Periskop.id - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengingatkan, budaya kompetisi yang berlebihan di lingkungan sekolah dapat memunculkan tekanan sosial hingga perilaku perundungan terhadap siswa. Salah satu pemicunya, menurut dia, adalah praktik perbandingan capaian akademik melalui sistem ranking atau peringkat siswa.
Dalam Seminar Budaya Sekolah Aman dan Nyaman di Gedung A Kemendikdasmen, Jakarta Pusat, Senin (25/5), Mu’ti mengatakan, sekolah ideal bukan hanya menyediakan fasilitas belajar yang baik, tetapi juga menciptakan ruang sosial yang sehat bagi peserta didik.
"Aman itu juga aman secara sosial dan aman secara psikologis, karena seringkali kita melihat sekolah-sekolah kita ini secara sosial juga belum cukup aman," kata Mu'ti.
Ia menjelaskan, tekanan akibat perbandingan kemampuan akademik antarsiswa sering kali menimbulkan komentar merendahkan yang berujung pada bullying. Kondisi itu, menurutnya, perlu menjadi perhatian serius dunia pendidikan. “Misalnya yang sudah besar tidak bisa mengerjakan soal yang kecil, yang gede, kok gak bisa, ini yang kecil saja bisa, itu kan tidak sehat,” ujarnya.
Mu’ti menilai guru memiliki peran penting dalam membangun pola pikir siswa agar tidak menjadikan angka, nilai, maupun ranking sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan belajar. Karena itu, Kemendikdasmen mulai mendorong pendekatan pembelajaran berbasis deep learning yang lebih menekankan pemahaman, proses belajar, dan pengembangan karakter dibanding sekadar capaian angka akademik.
Menurut dia, keamanan intelektual dan psikologis menjadi fondasi penting dalam menciptakan sekolah yang inklusif. Jika siswa terus berada dalam tekanan kompetisi yang tidak sehat, maka proses belajar berisiko kehilangan makna dan justru memunculkan kecemasan sosial.
Tantangan Serius
Isu perundungan di sekolah memang masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Berdasarkan data Survei Lingkungan Belajar Kementerian Pendidikan pada beberapa tahun terakhir, praktik bullying masih ditemukan di berbagai jenjang pendidikan, baik dalam bentuk verbal, sosial, hingga kekerasan fisik.
Sementara itu, laporan Programme for International Student Assessment (PISA) OECD sebelumnya juga menunjukkan, tingkat perundungan siswa Indonesia masih tergolong tinggi dibanding sejumlah negara lain.
Pemerintah belakangan terus mendorong penguatan budaya sekolah ramah anak sebagai bagian dari transformasi pendidikan nasional. Selain menekan kekerasan dan diskriminasi, kebijakan itu juga diarahkan untuk membangun suasana belajar yang lebih kolaboratif dan sehat secara mental.
Sebelumnya, Kemendikdasmen juga menekankan pentingnya penguatan pendidikan karakter serta kesehatan mental peserta didik di tengah meningkatnya tekanan sosial pada anak usia sekolah. Sejumlah sekolah mulai diarahkan untuk memperkuat layanan konseling dan membangun budaya apresiasi yang tidak hanya berfokus pada siswa berprestasi akademik.
Mu’ti berharap perubahan paradigma pendidikan dapat mengurangi praktik saling merendahkan di sekolah sekaligus membentuk generasi yang lebih sehat secara emosional. “Karena seringkali kita melihat sekolah-sekolah kita ini secara sosial juga belum cukup aman,” ujarnya sembali menegaskan pentingnya budaya sekolah yang nyaman bagi semua siswa.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar