Periskop.id — Iran dan Amerika Serikat masih melanjutkan pertukaran pesan terkait peluang tercapainya kesepakatan untuk meredakan konflik. Namun, Teheran menegaskan belum ada keputusan final yang dapat diumumkan, karena proses diplomasi masih berlangsung dan posisi kedua negara belum sepenuhnya bertemu.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, semua pembicaraan yang berkembang saat ini belum bisa dijadikan dasar untuk menilai arah akhir perundingan. “Pembahasan dan pertukaran pesan masih terus berlangsung. Sampai hasil yang jelas tercapai, tidak mungkin membuat penilaian apa pun. Semua yang sedang dikatakan saat ini hanyalah spekulasi dan tidak seharusnya dianggap serius,” ujar Araghchi dikutip Senin (1/6). 

Advertisement

Pernyataan itu muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggelar pengarahan intelijen pada Jumat (29/5) pagi di Washington. Dalam kesempatan tersebut, Trump menyatakan akan mengambil keputusan final terkait isu Iran. Namun, sejumlah media AS kemudian melaporkan bahwa kesepakatan akhir sebenarnya belum tercapai.

The New York Times pada Minggu juga melaporkan, Trump mengajukan syarat yang lebih ketat untuk kemungkinan kesepakatan guna mengakhiri konflik dengan Iran. Washington disebut telah menyampaikan proposal baru kepada Teheran, meski isi rinci dari proposal tersebut belum diumumkan secara resmi.

Ketegangan antara kedua negara meningkat tajam setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan bersama ke sejumlah wilayah Iran pada 28 Februari. Serangan itu disebut menimbulkan kerusakan dan korban sipil. Setelah eskalasi berlangsung, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata sementara selama dua pekan pada 7 April.

Akan tetapi, jalur diplomasi yang dibuka setelah gencatan senjata belum menghasilkan kesepakatan. Perundingan yang digelar di Islamabad menemui jalan buntu. Sebagai respons, Amerika Serikat memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Trump kemudian memperpanjang penghentian permusuhan untuk memberi waktu bagi Iran menyusun proposal perdamaian.

Tiga Skenario
Dalam pemberitaan sebelumnya, Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyebut, ada tiga kemungkinan hasil dalam perundingan AS-Iran. "Ada tiga skenario: kita mencapai kesepakatan; kita tidak mencapai kesepakatan tetapi tetap mempertahankan blokade dan terus menekan mereka; atau kita kembali pada tindakan militer," kata Bessent dalam Forum Ekonomi Reagan 2026, Jumat. 

Pernyataan Bessent menunjukkan, Washington masih menempatkan tekanan ekonomi dan opsi militer sebagai bagian dari strategi negosiasi. Ia juga menyebut Departemen Keuangan AS masih memiliki sejumlah target finansial yang bisa dikenai sanksi tambahan, apabila perundingan tidak bergerak sesuai harapan Washington.

Di sisi lain, Iran menegaskan kesepakatan final hanya mungkin dicapai jika Amerika Serikat menghentikan tuntutan yang dinilai berlebihan. Dalam laporan lainnya, Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan tercapainya kesepakatan final bergantung pada kesediaan Washington meninggalkan sikap yang dianggap saling bertentangan. 

Salah satu isu utama yang masih menjadi perhatian adalah program nuklir Iran. Trump sebelumnya menyatakan Iran harus menjamin tidak akan memiliki senjata atau bom nuklir. Selain itu, isu pembukaan kembali Selat Hormuz juga menjadi bagian penting dalam pembicaraan karena jalur tersebut merupakan salah satu titik perdagangan energi paling strategis di dunia.

Menurut International Energy Agency (IEA), sekitar 20 juta barel minyak per hari atau sekitar 25% perdagangan minyak melalui jalur laut dunia melintasi Selat Hormuz. IEA juga mencatat sekitar 19% perdagangan LNG global melewati selat tersebut, termasuk sebagian besar ekspor LNG Qatar dan Uni Emirat Arab. 

Data Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) juga menunjukkan pentingnya Selat Hormuz bagi pasar energi global. Pada 2023, arus minyak melalui jalur tersebut rata-rata mencapai 20,9 juta barel per hari, setara sekitar 20% konsumsi petroleum liquids global

Karena itu, ketidakpastian perundingan AS-Iran tidak hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah, tetapi juga berpotensi memengaruhi harga minyak, biaya logistik, inflasi energi, dan stabilitas rantai pasok global. Negara-negara pengimpor energi di Asia, termasuk China, India, Jepang, dan Korea Selatan, menjadi pihak yang sangat berkepentingan terhadap keamanan jalur tersebut.

Meski pertukaran pesan masih berlangsung, kedua pihak tampaknya belum mencapai titik temu pada isu-isu paling sensitif. Washington masih menekan Iran melalui blokade dan ancaman sanksi tambahan, sementara Teheran berusaha mempertahankan posisinya atas hak nuklir dan pengelolaan kawasan strategis di sekitarnya.

Dengan situasi tersebut, peluang kesepakatan masih terbuka, tetapi tetap rapuh. Selama belum ada hasil resmi, pernyataan Araghchi menjadi sinyal bahwa Iran ingin menahan ekspektasi publik dan menepis klaim sepihak, mengenai arah akhir perundingan.