Periskop.id - OJK menilai pertumbuhan tabungan pelajar menjadi sinyal positif meningkatnya literasi dan inklusi keuangan di kalangan anak muda Indonesia. Program Satu Rekening Satu Pelajar (Kejar) disebut menjadi salah satu motor utama yang mendorong kenaikan jumlah rekening pelajar dalam beberapa tahun terakhir.

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK Dicky Kartikoyono mengatakan, capaian program Kejar saat ini telah mencapai 88,36%.

"Secara tren, jumlah rekening pelajar juga terus menunjukkan peningkatan, yakni tumbuh sebesar 1,25% secara tahunan atau year on year (yoy)," kata Dicky, Minggu (24/5) seperti dilansir Antara.

Menurut OJK, peningkatan jumlah rekening pelajar menunjukkan semakin banyak siswa yang mulai terhubung dengan sistem perbankan formal. Meski nominal tabungan pelajar masih relatif kecil dibanding total Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan nasional, keberadaan rekening tersebut dinilai strategis untuk memperluas basis nasabah perbankan jangka panjang.

Selain itu, program tabungan pelajar juga dipandang penting untuk membangun kebiasaan mengelola keuangan sejak dini di tengah meningkatnya konsumsi digital generasi muda. Dicky menjelaskan nilai simpanan pelajar memang bersifat dinamis, karena dipengaruhi aktivitas transaksi dan pola menabung siswa. Namun secara umum, tren pertumbuhan tabungan masih bergerak positif.

"OJK optimistis tren positif ini akan terus berlanjut hingga akhir tahun 2026, didukung oleh penguatan Program Kejar, peningkatan literasi dan inklusi keuangan, serta sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan," tuturnya. 

Program Kejar
Program Kejar sendiri merupakan inisiatif OJK yang diluncurkan sejak 2020 dalam rangka Hari Indonesia Menabung. Program tersebut bertujuan mendorong setiap pelajar di Indonesia memiliki rekening tabungan sendiri sebagai sarana edukasi pengelolaan keuangan.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah dan industri perbankan memang semakin agresif memperluas akses layanan keuangan kepada pelajar melalui pembukaan rekening sederhana, digital banking, hingga integrasi layanan ke sekolah-sekolah.

Bank Indonesia sebelumnya juga beberapa kali menekankan pentingnya peningkatan literasi keuangan generasi muda, untuk menghadapi perkembangan ekonomi digital yang semakin pesat. Rendahnya pemahaman keuangan sejak usia muda dinilai dapat meningkatkan risiko perilaku konsumtif dan jeratan pinjaman ilegal di masa depan.

Karena itu, OJK menyebut fokus penguatan program ke depan tidak hanya pada penambahan jumlah rekening, tetapi juga mendorong rekening pelajar lebih aktif digunakan untuk menabung dan transaksi keuangan sehat. Dengan jumlah rekening yang kini mencapai lebih dari 59 juta, OJK berharap budaya menabung di kalangan pelajar dapat menjadi fondasi penting bagi penguatan stabilitas keuangan masyarakat Indonesia di masa mendatang.