Periskop.id - Piala Dunia 2026 menyisakan banyak momen emosional yang membekas di hati para pencinta sepak bola seluruh dunia. 

Salah satu pemandangan yang paling sering kita lihat di layar kaca adalah runtuhnya pertahanan emosional para atlet pria bertubuh kekar yang menangis tersedu-sedu setelah tim mereka dipastikan tersingkir dari kompetisi. 

Bagi sebagian orang awam, fenomena ini mungkin terasa kontradiktif dengan anggapan umum bahwa pria harus selalu terlihat tangguh dan menahan air mata.

Namun, sebuah studi yang dipublikasikan pada 2019 dalam jurnal Frontiers in Psychology berhasil mengupas alasan psikologis di balik fenomena tersebut. 

Melalui artikel berjudul Beliefs About Emotion Are Tied to Behavior: The Case of Men’s Crying in Competitive Sports, penelitian ini membongkar bagaimana ruang publik, seperti arena olahraga kompetitif tingkat dunia, memberikan semacam perlindungan sosial bagi pria untuk bebas mengekspresikan kesedihan mereka tanpa takut dihakimi.

Arena Maskulin Sebagai Perisai dari Penghakiman Sosial

Selama ini, masyarakat kita dikepung oleh stereotipe gender yang mendikte bahwa pria tidak boleh dan tidak pantas untuk menangis. 

Stereotipe gender sendiri merupakan pandangan baku atau pelabelan sepihak mengenai sifat dan perilaku yang dianggap hanya layak dimiliki oleh jenis kelamin tertentu. 

Akibat tuntutan ini, banyak pria yang akhirnya memilih untuk memendam emosi mereka rapat-rapat dalam kehidupan sehari-hari agar tidak dianggap lemah.

Melalui rangkaian eksperimen yang melibatkan ratusan partisipan, studi ini menemukan fakta unik bahwa penilaian masyarakat terhadap pria yang menangis sangat bergantung pada lingkungan tempat mereka berada. 

Ketika seorang pria menangis di lingkungan yang dianggap sangat maskulin, seperti profesi petugas pemadam kebakaran atau cabang olahraga angkat besi, masyarakat justru menilainya secara positif.

Fenomena inilah yang menjelaskan mengapa para bintang lapangan hijau di Piala Dunia 2026 tidak ragu menumpahkan air mata mereka di depan jutaan pasang mata. Lapangan sepak bola merupakan ruang yang dipersepsikan memiliki tingkat maskulinitas yang sangat tinggi. 

Citra maskulin yang melekat pada olahraga ini berfungsi sebagai perisai yang membentengi para atlet pria dari konsekuensi negatif atau ejekan yang biasanya didapatkan ketika mereka melanggar stereotipe gender di luar lapangan, seperti masalah percintaan.

Menangis yang Dianggap Tepat Secara Emosional

Riset ini juga menggunakan analisis mediasi, sebuah istilah teknis dalam statistik untuk metode yang digunakan guna melihat bagaimana suatu faktor bisa memengaruhi faktor lain melalui variabel perantara.

Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa atlet pria yang menangis di arena olahraga yang stereotipenya maskulin dinilai memiliki ketepatan emosional yang tinggi, kuat secara emosional, dan tetap memiliki status sosial yang terhormat.

Kebebasan ini sayangnya tidak serta-merta didapatkan oleh pria yang berada di lingkungan yang dianggap feminin, seperti perawat atau atlet seluncur indah. Pria di lingkungan tersebut cenderung dinilai lebih negatif saat menangis karena mereka dianggap tidak maskulin. 

Hal ini menunjukkan adanya konformitas emosional, yaitu kecenderungan seseorang untuk menyesuaikan ekspresi perasaan mereka dengan aturan tersembunyi yang berlaku di lingkungan sekitarnya.

Secara sadar atau tidak, para atlet pria di Piala Dunia memahami aturan sosial ini. Mereka tahu bahwa menangis setelah berjuang mati-matian lalu kalah dalam kompetisi olahraga yang sangat maskulin adalah hal yang sah dan manusiawi. 

Pada akhirnya, tetesan air mata di rumput hijau Piala Dunia 2026 membuktikan bahwa di balik fisik yang prima dan reputasi yang besar, para atlet tetaplah manusia biasa yang memiliki ruang untuk melepaskan kesedihan dengan cara yang terhormat.