Periskop.id - Harga minyak dunia melonjak lebih dari 9% pada perdagangan awal pekan ini, menyentuh level tertinggi dalam sebulan. Kenaikan tajam ini dipicu rencana Amerika Serikat memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap Iran mulai Selasa (14/7), yang mencakup seluruh garis pantai, pelabuhan, dan terminal minyak Iran.

Reuters melaporkan, harga minyak mentah Brent kontrak pengiriman September 2026 ditutup naik US$7,29 atau 9,59% menjadi US$83,30 per barel pada Senin (13/7). Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak Agustus 2026 turut terkerek US$6,73 atau 9,42% menjadi US$78,14 per barel.

Kenaikan Brent tersebut menjadi yang terbesar sejak 2 April, sekaligus penutupan tertinggi sejak 12 Juni. WTI mencatatkan lonjakan harian terbesar sejak 29 April dan ditutup di level tertinggi sejak 15 Juni.

"Pemberlakuan kembali pembatasan lalu lintas maritim Iran oleh Presiden Trump, bersamaan dengan serangan balasan dan penurunan tajam arus kapal melalui selat tersebut, telah meningkatkan kekhawatiran atas ketersediaan pasokan jangka pendek," tulis analis Gelber & Associates dalam catatan riset, Senin (13/7).

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan pemberlakuan kembali blokade tersebut akan disertai kompensasi biaya 20% untuk seluruh kargo yang melintasi Selat Hormuz. Menurut Pusat Informasi Maritim Gabungan yang dipimpin Angkatan Laut AS, blokade dijadwalkan berlaku mulai 14 Juli pukul 20.00 GMT, setelah sebelumnya dicabut pada pertengahan Juni.

Komando militer gabungan tertinggi Iran menegaskan tidak akan mengizinkan Washington ikut campur dalam pengelolaan Selat Hormuz. Setiap upaya AS melintas tanpa izin, menurut otoritas tersebut, akan dihadapi dengan perlawanan.

Di sisi lain, badan pelayaran PBB menolak usulan tarif Trump. Lembaga itu menegaskan tidak ada dasar hukum untuk mewajibkan biaya transit di selat yang digunakan untuk navigasi internasional.

Sebelum konflik pecah akhir Februari, Selat Hormuz menangani sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair harian dunia. Lalu lintas kapal sempat meningkat selama gencatan senjata yang disepakati Juni lalu, namun kembali melambat seiring eskalasi ketegangan.

Goldman Sachs memproyeksikan perluasan kapasitas pipa di Timur Tengah dapat melindungi lebih dari 60% ekspor minyak Teluk dari gangguan Hormuz pada akhir 2028. Skenario dasar bank tersebut memperkirakan kapasitas pipa yang melewati selat itu bertambah 3,8 juta barel per hari pada akhir 2027, dan naik kumulatif 7,3 juta barel per hari pada akhir 2028.

Total kapasitas efektif untuk melewati Selat Hormuz diperkirakan tembus 14 juta barel per hari pada akhir 2028. Perhitungan itu jadi dasar sejumlah negara mencari jalur alternatif permanen di luar selat tersebut.

Perusahaan Minyak Nasional Abu Dhabi (ADNOC) memangkas harga jual resmi minyak mentah acuan Murban untuk Agustus menjadi US$80,01 per barel, turun dari US$101,48 per barel bulan sebelumnya. Penurunan ini terjadi seiring melambatnya penjualan minyak Iran yang sempat ditahan di laut, setelah kilang independen China beralih ke minyak mentah lebih murah dari Irak, Uni Emirat Arab, dan Qatar.

Pasokan energi Rusia juga terganggu akibat upaya Ukraina memutus pendanaan perang Moskow. Dinas Keamanan Ukraina mengklaim telah menyerang depot minyak di wilayah Stavropol serta tiga tangki penyimpanan di pelabuhan Kavkaz, Krasnodar, Rusia selatan.

Konsorsium Pipa Kaspia, yang menyumbang 80% ekspor minyak Kazakhstan, memangkas pasokan sebesar 7% bulan lalu dibandingkan Mei. Dua sumber industri menyebutkan pemangkasan itu akibat pemeliharaan di ladang minyak Tengiz serta menurunnya aliran minyak dari Rusia.

Di Amerika Serikat, cadangan minyak strategis turun sekitar 3 juta barel menjadi 316,5 juta barel pekan lalu, level terendah sejak April 1983. Data Departemen Energi AS menyebutkan penurunan itu merupakan bagian dari kesepakatan pelepasan 172 juta barel dari fasilitas cadangan tersebut.

"Fokus akan tetap pada jumlah kapal tanker yang masuk karena jumlah yang lebih rendah dapat memengaruhi produksi. Saat ini kami melihat premi risiko dan risiko gangguan yang mendukung harga," kata analis UBS Giovanni Staunovo.