekspor daripada kelapa sawit, kemudian batu bara, dan juga ferro alloy sebetulnya angkanya relatif sama kemarin sehingga tentu ini kita akan jaga juga beberapa bulan ke depan," jelasnya.
Selain itu, Airlangga menyebut inflasi masih berada dalam sasaran pemerintah, yakni 2,5% plus minus 1%. Untuk menjaga aktivitas industri, pemerintah juga tengah menyiapkan berbagai insentif, termasuk pembebasan bea masuk impor bahan baku plastik bagi industri kimia serta tarif bea masuk nol persen untuk impor LPG sebagai bahan baku industri petrokimia selama enam bulan.
Di sisi domestik, pemerintah terus menggulirkan berbagai program prioritas Presiden, seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan pembiayaan perumahan. Menurut Airlangga, realisasi kedua program tersebut menunjukkan perkembangan yang positif.
Sektor perbankan juga dinilai masih berada dalam kondisi yang sehat. Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) telah kembali mencatatkan pertumbuhan dua digit, sementara penyaluran kredit mulai meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya.
"Dari segi perbankan relatif aman, memang dana pihak ketiga juga di perbankan sudah double digit dan kita melihat kredit juga sudah mulai berjalan, sudah meningkat dibandingkan kuartal yang lalu," papar Airlangga.
Lebih lanjut, Airlangga mengatakan berbagai lembaga internasional seperti World Bank, IMF, dan OECD masih memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5%. Hal itu, menurutnya, menjadi sinyal bahwa perekonomian Indonesia tetap dinilai kuat di tengah dinamika ekonomi global.
"Dan dari berbagai lembaga, baik itu World Bank, IMF, maupun OECD, pertumbuhan ekonomi kita masih dalam range sekitar 5%. Jadi relatif semua menilai perekonomian kita relatif aman dan solid," tutup dia.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar