Periskop.id - Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) menilai ibadah kurban tidak hanya perlu dilihat dari sisi jumlah hewan atau nilai ekonominya, tetapi juga dari perannya dalam memperluas akses masyarakat terhadap protein hewani.
Dalam Policy Brief Mei 2026: Peta Ekonomi Kurban 2026, IDEAS menyoroti masih tajamnya ketimpangan konsumsi daging sapi dan kambing antarkelompok pengeluaran di Indonesia.
IDEAS menyebut persoalan utama konsumsi daging di Indonesia bukan hanya rendahnya tingkat konsumsi secara umum, tetapi juga distribusinya yang tidak merata.
Konsumsi daging sapi dan kambing meningkat seiring naiknya tingkat pengeluaran rumah tangga. Dengan kata lain, semakin tinggi kemampuan ekonomi sebuah rumah tangga, semakin besar pula peluang mereka mengonsumsi daging merah.
Laporan tersebut menunjukkan kelompok pengeluaran terbawah memiliki konsumsi daging yang sangat rendah. Sebagian besar kelompok miskin dan rentan bahkan hanya mengonsumsi daging pada kisaran mendekati nol hingga di bawah 0,5 kilogram per kapita per tahun.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa kelompok berpengeluaran rendah hampir tidak memiliki akses memadai terhadap daging merah sebagai sumber protein hewani, zat besi, zinc, dan berbagai mikronutrien penting lainnya.
Sebaliknya, kelompok pengeluaran atas tercatat mengonsumsi daging merah hampir 4,5 kilogram per kapita per tahun. Perbedaan ini memperlihatkan bahwa akses terhadap sumber protein hewani masih sangat dipengaruhi oleh daya beli dan kondisi ekonomi rumah tangga.
Berdasarkan simulasi IDEAS, rasio gini konsumsi daging sapi dan kambing Indonesia pada kondisi sebelum rekayasa sosial kurban berada di angka 0,62.
Dalam skala gini 0 sampai 1, angka 0 menunjukkan konsumsi yang merata sempurna, sedangkan angka 1 berarti seluruh konsumsi hanya terkonsentrasi pada satu kelompok. Dengan nilai 0,62, konsumsi daging di Indonesia dinilai sangat tidak merata.
Ketimpangan itu juga terlihat dari distribusi konsumsi antarkelompok. Kelompok 40 persen terbawah hanya menikmati 6,96 persen dari total konsumsi daging sapi dan kambing. Kelompok menengah mengonsumsi 26,39 persen, sementara kelompok 20 persen teratas menikmati porsi terbesar, yakni 66,65 persen.
Data ini memperlihatkan bahwa sebagian besar konsumsi daging merah terkonsentrasi pada kelompok masyarakat dengan pengeluaran tertinggi.
Karena itu, IDEAS menilai kurban dapat berperan sebagai instrumen intervensi pangan bergizi.
“Karena itu, kebijakan kurban 2026 sebaiknya tidak hanya berfokus pada jumlah hewan atau nilai ekonomi kurban, tetapi juga diarahkan untuk memperluas akses konsumsi daging bagi kelompok masyarakat yang paling rendah tingkat konsumsinya,” tulis lembaga riset tersebut dalam laporannya.
Menurut IDEAS, jika distribusi daging kurban diarahkan dengan tepat, terutama kepada kelompok berpengeluaran rendah hingga menengah bawah, kurban tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga dapat membantu mengurangi ketimpangan konsumsi protein hewani.
Laporan tersebut juga menekankan pentingnya mengarahkan distribusi daging kurban ke wilayah defisit daging, kelompok rawan gizi, serta rumah tangga dalam kelas pengeluaran terbawah.
“Distribusi kurban dapat diprioritaskan ke daerah defisit daging, kelompok rawan gizi, serta rumah tangga pada kelas pengeluaran terbawah agar manfaat daging kurban benar-benar menjadi intervensi pangan bergizi yang merata dan bukan sekadar ritual konsumsi tahunan,” saran IDEAS.
Dengan strategi tersebut, manfaat daging kurban dapat lebih tepat sasaran dan tidak hanya terkonsentrasi di wilayah atau kelompok yang sebenarnya sudah memiliki akses konsumsi daging lebih baik.
Dengan demikian, kurban 2026 dipandang memiliki peran sosial yang lebih luas. Selain sebagai ibadah tahunan, kurban juga dapat menjadi bagian dari upaya pemerataan protein hewani dan penguatan ketahanan gizi masyarakat, terutama bagi kelompok miskin dan rentan.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar