periskop.id - Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (26.05.26) seiring penguatan indeks dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik global. Pelaku pasar mencermati eskalasi konflik di Timur Tengah yang kembali memicu penguatan dolar sebagai aset safe haven.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyampaikan, pada perdagangan sore ini rupiah ditutup melemah 52 poin, setelah sebelumnya sempat melemah hingga 55 poin. Rupiah berada di level Rp17.796 per dolar AS, melemah dari penutupan sebelumnya di Rp17.744.

Advertisement

“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 52 point sebelumnya sempat melemah 55 point dilevel Rp17.796 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.744,” ujar Ibrahim Assuaibi.

Untuk perdagangan berikutnya yang bertepatan dengan libur Idul Adha, Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah dalam rentang Rp17.790 hingga Rp17.850.

Tekanan eksternal: konflik Iran-AS kembali memanas

Dari sisi eksternal, pasar dibayangi oleh laporan militer AS yang kembali melancarkan serangan ke lokasi peluncuran rudal dan kapal penebar ranjau di Iran selatan. AS mengklaim aksi tersebut dilakukan untuk “membela diri”, sementara gencatan senjata dengan Iran disebut masih berlaku.

Ketidakpastian meningkat karena respons Teheran belum jelas, sementara setiap eskalasi baru dinilai berpotensi mengganggu proses negosiasi damai yang sebelumnya dikabarkan mulai mengarah pada kesepakatan kerangka kerja, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz.

Di sisi lain, pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengisyaratkan kemajuan negosiasi dengan Iran turut bercampur dengan bantahan dari Teheran terkait rencana pelepasan uranium, sehingga pasar tetap berada dalam kondisi tidak pasti.

Situasi ini ikut menopang penguatan dolar AS di tengah meningkatnya permintaan aset aman, meski harga minyak sempat terkoreksi akibat spekulasi meredanya konflik.

Tekanan internal: pelemahan rupiah mulai berdampak ke industri

Dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti mulai meningkatnya dampak pelemahan rupiah terhadap sektor riil. Menurutnya, tekanan nilai tukar yang tidak menentu berpotensi memperburuk biaya produksi, terutama industri yang bergantung pada bahan baku impor.

“Krisis kepercayaan yang berdampak terhadap krisis ekonomi sudah mulai nampak di depan mata akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang belum jelas sampai kapan pelemahan ini akan terjadi,” kata Ibrahim.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut telah meningkatkan biaya produksi perusahaan dan mendorong risiko pemutusan hubungan kerja (PHK), terutama di sektor elektronik, otomotif, hingga tekstil.

Sejumlah kasus PHK telah terjadi dalam satu bulan terakhir, termasuk penutupan operasional PT Xacti Indonesia di Depok yang berdampak pada sekitar 350 pekerja. Di sektor otomotif, CV Asri di Sidoarjo juga melakukan PHK terhadap sekitar 200 pekerja akibat penurunan penjualan.

Tekanan juga meluas ke industri tekstil, garmen, dan alas kaki, dengan potensi PHK di sektor formal disebut dapat mencapai sekitar 9.000 pekerja dalam tiga bulan ke depan. Sementara itu, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 15.425 pekerja terdampak PHK sepanjang Januari hingga April 2026.

Ke depan, pasar diperkirakan masih akan bergerak sensitif terhadap perkembangan geopolitik global serta arah kebijakan moneter AS, dengan rupiah berpotensi tetap berada dalam tekanan jangka pendek di kisaran yang telah diproyeksikan.