Periskop.id - Ada satu fase dalam hidup perempuan yang sering datang diam diam. Dari luar kelihatannya baik-baik saja, masih bisa kerja, masih bisa membalas pesan, masih bisa tersenyum, masih bisa mengurus banyak hal.
Tapi di dalam hati, ada rasa lelah yang susah dijelaskan. Seolah hidup terlalu penuh oleh ekspektasi orang lain, sementara kebutuhan diri sendiri pelan-pelan terselip di pojok paling belakang.
Di titik inilah perempuan perlu berhenti sejenak, bukan untuk menyerah, tapi untuk menyadari bahwa dirinya juga pantas menjadi prioritas dalam hidupnya sendiri.
Mindset shift biar perempuan lebih fokus sama diri sendiri bukan berarti berubah jadi egois, dingin, atau tidak peduli. Justru ini tentang pulang ke diri sendiri dengan lebih sadar. Tentang belajar bertanya, aku sebenarnya butuh apa, aku ingin hidup seperti apa, dan hal apa yang selama ini terlalu sering aku abaikan demi terlihat baik-baik saja.
Perempuan tidak harus menunggu hancur dulu untuk mulai merawat dirinya. Fokus sama diri sendiri adalah bentuk tanggung jawab emosional, mental, dan fisik.
WHO mendefinisikan perawatan diri sebagai kemampuan individu, keluarga, dan komunitas untuk menjaga kesehatan, mencegah penyakit, mempertahankan kesehatan, serta menghadapi kondisi sakit, dengan atau tanpa bantuan tenaga kesehatan. Artinya, merawat diri bukan kemewahan, melainkan bagian penting dari hidup yang sehat.
Kenapa Perempuan Sering Lupa Sama Dirinya Sendiri?
Banyak perempuan tumbuh dengan pesan halus bahwa menjadi baik berarti selalu tersedia. Harus peka, harus kuat, harus mengalah, harus bisa mengurus semuanya, harus tetap cantik, harus tetap produktif, harus bisa memahami orang lain bahkan saat dirinya sendiri sedang berantakan.
Masalahnya, ketika perempuan terlalu lama hidup untuk memenuhi harapan orang lain, ia bisa kehilangan koneksi dengan dirinya sendiri. Ia jadi terbiasa bertanya apa yang orang lain butuhkan, tapi jarang bertanya apa yang tubuh dan hatinya sendiri perlukan.
Ini bukan sekadar perasaan personal. UN Women mencatat bahwa perempuan di seluruh dunia melakukan 16 miliar jam pekerjaan perawatan tanpa upah setiap hari, seperti memasak, membersihkan rumah, mengambil air, merawat anak, lansia, atau anggota keluarga yang membutuhkan bantuan.
Data yang sama juga menunjukkan perempuan secara global menghabiskan sekitar 2,5 jam lebih banyak per hari dibanding laki-laki untuk pekerjaan domestik dan perawatan tanpa upah.
Jadi ketika banyak perempuan merasa waktunya habis untuk semua orang, itu bukan drama. Ada struktur sosial, kebiasaan keluarga, dan ekspektasi budaya yang sering membuat perempuan memikul beban emosional serta domestik lebih besar.
Karena itu, mindset shift menjadi penting. Bukan untuk melawan semua orang, tapi untuk mulai berhenti meninggalkan diri sendiri.
Mindset Lama Yang Perlu Dilepas Pelan-Pelan
Mindset lama yang sering melekat pada perempuan adalah keyakinan bahwa nilai diri ditentukan dari seberapa banyak ia bisa menyenangkan orang lain.
Ketika semua orang nyaman, baru ia merasa dirinya cukup. Ketika tidak ada yang kecewa, baru ia merasa aman. Padahal hidup yang terus dijalani dengan pola seperti ini bisa membuat hati penuh tekanan.
Perempuan perlu mulai melepas pikiran bahwa berkata tidak adalah tanda tidak sayang. Tidak semua undangan harus diiyakan. Tidak semua permintaan harus dipenuhi. Tidak semua masalah orang lain harus ikut dipikul sampai mengorbankan tidur, kesehatan, dan ketenangan sendiri.
Mindset lama lainnya adalah merasa harus selalu kuat. Padahal kuat bukan berarti tidak pernah menangis. Kuat juga bisa berarti jujur bahwa sedang lelah. Kuat bisa berarti berani istirahat sebelum tubuh memaksa berhenti. Kuat bisa berarti tidak lagi memaksa diri tampil sempurna saat hati sebenarnya butuh ruang.
Mindset baru yang perlu dibangun adalah percaya bahwa diri sendiri juga layak diprioritaskan. Bukan nanti setelah semua selesai. Bukan nanti setelah semua orang bahagia. Bukan nanti setelah hidup terasa lebih longgar. Tapi sekarang, di tengah rutinitas yang belum tentu ideal.
Fokus sama diri sendiri bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana, seperti tidur lebih cukup, makan dengan lebih sadar, serta menolak percakapan yang menguras energi.
Sebagai perempuan, perlu pula mengurangi kebiasaan membandingkan hidup dengan perempuan lain. Berillah sedikit ruang bagi diri untuk belajar, berdoa, menulis jurnal, olahraga ringan, atau sekadar duduk tenang tanpa merasa harus produktif.
Kemenkes RI menyebutkan bahwa kesehatan mental memengaruhi cara seseorang berpikir, merasa, dan berperilaku dalam menjalani kehidupan.
Kemenkes juga merekomendasikan pola hidup sehat, pengelolaan stres, istirahat yang cukup, serta tetap terhubung dengan orang lain sebagai cara menjaga kesehatan mental.
Jadi, saat perempuan mulai memilih dirinya sendiri, itu bukan tindakan manja. Itu cara menjaga agar hidup tetap punya fondasi yang sehat.
Belajar Bilang Tidak Tanpa Merasa Bersalah
Salah satu mindset shift paling besar bagi perempuan adalah belajar mengatakan tidak. Bukan tidak yang kasar, bukan tidak yang penuh marah, tapi tidak yang tenang dan jelas.
Banyak perempuan merasa bersalah ketika menolak sesuatu. Takut dibilang berubah, takut dianggap sombong, takut mengecewakan, takut tidak disukai. Tapi batasan yang sehat justru membantu hubungan berjalan lebih jujur.
Mayo Clinic Health System menjelaskan bahwa batasan yang tidak sehat sering muncul dari keyakinan bahwa seseorang tidak bisa berkata tidak. Menghargai kata tidak sama pentingnya dengan menghargai kata ya dalam membangun batasan yang sehat.
Harvard Health juga menjelaskan bahwa menetapkan batasan dapat membantu hubungan yang sulit menjadi lebih sehat, karena seseorang tetap bisa hadir untuk orang lain sambil memiliki batas agar hubungan tidak terasa terlalu melelahkan.
Bagi perempuan, ini penting banget. Karena terkadang yang membuat lelah bukan hanya aktivitas, tapi kebiasaan mengiyakan sesuatu yang sebenarnya sudah ditolak tubuh sejak awal.
Berhenti Menjadikan Validasi Orang Lain Sebagai Rumah
Disukai itu menyenangkan, dipuji itu membuat hangat, diterima itu manusiawi, tapi kalau seluruh rasa berharga hanya bergantung pada respons orang lain, hidup akan terasa rapuh sekali.
Mindset shift yang perlu dipeluk adalah menyadari bahwa validasi terbaik tetap harus tumbuh dari dalam. Perempuan boleh senang saat diapresiasi, tapi jangan sampai kehilangan arah saat tidak dipuji. Perempuan boleh menerima cinta dari luar, tapi jangan sampai lupa membangun cinta dari dalam.
Self compassion atau sikap welas asih kepada diri sendiri punya peran penting di sini. American Psychological Association menjelaskan bahwa memperlakukan diri sendiri dengan belas kasih seperti kita memperlakukan teman dapat memberi manfaat bagi kesehatan fisik, hubungan, dan kesejahteraan.
Artinya, perempuan tidak harus terus mengkritik dirinya agar bisa berkembang. Kadang yang paling dibutuhkan justru suara batin yang lebih lembut. Bukan kamu kurang, tapi kamu sedang belajar. Bukan kamu gagal, tapi kamu sedang bertumbuh.
Media sosial juga sering membuat perempuan merasa hidup orang lain lebih rapi, lebih cantik, lebih sukses, lebih dicintai, lebih mapan, dan lebih bahagia. Padahal yang terlihat di layar hanyalah potongan kecil yang sudah dipilih.
Mindset shift biar perempuan lebih fokus sama diri sendiri berarti berhenti menjadikan hidup orang lain sebagai standar tunggal.
Setiap perempuan punya musimnya sendiri. Ada yang sedang membangun karier, ada yang sedang memulihkan diri, ada yang sedang belajar menerima tubuhnya, ada yang sedang memulai lagi dari nol, serta ada yang sedang memilih diam karena butuh damai.
Rasa cukup bukan berarti berhenti punya mimpi. Rasa cukup berarti tidak lagi menghina diri sendiri hanya karena perjalanan kita tidak sama dengan orang lain.
Perempuan sering diajarkan untuk melihat tubuh dari kaca, bukan dari rasa. Apakah cukup langsing, cukup putih, cukup muda, cukup menarik. Padahal tubuh bukan hanya sesuatu yang dilihat. Tubuh adalah rumah yang membawa kita melewati banyak hal.
Mindset baru yang lebih sehat adalah mendengarkan tubuh. Apakah tubuh lelah, apakah tubuh butuh gerak, apakah tubuh butuh tidur, apakah tubuh butuh makanan yang lebih bernutrisi, dan apakah tubuh butuh berhenti dari ritme yang terlalu memaksa.
National Institute of Mental Health merekomendasikan beberapa cara merawat kesehatan mental, termasuk olahraga teratur. Berjalan kaki 30 menit setiap hari dapat membantu meningkatkan suasana hati dan kesehatan.
Sumber yang sama juga menyarankan makan teratur dan sehat, tidur cukup, melakukan aktivitas yang menenangkan, menetapkan tujuan, mempraktikkan rasa syukur, serta tetap terhubung dengan orang lain.
Jadi, fokus sama diri sendiri juga berarti membangun hubungan yang lebih hangat dengan tubuh. Bukan hanya mengejar bentuk, tapi menjaga fungsi, energi, dan kenyamanan di dalamnya.
Berani Punya Mimpi yang Benar-Benar Milik Sendiri
Kadang perempuan tidak kehilangan mimpi. Ia hanya terlalu lama menunda mimpinya karena sibuk memenuhi rencana orang lain.
Ada yang ingin belajar hal baru tapi merasa sudah terlambat, ada yang ingin pindah karier tapi takut dianggap tidak stabil, ada yang ingin hidup lebih pelan tapi takut dibilang tidak ambisius, dan ada yang ingin lebih ambisius tapi takut dianggap terlalu keras.
Mindset shift yang cantik adalah memberi izin pada diri sendiri untuk bertumbuh. Stanford menjelaskan bahwa growth mindset adalah kemampuan melihat kegagalan sebagai kesempatan untuk belajar dan berkembang.
Dengan pola pikir ini, seseorang lebih mungkin mencoba strategi baru, meningkatkan usaha, dan menghadapi tantangan dengan lebih terbuka.
Perempuan boleh berubah arah, boleh memulai lagi, serta boleh punya versi hidup yang berbeda dari ekspektasi keluarga, pasangan, teman, atau lingkungan. Selama pilihan itu sadar, sehat, dan tidak merusak diri, ia layak diperjuangkan.
Mulailah dengan bertanya pada diri sendiri setiap pagi, apa yang aku butuhkan hari ini agar bisa menjalani hari dengan lebih utuh. Pertanyaan sederhana ini bisa mengubah cara perempuan memulai hari. Bukan langsung mengecek pesan orang lain, bukan langsung memikirkan tugas semua orang, tapi menyapa diri sendiri dulu.
Lalu, perhatikan energi. Ada orang yang membuat kita merasa aman, ada juga yang membuat kita selalu merasa kecil.
Ada pekerjaan yang menantang tapi menumbuhkan, ada juga yang terus menguras tanpa ruang pulih. Ada kebiasaan yang terlihat sepele tapi diam-diam merusak, seperti terlalu sering membandingkan diri, tidur terlalu larut, atau memendam perasaan agar tidak merepotkan siapa pun.
Fokus sama diri sendiri juga bisa dilakukan dengan membuat ruang tenang. Tidak harus mahal dan tidak harus liburan jauh, bisa berupa mandi lebih lama tanpa terburu buru.
Bisa pula menulis isi kepala sebelum tidur, jalan pagi sebentar, merapikan kamar, hingga mengurangi konsumsi konten yang memicu insecure. Mengatakan kepada diri sendiri bahwa hidup tidak harus selalu dikejar dengan napas tersengal.
Yang paling penting, lakukan dengan lembut. Perubahan mindset tidak harus dramatis. Tidak perlu langsung menjadi perempuan baru dalam semalam, cukup mulai dari satu pilihan kecil yang lebih berpihak pada diri sendiri.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar