Periskop.id - Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) memproyeksikan potensi ekonomi kurban nasional pada 2026 sedikit melemah dibandingkan 2025. Penurunan terutama terlihat dari sisi volume hewan kurban dan jumlah daging yang dihasilkan, meski nilai ekonominya masih tetap besar.
Dalam laporan Policy Brief Mei 2026: Peta Ekonomi Kurban 2026, IDEAS memperkirakan jumlah rumah tangga shahibul qurban atau rumah tangga yang berkurban turun dari 1,92 juta pada 2025 menjadi 1,90 juta rumah tangga pada 2026. Penurunan ini relatif tipis, tetapi dinilai dapat menjadi sinyal adanya perlambatan ekonomi yang memengaruhi kemampuan sebagian masyarakat untuk berkurban.
Secara total, jumlah hewan kurban nasional diperkirakan turun dari 1,6 juta ekor pada 2025 menjadi 1,59 juta ekor pada 2026. Penurunan juga terlihat pada total daging kurban, dari 101,14 ribu ton menjadi 99,29 ribu ton. Dengan demikian, total daging kurban diperkirakan berkurang sekitar 1,85 ribu ton.
Dari sisi nilai ekonomi, IDEAS memperkirakan nilai kurban nasional turun tipis dari Rp27,1 triliun pada 2025 menjadi Rp26,89 triliun pada 2026. Penurunan sekitar Rp210 miliar ini tidak terlalu besar secara persentase, tetapi menunjukkan bahwa ekspansi ekonomi kurban tidak sekuat sebelumnya.
Rinciannya, jumlah sapi kurban diperkirakan turun dari 503,35 ribu ekor pada 2025 menjadi 493,18 ribu ekor pada 2026. Artinya, ada penurunan sekitar 10,17 ribu ekor sapi. Meski volumenya turun, nilai ekonomi kurban sapi justru naik dari Rp19,15 triliun menjadi Rp19,87 triliun.
Kenaikan nilai ekonomi sapi ini menunjukkan bahwa harga sapi masih menopang nilai kurban nasional. Dengan nilai Rp19,87 triliun, segmen sapi menyumbang hampir 74 persen dari total nilai ekonomi kurban 2026. Hal ini memperlihatkan bahwa meskipun jumlah sapi kurban berkurang, kontribusinya tetap dominan karena nilai per ekornya lebih tinggi dibanding kambing dan domba.
Sementara itu, jumlah kambing dan domba kurban diperkirakan turun dari 1,1 juta ekor menjadi 1,09 juta ekor. Nilai ekonominya juga turun dari Rp7,95 triliun menjadi Rp7,02 triliun. Penurunan nilai pada segmen kambing dan domba ini lebih dalam dibandingkan penurunan jumlah hewannya.
IDEAS menilai dinamika di segmen kambing dan domba lebih beragam. Dalam beberapa kategori bobot, terutama kambing atau domba 40 kilogram dan 20 kilogram, jumlah hewan justru mengalami peningkatan. Kondisi ini mengindikasikan adanya perubahan pola pembelian masyarakat, dari sisi pilihan bobot hewan maupun penyesuaian terhadap harga di pasar.
Laporan tersebut juga memperkirakan daging kurban sapi turun dari 85,8 ribu ton pada 2025 menjadi 84,08 ribu ton pada 2026. Sementara itu, daging kurban kambing dan domba turun tipis dari 15,34 ribu ton menjadi 15,22 ribu ton.
IDEAS menyebut penggerak utama ekonomi kurban tidak hanya ditentukan oleh jumlah hewan, tetapi juga nilai ekonomi per ekor. Karena itu, meskipun jumlah sapi kurban lebih sedikit dibanding kambing dan domba, kontribusinya terhadap ekonomi kurban nasional tetap lebih besar.
Penurunan total hewan kurban yang relatif tipis juga menunjukkan adanya perubahan perilaku masyarakat dalam berkurban. Masyarakat dinilai masih berupaya mempertahankan ibadah kurban, tetapi cenderung memilih hewan dengan harga yang lebih terjangkau atau lebih ekonomis, terutama pada kategori kambing dan domba.
Fenomena ini dapat menjadi sinyal bahwa daya beli kelas menengah bawah mulai mengalami tekanan. Kenaikan harga pangan, biaya hidup, dan tekanan terhadap pendapatan riil rumah tangga membuat masyarakat lebih selektif dalam mengalokasikan pengeluaran, termasuk untuk kebutuhan sosial keagamaan seperti kurban.
Meski begitu, IDEAS menilai ibadah kurban tetap memiliki ketahanan sosial yang kuat. Di tengah tekanan ekonomi, masyarakat masih menunjukkan partisipasi, meski pola partisipasinya mulai berubah mengikuti kemampuan finansial masing-masing.
Laporan ini juga menekankan pentingnya menjaga keterjangkauan harga hewan kurban, memperkuat distribusi ternak, serta mengembangkan skema kurban kolektif. Upaya tersebut dinilai penting agar partisipasi masyarakat tetap terjaga dan manfaat daging kurban dapat menjangkau lebih banyak kelompok penerima, terutama di wilayah dengan tingkat kecukupan daging yang masih rendah.
Berikut adalah ringkasan potensi ekonomi kurban 2026 dan perbandingannya dengan tahun sebelumnya menurut prediksi IDEAS:
| Indikator | 2025 | 2026 |
|---|---|---|
| Jumlah rumah tangga shahibul qurban | 1,92 juta RT | 1,90 juta RT |
| Jumlah sapi kurban | 503,35 ribu ekor | 493,18 ribu ekor |
| Jumlah kambing dan domba kurban | 1,1 juta ekor | 1,09 juta ekor |
| Total hewan kurban | 1,6 juta ekor | 1,59 juta ekor |
| Nilai kurban sapi | Rp19,15 triliun | Rp19,87 triliun |
| Nilai kurban kambing | Rp7,95 triliun | Rp7,02 triliun |
| Nilai kurban total | Rp27,1 triliun | Rp26,89 triliun |
| Daging kurban sapi | 85,8 ribu ton | 84,08 ribu ton |
| Daging kurban kambing | 15,34 ribu ton | 15,22 ribu ton |
| Jumlah keseluruhan daging kurban | 101,14 ribu ton | 99,29 ribu ton |
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar