Periskop.id — Diabetes di Indonesia menghadirkan persoalan yang lebih besar daripada angka kasus yang tercatat di fasilitas kesehatan. Lebih dari 73% penyandang diabetes diperkirakan belum terdiagnosis sehingga menjalani aktivitas sehari-hari tanpa menyadari kadar gula darahnya telah berada pada tingkat berbahaya.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof. Em Yunir mengatakan, kondisi tersebut membuat banyak kasus baru ditemukan ketika pasien memeriksakan penyakit lain atau telah mengalami keadaan darurat.

“Sekitar 70% lebih pasien tidak terdiagnosis. Jadi yang bersangkutan tidak menyadari bahwa dia diabetes, hingga akhirnya terdeteksi saat berobat penyakit lain atau masuk kondisi gawat darurat,” katanya dalam Forum Jurnalis Kesehatan bertajuk “Mencegah Kebutaan Akibat Retinopati Diabetik” di Jakarta, Senin (20/7). 

Angka tersebut menunjukkan diabetes masih sering berkembang tanpa terpantau. Pada fase awal, peningkatan gula darah dapat tidak menimbulkan keluhan yang cukup kuat untuk mendorong seseorang datang ke fasilitas kesehatan. Akibatnya, diagnosis baru ditegakkan setelah kerusakan organ mulai muncul.

Satu dari 10 Penduduk Mengalami Diabetes

Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat prevalensi diabetes berdasarkan pemeriksaan kadar gula darah pada penduduk berusia minimal 15 tahun mencapai 11,7%. Angka itu setara dengan lebih dari satu orang dalam setiap 10 penduduk pada kelompok usia tersebut.

Sementara itu, International Diabetes Federation memperkirakan 20,4 juta orang dewasa berusia 20 hingga 79 tahun di Indonesia hidup dengan diabetes pada 2024. Jumlah tersebut menempatkan Indonesia di peringkat kelima dunia dan diproyeksikan naik menjadi 28,6 juta orang pada 2050.

Proyeksi terbaru itu perlu dibedakan dari estimasi lama yang memperkirakan jumlah penderita melampaui 30 juta orang pada 2045. Berdasarkan IDF Diabetes Atlas 2025 yang kini digunakan Kementerian Kesehatan, perkiraan mutakhirnya adalah 28,6 juta orang pada 2050.

Besarnya perbedaan antara kasus yang terdiagnosis dan hasil pemeriksaan populasi memperlihatkan bahwa data pelayanan kesehatan belum menggambarkan seluruh beban diabetes di masyarakat.

Kerusakan Organ Berjalan Meski Tidak Ada Keluhan

Diabetes yang tidak terdeteksi bukan berarti belum menimbulkan dampak. Gula darah tinggi yang berlangsung lama dapat merusak pembuluh darah, saraf, mata, ginjal, jantung, dan otak.

“Gula darah yang tinggi dan tidak terkontrol dapat merusak seluruh organ tubuh yang dialiri pembuluh darah jika tidak terdeteksi dan diintervensi sejak awal,” kata Prof. Yunir.

Kementerian Kesehatan membagi komplikasi diabetes menjadi gangguan makrovaskular yang mengenai jantung, otak, dan pembuluh darah serta gangguan mikrovaskular pada mata, ginjal, dan saraf. Data RSCM pada 2023 mencatat komplikasi berupa nefropati sebesar 45,57%, neuropati 43,71%, retinopati 21,58%, dan penyakit arteri perifer 8,5% pada pasien diabetes yang tercatat.

Risikonya dapat semakin besar apabila diabetes disertai tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, obesitas, kebiasaan merokok, dan kurangnya aktivitas fisik. Sekitar 90 sampai 95% kasus diabetes merupakan diabetes tipe 2, yang sebagian besar berkaitan dengan faktor gaya hidup dan secara umum dapat dicegah atau ditunda perkembangannya.

Retinopati Bisa Berkembang Tanpa Disadari

Salah satu komplikasi yang disoroti adalah retinopati diabetik, yaitu kerusakan pembuluh darah pada retina akibat diabetes. Gangguan ini dapat berkembang secara bertahap tanpa keluhan berarti pada fase awal, kemudian menyebabkan penurunan penglihatan hingga kebutaan apabila terlambat ditangani.

Organisasi Kesehatan Dunia merekomendasikan pemeriksaan retinopati disertai penanganan segera bagi orang dengan diabetes sebagai langkah efektif untuk mencegah gangguan penglihatan dan kebutaan.

Karena itu, pemeriksaan mata tidak seharusnya baru dilakukan ketika pandangan mulai kabur. Penyandang diabetes perlu mengikuti jadwal skrining yang ditentukan dokter sesuai kondisi kesehatan, durasi penyakit, dan hasil pemeriksaan sebelumnya.

Kontrol gula darah juga harus berjalan bersama pengendalian tekanan darah dan kolesterol. Pemeriksaan komplikasi secara berkala memungkinkan tenaga kesehatan menemukan perubahan fungsi organ sebelum kerusakannya menjadi permanen.

Merasa Sehat Bukan Jaminan Gula Darah Normal

Prof. Yunir menilai rasa takut mengetahui hasil pemeriksaan dan anggapan bahwa tubuh masih sehat menjadi penghambat deteksi dini. Padahal, menunda pemeriksaan tidak menghilangkan penyakit, melainkan memberi waktu lebih panjang bagi komplikasi untuk berkembang.

“Saya rasa itu mungkin ya menjadi hal-hal penting, yang kayaknya mungkin kita pikirkan bersama supaya disosialisasikan,” kata Prof. Em Yunir.

Skrining menjadi semakin penting bagi orang yang memiliki faktor risiko, seperti riwayat diabetes dalam keluarga, berat badan berlebih, tekanan darah tinggi, gangguan kolesterol, kurang bergerak, atau pernah mengalami gula darah tinggi.

Pemeriksaan gula darah tetap perlu dilakukan melalui fasilitas kesehatan dan diinterpretasikan tenaga medis. Satu hasil pemeriksaan mandiri yang tinggi atau rendah belum cukup untuk menetapkan diagnosis tanpa evaluasi lebih lanjut.

Besarnya kelompok yang belum terdiagnosis menunjukkan tantangan diabetes di Indonesia bukan sekadar menyediakan pengobatan. Pemerintah dan tenaga kesehatan juga perlu memperluas skrining, memperkuat layanan primer, serta mengubah kebiasaan masyarakat yang baru mencari pertolongan setelah muncul komplikasi.

Selama sebagian besar penderita masih tidak menyadari kondisinya, diabetes akan terus bekerja dalam senyap. Deteksi dini menjadi pembeda antara penyakit yang dapat dikendalikan dan kerusakan organ yang sulit dipulihkan.