Periskop.id - Banyak orang selama ini meyakini bahwa menahan asupan makanan atau berpuasa dapat berdampak buruk pada kemampuan berpikir dan konsentrasi. 

Anggapan bahwa perut kosong akan membuat pikiran menjadi kabur sering kali diperkuat oleh iklan-iklan camilan maupun jargon yang menyebut bahwa sarapan adalah waktu makan paling penting untuk menunjang aktivitas mental.

Namun, sebuah riset komprehensif yang dipublikasikan dalam jurnal Psychological Bulletin pada 2025 memberikan kabar baik bagi para pejuang diet maupun pelaku puasa intermiten. 

Berdasarkan analisis mendalam terhadap 63 artikel ilmiah yang mencakup 71 studi independen dengan total 3.484 peserta, para peneliti menemukan bahwa tidak ada perbedaan yang berarti dalam performa berpikir antara orang yang sedang berpuasa dan mereka yang makan secara teratur.

Mengutip Science Alert, temuan ini menjadi bantahan ilmiah yang kuat terhadap gagasan bahwa pembatasan makan jangka pendek akan menguras cadangan energi mental pada orang dewasa yang sehat.

Fungsi Kognitif Tetap Stabil Selama 12 Jam

Dua peneliti di balik analisis besar ini adalah psikolog Christoph Bamberg dari Paris Lodron University di Austria dan ahli neurosains kognitif David Moreau dari University of Auckland di Selandia Baru. 

Mereka ingin memastikan bahwa orang-orang yang ingin mengambil manfaat kesehatan dari puasa tidak perlu merasa ragu hanya karena takut produktivitas mental mereka menurun.

David Moreau menjelaskan bahwa temuan ini memberikan jaminan keamanan bagi masyarakat umum.

"Bagi sebagian besar orang dewasa yang sehat, temuan ini memberikan rasa aman. Anda dapat mencoba puasa intermiten atau protokol puasa lainnya tanpa perlu khawatir ketajaman mental Anda akan menghilang," ujar Moreau dalam komentarnya untuk The Conversation.

Dalam penelitian ini, para ilmuwan mengukur berbagai kemampuan kognitif, mulai dari daya ingat, cara mengambil keputusan, hingga seberapa cepat dan akurat seseorang merespons sesuatu. Dengan durasi puasa rata-rata 12 jam, skor kemampuan berpikir para peserta terbukti tidak mengalami perubahan yang signifikan.

Faktor Usia dan Tantangan Gambar Makanan

Meski memberikan hasil positif secara umum, para peneliti memberikan beberapa catatan penting yang perlu diperhatikan oleh masyarakat awam. Penurunan performa berpikir ringan mulai terlihat jika durasi puasa melebihi angka 12 jam.

Selain itu, dampak negatif lebih nyata ditemukan pada anak-anak dan remaja. Hal ini mengisyaratkan bahwa otak yang masih dalam masa pertumbuhan sangat membutuhkan asupan energi yang stabil dari makanan. Oleh karena itu, pola makan tiga kali sehari secara teratur tetap menjadi prioritas utama bagi kelompok usia muda.

Hal menarik lainnya yang ditemukan dalam studi ini adalah fokus otak saat sedang lapar. Penurunan ketajaman berpikir justru paling sering terjadi ketika seseorang diberikan tugas yang berkaitan dengan makanan.

"Defisit performa sering kali terlihat hanya pada tugas yang melibatkan rangsangan terkait makanan, seperti melihat gambar makanan atau memproses kata-kata yang berhubungan dengan makanan. Sebaliknya, performa pada tugas yang menggunakan konten netral sebagian besar tidak terpengaruh," jelas Moreau.

Ia menambahkan bahwa rasa lapar kemungkinan besar hanya mengalihkan perhatian otak pada hal-hal yang relevan dengan keinginan untuk makan, namun fungsi otak secara umum untuk menjalankan tugas harian tetap stabil.

Perubahan Energi dan Saran Medis

Secara ilmiah, tubuh manusia mengalami perubahan sumber energi saat sedang berpuasa. Ketika cadangan gula (glikogen) menipis, tubuh mulai membakar lemak lebih luas dan mengubahnya menjadi paket energi yang disebut badan keton. 

Perubahan metabolisme ini juga sering dikaitkan dengan perbaikan kesehatan jantung dan penurunan peradangan dalam tubuh.

Namun, para peneliti juga mencatat bahwa orang yang berpuasa cenderung menunjukkan penurunan konsentrasi jika menjalani tes kognitif pada sore hari. Hal ini kemungkinan terjadi karena rasa lapar memperkuat rasa lemas alami tubuh yang mengikuti ritme jam biologis manusia pada waktu tersebut.

Sebagai kesimpulan, Moreau mengingatkan bahwa puasa bukanlah sebuah aturan yang kaku dan berlaku sama untuk semua orang.

"Pesan utama dari temuan ini adalah memberi rasa aman: performa kognitif tetap stabil selama puasa jangka pendek. Ini menunjukkan bahwa sebagian besar orang dewasa sehat tidak perlu khawatir puasa sementara akan memengaruhi ketajaman mental atau kemampuan mereka menjalankan tugas harian," pungkas Moreau.

Ia tetap menyarankan agar puasa dipandang sebagai alat pribadi yang penggunaannya sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan tenaga medis, terutama bagi mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.